Marga Punduh, Sisa-sisa Kejayaan Saibatin Purbaningrat

833
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Prosesi pemasangan mahkota pada Marga Punduh foto:Meza Swastika/kupastuntas.co
Prosesi pemasangan mahkota pada Marga Punduh
foto:Meza Swastika/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Pesawaran-Marga Punduh adalah salah satu marga tertua di Lampung. keberadaannya ditandai dengan kehadiran Saibatin Purbaningrat dari Kerajaan Skalabrak pada tahun 1420 yang tinggal dan menempati daerah ini.

Meski pada perkembangannya, Marga Punduh lebur bersama dua marga lainnya–Marga Pedada dan Marga Bawang, yang membentuk sebuah daerah administratif Kecamatan Punduhpidada.

Melalui proses musyawarah para pemuka adat tiga marga pada saat pembentukan daerah administratifnya yang akhirnya menyimpulkan pemberian nama daerah dengan mengambil nama dua marga yakni; Marga Punduh dan Marga Pedada yang disatukan menjadi nama daerah Kecamatan Punduhpedada dengan ibukota kecamatannya di wilayah Marga Bawang.

Kini, meski daerah setingkat kecamatan itu juga sudah mekar menjadi dua kecamatan baru; Marga Punduh dan Teluk Pedada namun penghormatan terhadap marga masih tetap ada, pemerintah bahkan memberi penghormatan khusus terhadap marga ini dengan menjadikannya wilayah administratif tersendiri; Marga Punduh.

Eksistensi marga ini juga tetap lekat, keturunan marga tetap tunduk pada derajat gelar. Marga ini dipimpin oleh Saibatin secara turun temurun, dan kini tampuk pimpinan ke-margaan Punduh diwarisi oleh Saibatin Nurdiansyah.

Menurut Raden Dulu salah satu pemuka adat Marga Punduh menyebut hingga kini warisan kemargaan masih tetap ada, selain adat istiadat khas Lampung pesisir juga keberadaan pedang perak, pedang yang terbuat dari perak milik Saibatin Purbaningrat, sebagai kepala marga pertama.

Prosesi pemakaian sinjang pada pemberian gelar adat Marga Punduh Foto: Meza Swastika/kupastuntas.co
Prosesi pemakaian sinjang pada pemberian gelar adat Marga Punduh
Foto: Meza Swastika/kupastuntas.co

Beberapa warisan marga, seperti baju zirah dan beberapa tulisan-tulisan beraksara Lampung tak bisa diselamatkan karena dimakan usia,”kita tidak bisa merawatnya, karena lapuk dimakan rayap, yang tersisa hanya pedang perak saja,” jelas Raden Dulu.

Raden Dulu juga menyebut Marga Punduh melingkupi tujuh desa dengan Desa Maja sebagai desa adat tertua, beberapa desa lainnya yang sempat menjadi bagian dari Marga Punduh lambat laun mulai kehilangan tanda-tanda kemargaannya karena terjadinya pembauran budaya dengan suku lain.

Sepintas tak ada yang membedakan marga ini dengan marga-marga lainnya khususnya untuk masyarakat Lampung pesisir, yang membedakan justru proses pemberian gelar adat, marga ini terbilang ketat dalam memberikan gelar adat apalagi untuk orang dari luar kemargaanya.

“Apapun kesiapannya jika pemuka-pemuka adat tidak menghendaki, pemberian gelar adat tak akan pernah ada,” terangnya lagi.

Karenanya, sepanjang keberadaannya, Marga Punduh baru dua kali melakukan prosesi pemberian gelar adat, satu gelar diberikan kepada warga dari luar Marga Punduh, pemberian gelar ini pun bukan sembarangan, karena gelar itu diberikan atas jasa warga itu yang dinilai telah memajukan dunia pendidikan khususnya di tujuh desa yang menjadi bagian dari Marga Punduh dengan ditandai keberadaan SLTA negeri 1 Punduhpedada di Desa Maja,”ini gelar penghormatan, yang tidak sembarang orang bisa memperolehnya,” ujar Raden Dulu. (ms)

Tanggapan Anda:

Tanggapan anda: