Badan Bahasa Kemendikbud : Ada 668 Bahasa Daerah di Indonesia

34
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ilustrasi

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut kini sudah memetakan 668 bahasa daerah yang tersebar di Indonesia.

Angka per 2018 tersebut bertambah 16 bahasa dari catatan pada 2017, yaitu 652 bahasa daerah. Ratusan bahasa daerah yang tersebar di Indonesia itu merupakan hasil dari pencatatan yang telah dilakukan Badan Bahasa sejak 1992.

“Dari 668 bahasa daerah tersebut, 50 persen lebih ada di Indonesia Timur, dan diversitasnya sama dengan flora dan fauna di sana,” kata Gufran Ali Ibrahim, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa di Kementerian Pendidikan, Rabu (24/10).

“Indonesia menjadi [negara] kedua terbesar di dunia [yang memiliki bahasa daerah terbanyak]. Pertama yaitu Papua Nugini dengan 820 bahasa,” kata Gufran.

Gufran menyebut pada penelitian sebelumnya, Indonesia disebut memiliki sekitar 714 bahasa daerah. Namun menurut Gufran, perbedaan jumlah tersebut bisa terjadi lantaran adanya teknik pendataan atau metodologi yang berbeda.

Ia juga menyebut jumlah yang dicatat Badan Bahasa kini masih memiliki peluang untuk lebih atau kurang dari hasil penelitian sebelumnya.

Dalam perbincangan dengan CNNIndonesia.com, Gufran menyatakan Badan Bahasa kini menghimpun data tersebut dan menganalisisnya berdasarkan sejumlah faktor, yaitu jumlah bahasa daerah, jumlah penuturnya, wilayah pemakai, serta status kebugaran bahasa tersebut.

Ada enam status kebugaran atau vitalitas bahasa seperti dalam penuturan Hurip Danu Ismadi di laman Badan Bahasa.

Enam status itu adalah Aman ketika bahasa dipelajari oleh semua anak dan pihak dalam komunitasnya, Rentan kala jumlah penuturnya sedikit, Kemunduran ketika sebagian penuturnya tak lagi menggunakan.

Setelahnya ada Terancam Punah ketika semua penutur berusia 20 tahun ke atas, lalu Sangat Terancam kala penuturnya 40 tahun ke atas dan kritis atau penuturnya sedikit dan berusia 70 tahun ke atas, terakhir status Punah ketika tak ada lagi penuturnya.

“Sudah dibuat datanya, buku bahasa, dan peta bahasa. Bukunya mengandung deskripsi. Petanya kami bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial. Petanya ini yang akan ditayangkan pada Kongres [Bahasa Indonesia XI] nanti,” kata Gufran.

Menghadapi masalah pelestarian bahasa daerah yang banyak terancam punah. Gufran menyatakan pihak Badan Bahasa melakukan sejumlah kebijakan pelestarian setelah rampung memetakan bahasa-bahasa tersebut.

“Kalau terancam punah dan tergerus, ada revitalisasi dan konservasi, berupa mendorong komunitas di tempat tersebut belajar bahasa ibunya dari orang di kampungnya. Kedua, mendorong bahasa tersebut jadi mulok di sekolah,” kata Gufran.

Akan tetapi memilih bahasa daerah menjadi muatan lokal atau mulok di sekolah tak semudah yang dibayangkan. Seringkali, satu daerah memiliki lebih dari satu bahasa daerah.

Hal itu bisa terjadi di Papua yang menjadi wilayah dengan keberagaman bahasa daerah terbesar di Indonesia. Menurut peta bahasa yang dirilis di laman Badan Bahasa, Provinsi Papua memiliki 290 bahasa daerah dan Provinsi Papua Barat memiliki 94 bahasa lokal. Sehingga, masyarakat Papua tercatat memiliki 384 bahasa daerah, atau 57 persen dari seluruh bahasa daerah di Indonesia.

Atas fakta tersebut, Gufran menyebut pihaknya mendorong untuk memberlakukan kebijakan mendorong komunitas yang memiliki bahasa daerah terancam punah atau tergerus untuk kembali menggunakan bahasa aslinya.

Di sisi lain, Gufran juga mengatakan bahwa pihaknya melalui Balai Bahasa yang tersebar di 30 provinsi juga mendokumentasikan bahasa daerah di tempatnya baik berupa catatan atau kamus.

“Karena bahasa itu punah bukan [hanya] karena tidak ada yang berbicara lagi, tapi karena selapis generasi tidak lagi membiasakan generasi setelahnya untuk berbicara bahasa ibu mereka di rumah. Jadi orang tua tidak lagi memakai bahasa itu di rumah, itu lah awal kematiannya. Maka, kembalikanlah ke situ,” kata Gufran. (cnn)

Tanggapan Anda: