Beranda Bandar Lampung

Ngeri! Mitos dan Fakta Kanker Darah: Leukemia, Limfoma dan Myeloma

136
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
http://www.kupastuntas.co/files/dokter.jpg
Ilustrasi. Foto: Pexels/Wesley Wilson

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Tanggal 15 September diperingati sebagai hari kanker limfoma sedunia. Hari ini diperingati untuk membantu orang agar lebih waspada terhadap kanker nomor tujuh yang sering diderita orang Indonesia ini.

Kanker limfoma sendiri termasuk dalam jenis kanker darahyang menyerang limfosit atau kelenjar getah bening. Namun jenis kanker darah ini tak cuma kanker limfoma, tapi juga ada leukemia dan juga myeloma.

Kanker darah merupakan jenis kanker yang menyerang jaringan pembentuk darah sehingga menghambat kemampuan tubuh melawan infeksi. Kanker darah ini dapat diobati dengan perawatan yang tepat.

Namun, beragam mitos masih berseliweran mengenai kanker darah. Kesalahpahaman itu sering kali dipercaya dan justru memperburuk keadaan para penderita dan keluarga pasien kanker darah.

Berikut merupakan mitos dan fakta yang benar seputar kanker darah.

  1. Leukemia sama dengan kanker darah?

Selama ini, masyarakat memahami leukemia sama dengan kanker darah. Namun, pernyataan ini tak sepenuhnya benar.

“Pernyataan itu sebagian benar, sebagian lagi salah. Yang benar adalah leukemia adalah salah satu tipe dari kanker darah. Ada beberapa tipe dari kanker darah, bukan hanya leukimia saja,” kata Konsultan Senior Hematologi di Parkway Cancer Center (PCC) Singapura Lim ZiYi saat berbincang dengan media di Jakarta, Kamis (6/9).

Dokter ahli hematologi atau ilmu yang mempelajari darah itu menjelaskan ada tiga tipe kanker darah yang banyak ditemui. Selain leukimia, terdapat jenis kanker darah limfoma dan myeloma.

Leukemia berkaitan dengan kanker pada sel darah putih dan banyak menyerang anak-anak dan jarang pada orang dewasa. Sedangkan limfoma merupakan kanker darah yang menyerang limfosit. Kanker ini dikenal juga nama kanker kelenjar getah bening yang umum terjadi pada orang dewasa. Sementara myeloma merupakan kanker pada sel plasma.

“Meski kasus kanker darah ini jarang, jumlah penderitanya perlahan meningkat,” ujar ZiYi.

ZiYi menyebut tiga jenis kanker ini memiliki subtipe yang jumlahnya dapat mencapai ratusan buah dan berpengaruh pada jenis pengobatan yang bakal dijalani.

  1. Kanker darah merupakan penyakit keturunan?

Informasi yang juga simpang siur di masyarakat adalah kanker darah merupakan penyakit yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Akan tetapi, ini hanya mitos belaka.

Konsultan Hematologi PCC lainnya, Colin Phipps Diong menjelaskan kanker darah memang merupakan penyakit genetik tapi tidak diturunkan oleh orang tua kepada anaknya.

“Ini bukan salah orang tua. Tidak, penyakit ini tidak diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Penderita yang hamil, bayinya akan baik-baik saja. Tidak seperti jenis kanker lain,” kata Phipps.

Phipps menyebut perubahan gen pada penderita kanker darah terjadi secara spontan dan tiba-tiba. Perubahan ini tidak diturunkan, melainkan terjadi ketika sudah dikembangkan dalam tubuh.

Hingga saat ini, tak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya perubahan sel darah menjadi sel kanker itu. Beberapa penelitian mengaitkan dengan beberapa faktor seperti lingkungan, pola makan dan stres.

“Kanker darah tidak bisa dikaitkan dengan hal lain seperti merokok pada kanker paru atau alkohol pada liver,” ujar Phipps.

  1. Baru bisa dideteksi pada stadium akhir?

Masyarakat sering kali cemas lantaran menganggap kanker darah baru dapat diketahui pada stadium akhir. Namun, menurut Phipps, kanker darah bisa dideteksi dini dengan memeriksakan gejala yang kerap timbul.

Gejala itu meliputi demam yang berkepanjangan, berat badan yang turun drastis, dan muncul pembengkakan pada getah bening untuk jenis limfoma. Jika merasa memiliki gejala ini, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

“Pengecekan kesehatan dapat mengetahui kondisi darah dan kenker dalam tubuh,” ucap Phipps.

Di sisi lain, Phipps menjelaskan pada kanker darah tak ada istilah penanganan yang terlambat.  Dokter umumnya tak lagi mengenal istilah stadium seperti kanker lain lantaran kanker darah terjadi pada darah yang beredar di seluruh tubuh.

“Pada leukemia stadium 1,2,3, atau 4 tak lagi penting. Kami memeriksakan kondisi dan melihat penanganan yang tepat. Tak ada pula istilah kanker darah tak bisa disembuhkan atau sama dengan hukuman mati,” tutur Phipps.

  1. Hanya keluarga yang bisa donor sumsum tulang belakang?

Salah satu metode pengobatan kanker darah adalah dengan donor sumsum tulang belakang. Kabar yang beredar donor ini mesti berasal dari keluarga.

Phipps menjelaskan sumber terbaik memang berasal dari saudara kandung. Sumber lainnya bisa didapat dari anak atau orang tua. Namun, sumsum tulang belakang ini juga bisa diperoleh dari orang lain yang tidak memiliki hubungan darah.

Beberapa stok sumsum tulang belakang atau stok darah tali pusar tersimpan di bank darah tali pusat dan bisa dipakai di seluruh dunia.

Phipps juga menyebut tak ada efek samping yang berkepanjangan bagi pendonor. Mereka hanya bakal merasa sakit dan kelelahan paling lama sepekan setelah proses donor. Saat ini, kemajuan teknologi juga membuat proses donor tak memerlukan operasi yang berat.

  1. Vitamin C dapat setop Leukemia?

Menurut ZiYi, tak ada data atau bukti yang menunjukkan dosis vitamin C yang tinggi dapat menyetop progres leukemia. Alih-alih menyembuhkan, dosis yang salah dari vitamin C itu justru dapat memperparah keadaan.

ZiYi menyarankan agar penderita leukemia mengonsumsi asupan yang tepat sesuai takaran gizi yang sudah disarankan dokter agar dapat mempercepat penyembuhan.

Sumber: cnnindonesia.com

Facebook Comments