Caleg di Tubaba Diduga Rekayasa Surat Tanah Lapangan Sepakbola Terdampak Jalan Tol

58
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ilustrasi

Kupastuntas.co, Tulangbawang Barat РSadimin Mantan Kepalou Tiyuh Wonorejo, Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) diduga telah melakukan rekayasa Surat Tanah Lapangan Sepakbola yang terkena lintasan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS). Sadimin juga saat ini mengaku sebagai Calon Legislatif (Caleg) daerah setempat dari Partai Nasional Demokrat (NasDem).

Diceritakan oleh Ngadenan, Kepalou Tiyuh Wonorejo bahwa, tanah lapangan sepakbola itu memang bukan tanah R atau infrasemen lantaran tanah tersebut merupakan tanah masyarakat yang diberikan kepada tiyuh untuk kegunaan lapangan sepakbola.

“Kalau setahu saya itu bukan tanah R, jadi kronologisnya dulu menurut para tetua¬† tiyuh, tanah yang terkena jalan tol yang dikurangi 15 meter dalam 1 hektarnya sejumlah 65 hektar sehingga terwujudlah lapangan tersebut,” ungkap Ngadenan belum lama ini.

Kemudian, lanjut dia, sisa tanah tersebut kala itu dibelikan ladang lagi untuk aset Tiyuh yang sisa dari lapangan tersebut Kepalou Tiyuh tidak tau ada dimana lagi. “Yang jelas masyarakat hanya mempertanyakan lapangannya saja. Pada saat itu, dikumpulkanlah masyarakat setempat dan Kapolsek di Balai Tiyuh dan dia (Sadimin) berjanji akan mengganti lapangan sepakbola itu, tetapi nyatanya mentah juga,” ujar Ngadenan.

Dengan diganti kerugian tanah sepakbola tersebut dengan tol, ternyata tanah itu sudah ada Surat Hak Milik (SHM) atas nama Sadimin.

“Dan yang buat SHM itu dia sendiri. Sementara, itu jelas tanah Tiyuh. Untuk luas lapangan itu sendiri 100 meter persegi atau 1 hektar, tetapi yang terkena tol hanya beberapa meternya saja dan sisa dari pada lapangan itu di tanami singkong oleh pengaku tanah (Sadimin) tersebut,” tutur dia.

Ngadenan menegaskan, yang menjadi persoalannya saat ini kenapa tanah lapangan tersebut bisa diakui menjadi hak pribadi. Ngadenan sendiri menjabat sebagai Sekretaris tiyuh pada masa kepemimpinan Sadimin dahulu, dan dirinya mengaku mengundurkan diri pada tahun 2005.

“Karena saya tidak mau merekayasa atau mengganggu hak milik masyarakat sehingga saya mengundurkan diri di tahun 2005 lalu,” bebernya.

Dihubungi terpisah, Sadimin membenarkan jika persoalan itu sedang menimpa dirinya. Namun, ia belum bisa berkomentar banyak lantaran dirinya sedang tidak berada di Tubaba.

“Kok baru tahu sekarang. Kamis (7/2) besok nanti kita ketemu ya, saya masih di Bandar Lampung nggak enak ngomong di HP,” cetusnya melalui ponselnya sore ini. (Irawan/Bas/Lucky)

Tanggapan Anda: