Ramai Grup Pasangan Sejenis di Medsos, Sosiolog Ingatkan Peran Keluarga dan Negara
Grup Gay Bandar Lampung di Facebook yang meresahkan warga. Foto: Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Keberadaan grup "Gay Bandar Lampung" di media
sosial Facebook yang beranggotakan lebih dari 11 ribu
akun di Facebook tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat Bandar
Lampung.
Fenomena ini memunculkan beragam respons dari warga, termasuk kekhawatiran terhadap dampak sosialnya.
Menanggapi hal ini, Sosiolog Universitas Lampung (Unila), Erna Rochana, menilai kemunculan kelompok-kelompok semacam itu sebagai gejala sosial yang mencerminkan krisis identitas dan lemahnya kontrol sosial di tengah masyarakat.
“Banyak pasangan sejenis yang tergabung dalam grup media sosial ini menunjukkan bahwa trend kehidupan yang bingung, tidak bertanggungjawab, hanya mengejar kesenangan sesaat. Sebagian besar dari mereka masuk ke dalam hubungan ini karena lingkungan yang permisif dan kurangnya pengawasan dari keluarga,” ujar Erna, Senin (9/6/2025).
BACA JUGA: Heboh! Grup Facebook “Gay Bandar Lampung” Diikuti Belasan Ribu Anggota
Ia menyoroti peran penting keluarga dalam membentuk karakter
anak. Menurutnya, orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau kehidupan
sosial dapat menciptakan jarak emosional dengan anak-anak mereka.
“Faktor sosial yang utama adalah keluarga yang prematur, suami yang tidak menjalankan fungsi, hingga ibu yang menjadi tulang punggung keluarga tanpa dukungan. Menganggap uang menjadi satu -satunya solusi terbaik bagi anaknya, maka ini semua menyumbang pada kegagalan membentuk ketahanan pribadi,” tambahnya.
Erna juga menyoroti lemahnya peran institusi pendidikan dan pemerintah dalam menciptakan ruang sosial dan ekonomi yang sehat bagi generasi muda.
Ia menilai kurangnya lapangan kerja dan banyaknya pengangguran membuat anak muda rentan terhadap aktivitas iseng yang menyimpang.
“Awalnya banyak dari mereka adalah korban, kemudian ikut menularkan pada yang lain. Ini semacam efek domino dari perkembangan group sesamanya untuk saling melindungi. Serta dari ketidakhadiran negara dalam menyediakan kehidupan yang layak,” tegasnya.
Terkait dengan maraknya kebebasan ekspresi di media sosial, Erna menilai bahwa ruang digital telah menjadi sangat liar dan nyaris tanpa batas, sementara norma-norma sosial dan budaya lokal justru makin terpinggirkan.
“Yang tersisa hanya nilai-nilai spiritual seperti yang tertuang dalam kitab suci, salah satunya Al-Qur’an. Itu pun hanya punya pengaruh bagi mereka yang percaya dan menjalankan,” pungkasnya. (*)
Berita Lainnya
-
Kanwil Kemenag Lampung: Ada Kendala Jaringan Internet di Daerah Saat Tes Kompetensi Akademik
Rabu, 28 Januari 2026 -
Realisasi Investasi Tembus Target, Akademisi Sarankan Insentif untuk Investor
Rabu, 28 Januari 2026 -
Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia Luncurkan Buku Antologi Whisper from Desa Payungi
Rabu, 28 Januari 2026 -
Polri di Bawah Presiden Disorot, Pengamat Ingatkan Risiko Intervensi Politik
Rabu, 28 Januari 2026









