Pelajar dan Tukang Ojek Dominasi Pelanggaran Lalu Lintas di Kotaagung

88
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Kawasan Simpang Empat Kotaagung, Kabupaten Tanggamus yang menjadi wilayah paling rawan terjadinya pelanggaran lalulintas. Foto : Sayuti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus – Semrawut, banyak pemotor yang tidak mengenakan helm dan menerobos lampu merah (traffic light) saat berkendara, menjadi pemandangan lazim di jalan utama pusat kota di Kotaagung yang notabene ibukota Kabupaten Tanggamus.
Ironisnya, para pelanggar lalu lintas didominasi para pelajar dan pengemudi ojek (pengojek), terutama pada jam sibuk, yaitu saat berangkat dan pulang sekolah.

Bahkan sering ditemui beberapa pelajar berboncengan tiga dan tak dilengkapi helm, memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Meski polisi setiap pagi merazia dan memberikan teguran, bahkan menindak tegas mereka, tetapi rupanya tetap tak membuat mereka sadar dan jera.

Kondisi itu diperparah dengan kendaraan yang dengan santai belok kiri padahal ada larangan belok kiri saat lampu merah menyala di Jalan Merdeka Kotaagung.

“Kawasan Kotaagung ini jauh di katakan tertib lalulintas, bahkan semrawut. Terutama pelajar dan pengojek mendominasi sebagai pihak yang melanggar aturan di jalan raya,” kata Hendra (41), salah seorang warga Kotaagung, Senin (11/2/2019).

Menurut Hendra, banyak rambu-rambu lalu lintas dilanggar oleh pengendara, terutama pelajar dan pengojek, seperti menerobos lampu merah, melawan arah, tidak memakai helm, tidak memakai sabuk pengaman, berbonceng lebih dari satu orang. Kemudian, mengendarai kendaraan ugal-ugalan, parkir sembarangan, larangan putar arah (U-Turn), larangan belok kiri langsung dari arah Jalan Merdeka Kotaagung ketika lampu merah menyala.

“Pelanggaran tersebut berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas dengan korban jiwa dan benda,” kata dia.

Reni (29), warga Kotaagung lainnya menuturkan, banyak faktor yang mempengaruhi kurangnya kesadaran warga untuk tertib berlalulintas. Seperti budaya hukum masyarakat bahwa taat terhadap hukum merupakan suatu kebutuhan masih sangat rendah. “Dan terbatasnya personel polisi lalu lintas yang berjaga di area kawasan tertib lalulintas,” katanya.

Salah satu pengendara motor kedapatan tidak memakai helm di jalan raya Kotaagung. Foto : Sayuti/Kupastuntas.co

Senada dengan itu, Zainal, salah seorang guru di Kotaagung mengaku miris melihat buruknya budaya berlalulintas di Kotaagung. Dikatakannya, di kawasan simpang empat Kotaagung, ia sering melihat pengendara tidak mengindahkan peraturan, salah satunya menerobos lampu merah.

Kejadian seperti itu, menimbulkan kekhawatiran baginya yang mengikuti aturan, terutama terjadinya kecelakaan lalu lintas.

“Saat kendaraan kami jalan karena lampu hijau, tiba-tiba dari arah Polsek Kotaagung, atau arah pasar, atau arah Wonosobo, tiba-tiba muncul kendaraan yang menerobos lampu merah, ini sangat berbahaya, terutama tukang ojek dan anak sekolah,” ujarnya.

Ia brharap agar pihak kepolisian menempatkan polisi lalu lintas pada simpang tersebut, untuk menciptakan suasana tertib berkendara.

“Mungkin karena tidak ada polisi yang bertugas di simpang ini, jadi mereka tidak takut melanggar aturan lalu lintas. Semoga pihak kepolisian menanggapi persoalan ini,” katanya.

Menanggapi itu, Kasatlantas Polres Tanggamus, AKP Dade Suhaeri, S.Kom mengakui kesadaran tertib berlalu lintas warga terutama pelajar di Kotaagung sangat rendah. “Padahal kita sudah gencar melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, tapi belum membuahkan hasil. Tertibnya hanya sesaat setelah itu mulai lagi tidak tertib,” katanya

Dade menghimbau agar masyarakat tertib berlalu lintas, bukan karena ada Polisi. Karena tertib berlalu lintas berguna untuk si pengendara agar tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan selama berkendara di jalan raya. “Jadi, tertib berlalu lintas itu untuk keselamatan diri kita sendiri,” kata dia.

Dade menegaskan, perlu ada kerja sama semua pihak untuk membentuk masyarakat khususnya pelajar menjadi tertib berlalu lintas. “Termasuk orangtua, guru, tokoh, dan peran sekolah,” ujarnya.

Pelajar, kata Dade merupakan generasi milenial yang harus peduli terhadap keselamatan lalu lintas, sekaligus menjadi ikon road safety. Sebab keselamatan adalah yang pertama dan utama, serta terus digelorakan dan menjadi perjuangan generasi milenial.

“Karena gerakan moral yang dilakukan generasi milenial ini akan menyelamatkan dari korban sia-sia di jalan raya,” tegasnya. (Sayuti)

Tanggapan Anda: