Beranda Daerah Lampung Tanggamus

Tanaman Kakao di Tanggamus Diserang Hama, Omzet Petani Turun Hingga 50%

46
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
https://www.kupastuntas.co/files/kota-bandar-lampung/2018-03/hama-serbu-kakao-petani-tanggamus-pemda-bantu-kami-01.jpg
Ilustrasi

Kupastuntas.co, Tanggamus – Ribuan tanaman kakao pada puluhan hektar lahan milik warga di Kecamatan Semaka dan Pematangsawa, Kabupaten Tanggamus, diserang hama penggerek dan mati pucuk. Akibatnya, hasil panen buah kakao mengalami penurunan hingga 50 persen.

Selain itu, petani kakao yang memiliki lahan berbatasan dengan hutan juga dihadapkan pada serangan tupai yang memakan isi buah kakao. Sedangkan hama penggerek buah menyebabkan buah kakao mengering sebelum dipanen, dan penyakit mati pucuk menyebabkan pertumbuhan tanaman kakao terganggu.

Darno (46), salah seorang petani kakao di Pekon Sedayu, Kecamatan Semaka  mengatakan, hama kakao tersebut telah menyerang tanaman kakaonya sejak beberapa tahun terakhir.

Pemilik dua ribu lebih tanaman kakao itu mengatakan, sebenarnya tanaman kakao sangat menguntungkan karena setiap pohon bisa dipanen tiga kali setahun dengan hasil 10 kilogram per pohon setiap panen. “Tetapi sejak terkena hama, tanaman kakao kami hanya bisa menghasilkan lima kilogram per pohon untuk satu masa panen,” katanya, Rabu (13/2/2019).

Kondisi ini, kata dia, menyebabkan penghasilannya dari tanaman kakao belakangan merosot hingga 50 %. Dimana hama itu menyerang buah kakao sehingga membuat biji buah menjadi rusak dan lengket hingga sulit dipanen.”Kondisi ini diperparah lagi dengan serangan hama tupai,” kata dia.

Berbagai upaya telah dilakukan para petani untuk mencegah penyebaran hama dengan menyemprot tanaman menggunakan insektisida, namun hasilnya tidak mampu mengendalikan penyebaran hama tersebut. “Tanaman kakao juga diserang penyakit mati pucuk,” kata Jumono (50), petani kakao di Pekon Pesanguan, Kecamatan Pematangsawa.

Untuk itu para petani kakao di wilayah ini meminta dinas terkait, mengambil langkah-langkah konkrit guna mengatasi serangan hama penyakit pada tanaman kakao ini. “Sejak tanaman kopi kami babat, otomatis sandaran harapan kami hanya pada kakao. Tetapi sudah harganya jatuh, tanaman kakao kami juga diserang penyakit dan menyebabkan produksi turun,” kata Fadli (42), petani kakao di Pekon Tanjungan, Kecamatan Pematangsawa. (Sayuti)

Facebook Comments