Diserang Babi Hutan, Nenek 60 Tahun Dilarikan ke Rumah Sakit
Kupastuntas.co, Tanggamus - Saknuiyah (60), warga Dusun Sukajadi Pekon Sukabanjar, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus, harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batin Mangunang Tanggamus, akibat diserang seekor babi hutan, Minggu (1/9/2019).
Nenek Saknuiyah diserang babi hutan ketika tengah mencari batu apung di pantai dekat rumahnya, akibatnya ia harus kehilangan jari manisnya.
Hasan, anak korban menuturkan, pagi itu ibunya sedang mencari batu apung di pantai dekat rumahnya, dimana warga setempat biasa menggunakan batu apung itu untuk membersihkan peralatan dapur. Tanpa diketahui tiba-tiba muncul seekor babi hutan yang langsung menyeruduk korban.
Korban yang diserang babi hutan secara tiba-tiba itu melakukan perlawanan, dan sempat terjadi pergumulan antara korban dan babi hutan itu. "Akibat serangan babi hutan itu, jari manis ibu saya putus, digigit babi hutan, dan memar di dada," kata Hasan.
Warga yang melihat kejadian itu langsung menolong korban dan mengevakuasinya. Sementara warga lainnya mengepung dan menangkap babi hutan tersebut dan membunuhnya.
Sedangkan korban lalu dilarikan ke tempat mantri kesehatan, Suwarno. Karena tidak memiliki alat yang memadai, korban dibawa ke RSUD Batin Mengunang Tanggamus. "Hari Senin (2/9/2019), ibu saya mau dioperasi," ujar Hasan.
Ristiani, tokoh masyarakat setempat menuturkan, serangan babibhutan dan sampai melukai warga ini baru pertama kali terjadi. Meski selama ini sering terlihat adanya babi turun gunung, tapi tidak pernah terjadi seperti itu.
"Kalau ngamuk dan menyerang warga seperti itu gak pernah, tapi kalau terlihat sedang makan tanaman palawija warga sering,” ujarnya.
Dikatakan Ristiani, Dusun Sukajadi berada dibawah perbukitan, sehingga bagi warga disana adanya hewan hutan yang berkeliaran di pemukiman menjadi hal yang biasa. Biasanya, mereka usir hanya menggunakan alat seadanya seperti dilempar dengan batu atau kentongan, tergantung hewannya.”Biasanya babi keluar pada sore dan malam hari. Tapi kalau pagi justru jarang,” ujarnya.
Ristuani yang juga mantan Kepala Pekon Sukabanjar ini menghimbau agar masyarakat khususnya yang tinggal berdekatan langsung dengan perbukitan agar lebih waspada saat beraktifitas. Sebab, yang namanya hewan jinak sekalipun akan ada saatnya menjadi buas.”Kejadian ini jadikan sebagai pelajaran agar kedepan lebih waspada,”harapnya. (Sayuti)
Berita Lainnya
-
Air Mata Haru Iringi Pelepasan 249 Jemaah Haji Tanggamus ke Tanah Suci
Kamis, 07 Mei 2026 -
Angka Putus Sekolah di Tanggamus Tembus 2.256 Siswa
Kamis, 07 Mei 2026 -
Rekrutmen Magang ke Jepang Dibuka di Tanggamus, Pendaftar Tembus 150 Orang
Kamis, 07 Mei 2026 -
PN Kota Agung Batalkan Status Tersangka Dua Warga, IKADIN Lampung Apresiasi Perjuangan Advokat LBH Tanggamus
Rabu, 06 Mei 2026








