• Jumat, 10 April 2020

Panen Raya, Harga Duku di Tanggamus Anjlok

Rabu, 26 Februari 2020 - 15.32 WIB - 279

Tanggamus - Para petani duku di Kabupaten Tanggamus mengeluhkan harga buah duku yang terus merosot. Harga buah duku sortiran di tingkat petani Rp5 ribu per kilogram.

Anjloknya harga buah duku ini disebabkan pada saat yang sama semua wilayah di Kabupaten Tanggamus, bahkan di Sumatera Selatan sedang musim raya duku.

"Sudah hampir seminggu ini harga duku sortiran hanya dibeli Rp5 ribu sekilonya. Sebelumnya Rp6 ribu per kilonya, itupun langsung diterima di bawah pohon," kata Muhamad (55), petani duku di Pekon Sampang Turus, Kecamatan Wonosobo, Tanggamus, Rabu (26/2/2020).

Menurut Muhamad, anjloknya harga buah duku saat ini disebabkan panennya serentak. "Di Tanggamus, bahkan di Lampung, saat ini panen duku semua, serentak. Ditambah lagi di daerah Komering (Ogan Komering Ulu), Palembang juga musim duku," kata dia.

Dayat (43), petani duku di Pekon Way Panas, Kecamatan Wonosobo, Tanggamus menuturkan, dengan harga saat ini, tidak sebanding dengan biaya perawatan kebun selama setahun terakhir. Sebab, setiap pohon duku membutuhkan perawatan. 

"Masih untung kami tidak cuma mengandalkan duku saja. Ada coklat, duren, pisang, kelapa, pepaya dan hasil tani lain. Kalau hanya ngandalin duku, bisa ga sekolah anak kami," katanya.

Para petani mengaku dapat menikmati keuntungan jika harga duku di kebun di atas Rp10 ribu per kilogram. Harga tersebut dapat menutupi biaya produksi perawatan, biaya upah petik, dan biaya angkut.  "Kalau Rp10 ribu per kilogramnya, bisa bernapas lega kita petani," ujar Sobri (50), petani di Pekon Kalimiring, Kecamatan Kotaagung Barat, Tanggamus.

Menghadapi kondisi ini, para petani hanya bisa pasrah. Mereka mau tak mau harus menjual duku mereka dengan harga yang murah. "Mau diapain lagi, memang seperti inilah kehidupan petani, tidak punya nilai tawar. Buah duku harus kita panen. Karena duku ini tidak bisa ditunda-tunda panennya kalau sudah masak. Kita jual dengan harga apa adanya dari pada busuk," keluh Tono, petani di Kotaagung Timur. (*)

  • Editor :