Pendaki Gunung: Raja Basa dan Krakatau, Kecil-kecil Cabe Rawit

380
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Pendaki Gunung: Raja Basa dan Krakatau, Kecil-kecil Cabe Rawit 1
Foto: Ist/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Mendaki gunung sudah menjadi hobi yang banyak diminati berbagai kalangan. Banyak orang mendaki dengan rekan kerja, sahabat, dan juga komunitas, hanya untuk merayakan beberapa momen tertentu, seperti tahun baru, ulang tahun dan lainnya.

Gunung merupakan tempat dimana seseorang dapat merasakan pengalaman yang mungkin tidak ada di tempat lainnya. Kepuasan yang didapat adalah mencapai puncak dan menikmati pemandangan yang didapat setelah dengan susah payah mendaki.

Salah satu sosok yang akrab dengan kegiatan mendaki gunung adalah Bastian Zani, yang sering disapa Bang Iyan Mdpl, seorang tour guide bagi pelancong yang ingin mendaki gunung, khususnya Gunung Rajabasa dan Krakatau. Bang Iyan juga dikenal sebagai tour guide laut di Lampung. Ia telah menekuni Hobi sekaligus pekerjaannya ini dari tahun 2007.

“Motivasi pertama naik gunung karena tertarik melihat indahnya alam, ingin melestarikan alam dan bertambah teman. Pertama kali saya mendaki gunung itu Gunung Rajabasa, kemudian tahun 2006 saya gabung di komunitas Pilar (Pecinta Alam Liar),” kisahnya.

“Setahun saya ikut mereka, sekali dua kali saya hapalin jalur naik gunungnya,” ujar Pria asal Kalianda, Lampung Selatan ini.
Pendaki Gunung: Raja Basa dan Krakatau, Kecil-kecil Cabe Rawit 1
Dari tahun 2007 hingga tahun 2012, Iyan sudah bergabung dibeberapa komunitas pecinta alam, bahkan sampai komunitas itu bubar dan tidak ada kegiatan lagi.

“Jadi tahun 2006-2011 saya hanya naik Gunung Rajabasa saja, baru tahun 2012 mulai daki gunung lain seperti Tanggamus (Tanggamus), Pesagi (Lampung Barat), Dempo (Sumatera Selatan), Kerinci (Sumatera Barat), Gede-Pangrango (Jawa Barat), Pulosari (Jawa Barat), Ciremai (Jawa Barat), Semeru (Jawa Timur) dan masih banyak lagi,” terangnya kepada Kupastuntas.co, Rabu (15/3/2017).

Dua tahun belakangan, Iyan juga menjadi tour guide laut khususnya Pahawang. Alsannya tak lain karena saat itu belum ada pemuda Lampung yang tertarik jadi tour guide untuk promosikan wisata khususnya bahari di Lampung pada para pelancong.

Iyan menambahkan, alasannya hanya naik gunung Rajabasa selama 5 tahun berturut-turut lantaran ia ingin memberitahu teman-teman pendaki nusantara bahwa gunung di Lampung lebih menantang.

“Kecil-kecil cabe rawit. Gunung Rajabasa selama pendakian butuh waktu sekitar 7-8 jam untuk sampai puncak. Jika disamakan dengan gunung di Pulau Jawa, 7-8 jam itu sudah sampai gunung di ketinggian 2500 mdpl, Maka dari itu banyak pendaki yang ingin naik Gunung Raja Basa dan pemandangan di puncaknya bisa lihat laut. Jarang gunung yang viewnya laut,” lanjut pria 28 tahun ini.

Selama 10 tahun menjadi seorang pendaki, Iyan mengaku banyak suka dan duka yang ia dapatkan.
Pendaki Gunung: Raja Basa dan Krakatau, Kecil-kecil Cabe Rawit 1
“Semua gunung yang pernah saya daki punya kesan dan pengalaman menarik masing-masing. Seperti waktu di Gunung Rajabasa saya pernah nyasar, Gunung Dempo saya pernah ngobrol sama penampakan, Gunung Gede waktu itu saya gak bawa air, jadi dari bawah sampai puncak minta air minum sama pendaki lain sepanjang jalur, kemudian di Gunung Kerinci saya ketemu teman baru asal Polandia, orangnya lucu dan pintar bahasa Indonesia,” jelasnya.

Selama menjadi tourguide Gunung Raja Basa dan Krakatau, ia telah mengantarkan beberapa tamu yang mayoritas berasal dari  pulau Jawa, mulai dari Mahasiswa sampai kalangan paruh baya, “Saya pernah bawa tamu asal Kendal Jawa tenagah, namanya Pak Ronny Hartono, dia ekspedisi 27 puncak gunung Indonesia dengan sepeda onthel nya, bahkan saat daki gunungpun sepeda itu turut dibawanyapula, lalu ada pak William Tamsiam asal Bekasi, umurnya 58 tahun waktu tahun 2016 saya anatar dia ke puncak Gunung Krakatau, dalam ekspedisinya pendakian maraton 50 gunung nusantara dalam waktu 40 hari. Ada juga Akmal Adji Tropis asal Jakarta, seorang penulis nusantara, kemudian Rizal Bustami seorang jurnalistik petualangan, pernah bawa juga mahasiswa dari Universitas Indonesia” terangnya.

Iyan juga mengungkapkan bahwa dari mendaki gunung, ia mendapat banyak teman baru dari berbagai daerah di Indonesia dan juga mancanegara. “Waktu kita di bawah tetap menunduk, waktu kita sudah di atas tetap lihat ke bawah, ternyata kita masih di bawah langit walaupun sudah berada di atas awan,” ujarnya.

Ia pun memiliki target kedepan untuk melakukan ekspedisi pendakian 15 gunung di pulau Jawa. “Saya nggak mau naik gunung di luar negeri, saya mau di 7 summit Indonesia saja, semoga ada rejeki dan umur” tutupnya.

Tak lupa juga ia mengingtkan pada para penikmat alam untuk membawa kembali sampah yang dibawa saat melakukan perjalanan, tetap jaga kelestarian alam demi anak cucu dimasa depan.  (Dws)

Tanggapan Anda:

Tanggapan anda: