Beranda Daerah Lampung Tanggamus

Miris! Jauh dari Rumah Bersalin, Ibu dan Anak Meninggal Dunia

8881
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share
https://www.kupastuntas.co/files/WhatsApp-Image-2018-04-02-at-10.28.32.jpeg
Murni Rohayati (38), warga Dusun Leuweung Kolot, Pekon Campang Way Handak, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, meninggal dunia setelah berjuang sendirian melahirkan bayinya.

Kupastuntas.co, Tanggamus – Karena tempat tinggal yang jauh dari pelayanan kesehatan bahkan Rumah Sakit. Seorang wanita hamil bersama calon bayinya meninggal karena ingin melahirkan.

Kisah pilu tersebut terjadi di warga Dusun Leuweung Kolot, Pekon Campang Way Handak,  Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus

Nurhalim (45), tak kuasa menahan tangis saat mengenang istri tercintanya, Murni Rohayati (38), yang meninggal setelah melahirkan bayi laki-laki.

Hal tersebut terjadi lantaran, saat istrinya melahirkan tidak dibantu oleh bidan ataupun warga. Karena mereka hidup di tempat terpencil jauh dari sarana kesehatan dan warga di Umbul Sumur Gunung 2, kawasan hutan lindung Register 28 Pematang Neba,  Resort 1 Way Tebu,  Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus.

Diketahui jarak rumahnya yang berada di kawasan hutan lindung itu berada sangat jauh dari pusat kesehatan yakni 20 Kilometer.

Nurhalim  menceritakan pada hari Jumat (30/3/2018). Sekitar pukul 02.00 WIB. Kala itu Murni mengeluh kesakitan dibagian perutnya, dan diduga akan melahirkan bayi yang dikandungnya.

Sementara Nurhalim yang menyadari istrinya, akan melahirkan menjadi bingung, pasalnya, mereka hidup terpencil, dan jauh dari sarana medis, serta jarak tempuh tempat tinggal mereka ke tempat warga lain juga sangat jauh.

Ditambah kondisi medan yang berat dan malam hari, membuat  Nurhalim mengambil keputusan menolong persalinan istrinya Murni. Dengan dibantu anak perempuannya,  bernama Reni Parwati, berusia 13 tahun, Nurhalim semampunya menolong Murni melahirkan.

Berselang kemudian, lahirlah bayi laki-laki dari rahim Murni. Tetapi Nurhalim terkejut saat menyadari bayi laki-laki yang baru lahir itu tidak menangis, seperti layaknya bayi yang baru dilahirkan. Dan Nurhalim semakin panik saat mengetahui bayi laki-laki penerus keturunannya itu ternyata lahir dalam keadaan telah meninggal.

Dan kepanikan Nurhalim semakin menjadi, saat mengetahui ari-ari bayi  tidak keluar dari perut istrinya. Belum hilang kesedihan Nurhalim dan dan anaknya Reni, yang mengetahui bayi yang dilahirkan Murni telah meninggal. Sekitar pukul 04.30 WIB, Murni pun menghembuskan napas terakhirnya.

Kuat dugaan Murni meninggal dunia akibat pendarahan dan keracunan  karena ari -ari bayi tidak keluar daru perutnya.

“Baru sekitar pukul 10.30 WIB, jenasah istri dan anak saya yang baru lahir dibawa ke kampung terdekat, yaitu di Dusun Way Tebu, Pekon Gisting Atas, Kecamatan Gisting,” kata Nurhalim sambil menangis, Minggu (1/4/2018).

Usai dimandikan, selanjutnya jenazah Murni dan bayi nya sekitar pukul 11.30 WIB dibawa ke rumah duka (rumah Nurhalim dan Murni) menggunakan mobil ambulans milik Puskesmas Gunung Alip,  di Dusun Leuweung Kolot, Pekon Campang Way Handak,  Kecamatan Pugung,  Kabupaten Tanggamus untuk dimakamkan.

“Malam itu saya benar-benar panik, saat istri saya mengeluh sakit mau melahirkan. Saya bingung, mau dibawa ke kampung jauh, jalannya susah, gelap lagi. Makanya saya memberanikan diri menolong istri melahirkan. dibantu anak. Tapi Allah berkehendak lain, andaikan dekat sama bidan, istri dan anak saya mungkin tidak meninggal dunia,” kata Nurhalim. (Sayuti)

Facebook Comments