Awasi Obat dan Makanan, BBPOM Bandar Lampung Gandeng Empat Perguruan Tinggi

33
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Kepala BBPOM Bandar Lampung foto bersama dengan para rektor/wakil rektor dari empat perguruan tinggi usai penandatanganan MoU di Aula Fakultas Pertanian Unila, Rabu (5/12/2018). Foto : Ist

Kupastuntas.co, Bandarlampung – Tantangan pengawasan obat dan makanan kian hari makin beragam seiring berkembangnya jalur distribusi pasar yang melebar akibat perdagangan bebas. Potensi kejahatan kemanusiaan di bidang obat dan makanan sangat rentan terjadi, terlebih di Indonesia yang cakupan wilayahnya sangat luas.

Melihat hal ini, diperlukan sebuah sinergi dan kolaborasi dari semua pihak untuk memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia, tak terkecuali Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandar Lampung bersama empat Perguruan Tinggi di Lampung berkomitmen meningkatkan pengawasan obat dan makanan.

Komitmen itu dikukuhkan dalam sebuah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang dilakukan BPOM dengan Universitas Lampung (Unila), Institut Teknologi Sumatera (Itera), Universitas Tulang Bawang (UTB) Lampung, dan Universitas Mitra (Umitra) Lampung.

Penandatanganan nota perjanjian itu dilakukan oleh Kepala BBPOM Bandar Lampung Syamsuliani, Rektor Unila Hasriadi Mat Akin, Rektor Itera Ofyar Z Tamin, Rektor UTB Lampung Agus Mardihartono, dan Wakil Rektor III Universitas Mitra Lampung Armen Patria,. Kegiatan berlangsung di Aula Fakultas Pertanian Unila, Rabu (5/12/2018).

“Nota kesepahaman ini bertujuan untuk mengoptimalkan SDM dan sinergi pengawasan obat dan makanan di seluruh wilayah Lampung, yang pada akhirnya akan meningkatkan efektivitas sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing lembaga,” kata Syamsuliani.

Selain itu, kata Syamsuliani, kerja sama ini didasari kesadaran bahwa pengawasan obat dan makanan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu mendapat perhatian utama.

“Kami tidak akan bisa bekerja sendiri karena globalisasi, penyelundupan produk ilegal, koordinasi lintas satker, dan keterbatasan sumber daya menjadi tantangan yang sangat besar bagi BBPOM. Untuk itu kami harus mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak,” ujarnya.

Sementara, Rektor Unila Prof. Hasriadi menyampaikan, di era industri 4.0 ini semua pihak harus bekerja sama membangun sumber daya manusia, terutama di bidang pengawasan obat dan makanan. Unila dengan berbagai program studi yang bergerak di bidang kesehatan juga berencana membangun gedung pusat riset awal tahun 2020 mendatang.

“Ini latar belakang kita membangun kerja sama supaya dapat meningkatkan kompetensi dan inovasi-inovasi yang berhubungan dengan obat dan makanan,” pungkasnya. (Tampan)

Tanggapan Anda: