Gunung Rajabasa, Kisah Batu Selebar Cukup yang Melegenda hingga Anjing Pemandu yang Bisu

2265
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Gunung Rajabasa foto:ist/kupastuntas.co
Gunung Rajabasa
foto:ist/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Selatan-Mendaki gunung ini memberikan sensasi tersendiri. Di arah utara, Gunung Krakatau tampak menjulang dengan kepulanawan panasnya dari kejauhan serta hamparan Selat Sunda yang bak permadani biru menghampar luas.

Dari gunung ini, semua suguhan itu menjadi jerih dari delapan jam mendaki bahkan merayap untuk mencapai puncak. Gunung Rajabasa yang terletak di Kalianda, Lampung Selatan menjulang dengan ketinggian 1.294 mdpl.

Banyak akses untuk menuju ke puncak gunung ini, namun umumnya para pendaki lebih memilih jalur Desa Sumurkumbang yang berjarak 5 kilometer dari Kalianda, ibukota Lampung Selatan dan dihuni warga suku Sunda.

Untuk mencapai puncak dibutuhkan waktu pendakian 6 sampai 8 jam dengan melewati 4 pos peristirahatan. Selama mendaki hingga Pos 1, dijumpai banyak mata air. Para pendaki selalu memakai air itu untuk bekal berkemah.

Airnya jernih dan bersih, bisa langsung diminum tanpa terlebih dulu direbus. Mata-mata air itu selama ini menjadi sumber air bersih bagi warga yang tinggal di kaki Gunung Rajabasa. Sebagai kawasan lindung, Gunung Rajabasa punya banyak fungsi ekologi. Di antaranya pengatur tata air, penstabil iklim, pencegah banjir, pengendali erosi, dan penjaga kesuburan tanah.

Jasa lingkungan itu dinikmati warga 4 kecamatan dan 39 desa di Kabupaten Lampung Selatan. Karena itu, kerusakan hutan lindung seluas 4.900 hektare ini akan sangat berdampak buruk.

Di kaki gunung, selepas dari Desa Sumurkumbang, sebelum mencapai Pos 1, pendaki disarankan berziarah ke makam Syeh Mansyur, yang dikeramatkan. Tokoh dari Sunda ini perintis lahirnya Desa Sumur Kumbang.

Jalan kaki dari Desa Sumurkumbang ke Pos 1 memakan waktu sekitar 3 jam. Di kiri kanan jalur pendakian terdapat kebun cokelat, kopi, lada, dan durian, milik warga. Orang yang belum pernah mendaki ke puncak Gunung Rajabasa, jangan coba-coba naik tanpa dipandu warga di sana. Sebab, risiko tersesat sangat besar. Jangan terjebak untuk terus naik mengikuti trek. Di sini banyak jalan yang biasa dilalui warga untuk menuju gubuk di kebun mereka. Salah memilih jalur, maka akan terjebak di jalur buntu sehingga pendaki harus balik lagi.

Anjing Pemandu

Ada yang unik di gunung ini. Tentang keberadaan seekor anjing bisu yang kerap kali dijumpai para pendaki. Anjing ini kerap menjadi pemandu para pendaki untuk mencapai puncak.

Banyak para pendaki yang pernah menjumpai anjing ini. Kehadirannya dirasa sangat membantu, meski sudah membawa pemandu sendiri, namun anjing tak bernama ini menjadi ketakjuban sendiri. Ia akan membawa pendaki hingga ke atas puncak Gunung Rajabasa dan kemudian kembali memandu turun.

Sampai di Pos 1, udara belum terlalu dingin karena ketinggiannya baru mencapai 549 mdpl. Kemudian, menuju Pos 2, yang jalurnya cukup jelas. Tetapi amat terjal. Banyak jalur yang tertutup batu-batu besar dan pohon tumbang. Semuanya vegetasi hutan yang rapat.

Untuk sampai ke Pos 2 dibutuhkan waktu hingga dua jam berjalan. Pos ini berupa dataran yang cukup untuk mendirikan dua tenda buat berkemah. Ketika sampai di pos, usahakan untuk memeriksa tubuh kalau-kalau ada pacet menempel karena Gunung Rajabasa memang dikenal sebagai habitat hewan pengisap darah itu.

Perjalanan ke Pos 3 yang membutuhkan waktu sekitar satu jam. Jarak dari Pos 2 ke Pos 3 sesungguhnya pendek, tetapi medannya makin berat. Jalur benar-benar tertutup rapat oleh vegetasi. Di sini udara makin dingin karena ketinggian sudah hampir mencapai 1.000 mdpl.

Pohon-pohon semuanya berlumut karena udaranya lembab akibat sinar matahari sulit menembus tajuk-tajuk pohon yang menutup rapat. Jurang di sisi kanan dan kiri membuat pendaki wajib ekstra hati-hati kalau mau selamat.

Sementara jalurnya sempit, hanya cukup untuk pijakan kaki. Tanahnya mudah runtuh. Ke Pos 4, butuh waktu sekitar satu jam. Tetapi, lagi-lagi, jalurnya makin berat.

Tidak ada benda kering di sepanjang perjalanan menuju Pos 4. Tanah, batu,

dan pohon, semuanya basah karena udara yang lembab. Sampai Pos 4, perasaan gembira hadir mengganti fisik yang lelah bukan main akibat berjalan kaki hampir 8 jam. Jarak ke puncak sudah dekat, sekitar 20 meter lagi. Tetapi beristirahat tetap dibutuhkan. Sebab, meskipun jarak sudah dekat, untuk naik ke puncak treknya curam dengan kemiringan hampir 90 derajat.

Sampai di puncak Gunung Rajabasa yang memiliki ketinggian 1.294 mdpl. Dari sini, bisa terlihat pemandangan dua sisi pantai. Puncak ini tidak terlalu luas, hanya berupa dataran rumput memanjang, cukup untuk dipasang 3 tenda.

Kawah selebar 500 x 700 meter ini berupa danau berawa yang menjadi bukti Gunung Rajabasa pernah meletus. Tetapi sampai sekarang tidak ada yang tahu persis kapan erupsi itu terjadi.

Ada yang melaporkan aktivitas gunung api ini meningkat pada bulan April 1863 dan Mei 1892. Di kawah ini terdapat sebuah batu besar berbentuk persegi empat dengan luas sekitar 2 x 2 meter. Orang-orang menyebutnya Batu Selebar Cukup. Disebut demikian karena sebanyak apapun orang duduk di atasnya, selalu cukup. (ms)

Tanggapan Anda:

Tanggapan anda: