Gunung Pesagi, Menapakkan Kaki di Tangga Langit : Puncak Legenda Suku Lampung

6041
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gunung Pesagi foto;ist/kupastuntas.co
Gunung Pesagi
foto;ist/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Barat-Gunung Pesagi adalah gunung yang tertinggi di Lampung. Ketinggiannya mencapai 2.389 Meter diatas permukaan laut, di kaki Gunung Pesagi inilah dipercaya letak kerajaan Sekala Brak, yang merupakan cikal-bakal keturunan suku Lampung.

Gunung Pesagi berada di Kabupaten Lampung Barat. Keindahan dan keaslian alam di sekitar Gunung Pesagi masih terjaga karena gunung ini dipercaya sebagai tangga menuju langit.

Keindahan wilayah Lampung Barat, Danau Ranau, Pemukiman masyarakat OKU, Laut Lepas Krui, dan Laut Lepas Belimbing bisa dinikmati dari puncak mulia Gunung Pesagi.

Keistimewaan puncak Gunung Pesagi adalah memiliki jalur pendakian yang menantang. Selain itu, disepanjang jalur menuju puncak gunung ini keindahan bunga anggrek hutan yang beranekaragam serta beberapa satwa liar menjadi sajian tersendiri dan sekaligus penanda bahwa gunung ini masih amat alami.

Menurut keterangan dari warga sekitar, konon di puncak Pesagi terdapat tujuh sumur yang satu diantaranya kadang mengeluarkan aroma wangi. Akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan air dari tujuh sumur tersebut dan hanya pendaki berhati bersih yang bisa mendapatkanya.

Gunung Pesagi memang kental dengan nuansa religiusnya. Untuk menuju lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum, dari Bandar Lampung menuju kampung Bahway, Liwa dengan lama perjalanan sekitar 6 jam perjalanan, setelah itu berjalan kaki menuju puncak Pesagi

Gunung Pesagi jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di luar Lampung memang dirasa tidak terlalu tinggi. Tetapi gunung tersebut memiliki keunggulan tersendiri dan termasuk kategori gunung yang memiliki jalur menantang, terutama hutannya yang membentuk penyambungan.

Ada beberapa jalur pendakian untuk menuju Gunung Pesagi yaitu: Jalur pertama Desa Bahway, Dusun Way Pematu yang merupakan pos 1 jalur pertama atau kerap disebut dengan jalur “patah hati “ karena jalurnya yang terbilang menantang kerap membuat siapapun patah hati untuk terus mendaki.

Sedangkan, jalur menuju pos ke 2 merupakan jalur pemukiman penduduk Desa Bahway. Jalur ini berupa jalan batu dengan pemandangan alam desa yang khas. Karena dikanan kirinya terdapat aliran sungai, areal persawahan dan perumahan tradisional masyarakat desa.

Waktu tempuh untuk menuju pos 2 ini memakan waktu sekitar 1,5 jam. Di pos 2 dan 3 ini merupakan ujian yang cukup berat karena disinilah pendaki akan melewati sungai dan melewati sedikit perkebunan kopi selanjutnya akan menjumpai sungai untuk yang kedua kalinya, aliran sungai ini cukup deras dan sebaiknya untuk para pendaki agar cukup berhati-hati dan benar- benar mempersiapkan perlengkapan yang mencukupi untuk keamanan.

Setelah melewati sungai terlebih dahulu sebelum menuju pos ke-3, disini akan menemui pintu rimba Gunung Pesagi yang ditandai dengan dua buah pohon besar menjulang tinggi di kiri kanan jalur, namun saat ini kedua pohon tersebut tidak dapat ditemui lagi karena sudah tumbang.

Setelah memasuki pintu tersebut jalur menuju pos 3 berupa tanjakan yang panjang dan licin waktu tempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Pada jalur pos 4 ini pendaki dapat menjumpai tanaman anggrek macan yangindah sepanjang jalur ini. Tanaman ini khas dengan batangnya yang mempunyai bercak hitam putih menyerupai macan.

Selain itu pendaki juga akan menjumpai tanaman kantong semar yang banyak ditemukan sampai ke puncak. Vegetasi hutan akan semakin rapat dengan tanaman pakis rotan yang masih setia tumbuh dengan subur.

Untuk menuju dari pos 4 ke pos 5 butuh waktu tempuh 1 jam. Jalur pos antara 4 dan 5 ini termasuk kategori berbahaya. Pada jalur ini pendaki akan menikmati jalur yang mulai pindah punggung gunung dari punggung satu kepunggung lainnya, sesuai dengan nama gunung ini, yaitu Gunung Pesagi karena gunung ini berbentuk persegi yang menciptakan banyak punggungan dan diantara punggungan adalah lembah sehingga dituntut sangat waspada karena terdapat jurang.

Di jalur pos 5 dan 6 ini adalah merupakan puncak atau jalur yang paling ekstrim karena pada jalur inlah asal muasal” jalur patah hati” dan beranjak dari pos 5 menuju pos 6 atau air terjun Badas Gumpalan maka harus sedikit memutar dengan tanjakan terjal guna menghindari air terjun, kemudian disuguhi sedikit susur sungai dengan kondisi cukup landai.

Setelah itu, akan ada jalur menanjak dengan tingkat kemiringan mencapai 40-50 derajat yang terkadang memaksa pendaki untuk merayap , di pos inilah terdapat pohon “tas” yang konon menurut kepercayaan penduduk sekitar hanya ada di Gunung Pesagi dan tidak terdapat di daerah lain serta di percaya mampu mengusir mahluk gaib, mengusir ular dan membawa keberuntungan.

Sampai disini, pemandangan yang memukau akan menjadi obat pelepas lelah para pendaki terdapat susunan batu-batu besar yang tersusun rapi bagaikan areal sholat dengan batu yang menyusun dengan sendirinya membentuk saf sebagai jamaah karena itu susunan batu ini juga disebut dengan “Batu Masjid”.

Puncak Pesagi menurut masyarakat Lampung Barat kerap disebut sebagai “Tangga Langit” karena masyarakat percaya, berdoa disini akan lebih cepat didengar oleh Sang Pencipta.

Selain melalui jalur Desa Bahway atau disebut jalur patah hati masih ada jalur lain yang bisa dilewati untuk menuju puncak Gunung Pesagi yaitu melalui Dusun Ramuan yang merupakan jalur pertama atau pos 1 yaitu Pintu Rimba yang merupakan areal perkebunan kopi penduduk.

Kemudian setelah Pintu Rimba pendaki akan melewati jalur menuju Gisting, jalur ini sedikit menanjak tetapi cukup panjang. Di tempat ini terdapat sumber air yang tidak pernah kering meskipun saat musim kemarau, karena berasal dari aliran sungai yang melewati celah-celah batu yang mengalir dan tertampung dalam cekukan batu yang terdapat di sekitar sumber air.

Beranjak dari Gisting langsung menikmati super tanjakan untuk mencapai batu pipih, batu pipih adalah adalah batu yang berbentuk pipih yang berdekatan dengan ukuran yang cukup lebar , panoroma batu pipih ini sangat indah karena disini dapat melihat jalur ujung tanjung dan deretan batu besar yang berdiri tegak menopang puncak Gunung Pesagi dan jika terkena cahaya bagai kilau mutiara.

Jalur penyambung adalah jalur susunan batu bertingkat yang direkatkan secara alami aleh lapisan tanah membentuk sebuah tebing . penyambungan ini juga dinamakan jembatan Sirotol Mustaqim karakter ini tidak akan ditemui kemiripanya pada gunung-gunung lainya.

Setelah tiba di puncak Pesagi, pendaki bisa melihat tugu peninggalan Belanda dan merupakan tanda batas kekuasaan Belanda kala itu.(ms)

Tanggapan Anda:

Tanggapan anda: