Mengintip Peluang Sastra Dalam Era Industri Kreatif

63
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Sastrawan Lampung Isbedy Stiawan ZS usai menyampaikan materi dalam Seminar Nasional Seni dan Industri Kreatif di FKIP Unila, Senin (27/8). Foto : Farhan/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Sastra terus berkembang dari masa ke masa, Dulu sastra ditulis di kulit kayu atau kulit hewan, kemudian berkembang menjadi teks yang dicetak di kertas, dan sekarang telah berkembang ke media daring (dalam jaringan/online) yang dapat dengan mudah diakses melalui telepon pintar.

Dalam era industri kreatif sekarang ini, sebuah karya sastra harus selalu mengikuti perkembangan zaman. Contohnya seperti musikalisai puisi Sapardi Djoko Damono, film dari novel-novel Andrea Hirata dan Asma Nadia, juga film fenomenal Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy.

Hal tersebut disampaikan oleh Isbedy Stiawan ZS usai menjadi pemateri dalam Seminar Nasional Seni dan Industri Kreatif yang berlangsung di Aula K FKIP Unila, Senin (27/8).

Dikatakan oleh penyair berjuluk Paus Sastra Lampung tersebut, bahwa perkembangan ini bukanlah karena permintaan pasar. “Mau tak mau, sastra sebagai sebuah industri kreatif, harus mengikuti ke arah perkembangan itu supaya dapat tetap bertahan” katanya.

Selain film, musik, dan lain-lain, ada juga puisi-puisi yang dicetak di kaos dan mug. “Saya juga buat puisi saya, “Kau mau mengajakku ke mana malam ini? Di alun-alun itu ada kalian, kupu-kupu, dan pelangi,” yang dicetak di kaos dan mug, alhamdulillah laris manis,” terang Isbedy.

Kemudian puisi-puisi lainnya tentang destinasi wisata Pahawang dan Kiluan yang dijadikan kaos, juga bisa jadi sarana promosi tempat wisata tersebut. Sehingga bisa banyak manfaatnya.

“Kalau kita jeli melihatnya, ini tentu bisa jadi peluang. Apalagi sekarang ini pemerintah juga sedang menggencarkan program tentang peningkatan industri kreatif di Lampung. Pemasyarakatan karya sastra pun selain lewat buku, juga ikut terbantu dengan ini.” ujarnya.

Untuk menjadikan menulis sebagai sebuah profesi, seniman atau sastrawan tentu bisa bertahan selama menjalaninya dengan profesional. Apapun namanya talenta itu, pasti bisa jadi sebuah profesi. Seperti olahragawan, seniman pun bisa jadi profesi yang menghasilkan. Tentunya dalam berkarya tetap harus mengutamakan kualitas.

“Kualitas dulu baru bicara pasar atau industri. Jika orientasinya adalah uang pasti karya itu akan menurun kualitasnya,” tutup Isbedy.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Munaris yang juga menjadi pemateri dalam seminar nasional tersebut. Ia mengatakan, meski berorientasi terhadap industri, sebuah karya sastra tetap harus mempertahankan nilai-nilai idealismenya.

“Idealisme tidak boleh diabaikan dalam sebuah karya. Sastrawan tetap harus berbasis pada idealismenya dalam menghasilkan karya yang hebat. Ketika karya itu populer atau diminati, maka baik karya sastra itu sendiri maupun produk turunannya, seperti film dan lain-lain, pasti akan menghasilkan royalti.” Kata Munaris.

Sebagai dosen, Dr. Munaris juga mengatakan bahwa pendidikan tidak menjamin pekerjaan, mahasiswa FKIP belum tentu menjadi guru. Karena itu beliau berpesan mahasiswa harus berkarya dalam dunia industri kreatif. (Farhan)

Tanggapan Anda: