Janda Anak Tiga di Tubaba Berharap Bantuan Biaya Sekolah

355
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Masunia (baju ungu) dan ketiga anaknya. Foto: Irawan/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tulangbawang Barat – Semenjak suami meninggal dunia setahun lalu, Masunia (40) warga Tiyuh Panaragan Kecamatan Tulangbawang Tengah Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) terpaksa harus mengurus kerbau milik orang dengan sistem gaduh, kemudian ia menghidupi tiga orang anaknya sehari-hari dengan mengharapkan belas kasihan tetangga.

Masunia tinggal berempat dengan anak-anaknya di rumah yang juga nyaris ambruk sehingga kondisi rumahnya harus disangga dengan kayu. Namun, ketiga anaknya sangat semangat untuk mengenyam pendidikan meskipun ia kadang kelimpungan mencari biaya sekolah anak-anaknya itu.

“Sudah hampir satu tahun suami saya meninggal, sekarang kehidupan kami ya begini adanya, saya tetap tidak pernah kata menyerah untuk menyekolahkan anak-anak saya, namun terkadang saya merasa kewalahan apabila anak saya yang SMA sudah mengeluh untuk pembayaran biaya sekolah kalau pas nggak ada uang saya kelimpungan sedih juga,”tutur Masunia saat dijumpai di kediamannya, Sabtu, (9/2/2019) sore.

Meskipun demikian, masih ada kerabat yang peduli dan sering membantu biaya sekolah anaknya.

“Sedikit mengurangi beban saya dalam biaya sekolah anak saya yang SMA, dan terkadang ketika berangkat sekolah anak saya nggak seperti anak-anak lain yang di berikan orang tuanya jajan dan ongkos karena temannya memberikan boncengan motor,” tutur Masunia.

Fitri Wulandari, anak pertama Masunia dari tiga bersaudara ini juga ikut membantu dalam menambahkan biaya dari sekolah ataupun uang makan sehari-hari mereka.

“Keseharian saya seusai pulang sekolah saya sudah terbiasa membuat rajutan untuk tutup kue kalau ada yang pesan saja, kemudian ya bantu-bantu ibu pekerjaan apa saja, yang penting bisa dapat uang buat bantu ibu menafkahi saya dan adik-adik saya. Meski sedikit hasilnya, namun Alhamdulillah bisa membantu ibu,”ucap Fitri.

Fitri juga merasa bersyukur karena dalam biaya sekolahnya juga ikut di bantu oleh anak bibiknya yang bernama Abdullah yang hanya wiraswasta.

“Abdullah anak bibik saya, dia yang ikut membantu ibu dalam membiayai keseharian dan biaya sekolah saya, meski dengan keadaannya yang tidak seberapa punya tapi dia juga ikut dalam membiayai sekolah saya,” kata Fitri.

Kondisi rumah peninggalan almarhum ayah Fitri yang tidak layak karena di berbagai sisi rumah bertonggak kayu sebagai penyangga untuk menahan agar tidak rubuh, dari pihak Pemerintah Tiyuh Panaragan melalui RT sudah pernah datang dan akan membantu dalam perbaikan rumahnya.

“Sudah pernah datang dari Pemerintah Tiyuh melalui RT, kami diminta untuk mengumpulkan syarat-syarat untuk pendaftaran bedah rumah, dan Insha Allah bulan April ini akan diperbaiki,” terang Fitri.

Tidak banyak yang diharapkan, melihat kondisi keluarga ini mereka hanya meminta agar ketiga anak tersebut bisa terus mengenyam pendidikan dengan gratis atau diringankan dari biaya sekolah.

“Mereka masing-masing duduk di bangku SMA kelas 2, dan yang dua lagi kelas 6 dan kelas 3 Sekolah Dasar,” harap Masunia. (Irawan/Bas/Lucky).

Tanggapan Anda: