• Jumat, 29 Agustus 2025

‎Diduga Keracunan MBG, Dua Siswa SD di Bandar Lampung Dilarikan ke Rumah Sakit

Jumat, 29 Agustus 2025 - 19.16 WIB
90

‎Arsen dan Kiano saat tengah berbaring menunggu giliran pemeriksaan lanjutan oleh Dokter Rumah Sakit Urip Sumoharjo. Foto: Yudi/kupastuntas.co

‎Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Dua kakak beradik, siswa SD Negeri 2 Sukabumi, Kota Bandar Lampung, diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) program pemerintah pusat.

‎Keduanya, Arsen (10) dan Kiano (8), harus dilarikan ke Rumah Sakit Urip Sumoharjo oleh orang tuanya.

‎Ibu kandung korban, Lena mengatakan, anak pertamanya yang duduk di kelas 4 mulai mengeluh sakit perut sejak pagi, sehingga tidak bisa berangkat ke sekolah.

‎“Anak saya yang pertama dari tadi pagi sudah sakit perut, jadi tidak sekolah. Sementara adiknya yang kelas 2, pulangnya juga bilang sakit perut, mual, muntah sampai diare,” kata Lena, saat ditemui dihalaman Rumah Sakit Urip Sumoharjo, Jumat (29/8/25) Malam.

‎Menurut Lena, kedua anaknya mengalami keluhan yang sama setelah menyantap makanan MBG di sekolah.

‎“Mereka muntah-muntah sampai mencret. Karena khawatir, saya langsung bawa ke rumah sakit,” ungkapnya.

‎Ia mengaku sudah melaporkan kejadian itu ke pihak sekolah. Namun, sekolah masih menindaklanjuti dugaan keracunan tersebut.

‎“Saya sudah lapor ke sekolah, katanya mereka masih menindaklanjuti permasalahan ini,” katanya.

‎Berdasarkan informasi yang diterima dari orang tua siswa lainnya, lanjut Lena, sejumlah anak di sekolah itu juga mengalami keluhan serupa.

‎Ia menyebut, dari kelas 4 sudah ada sembilan orang siswa yang sakit, sementara dari kelas 2 terdapat lima orang.

‎“Kalau yang lain saya belum tahu, tapi informasi yang saya dapat memang ada beberapa anak lagi yang sakit,” ujarnya.

‎Meski anak-anaknya tidak pernah mengeluhkan rasa makanan MBG, Lena mendengar sejumlah siswa lain menilai ada yang janggal dari rasa makanan tersebut.

‎“Kalau anak saya enggak ada keluhan soal rasanya, tapi teman-teman mereka ada yang mengeluh tentang rasa makanan itu,” terangnya.

‎Ia pun berharap program MBG bisa dijalankan dengan lebih baik, terutama dari sisi kebersihan dan proses pengolahan.

‎“Harapan saya, MBG ini harus bersih. Proses pembuatannya juga jangan dilakukan dari malam hari. Kalau memang untuk makan siang, sebaiknya dibuat pagi hari agar makanan masih segar sampai ke anak-anak,” harapnya.

‎Ketika ditanya apakah masih akan mengizinkan kedua putranya menyantap MBG di sekolah, Lena menyatakan akan menunggu langkah yang dilakukan pihak sekolah maupun penyedia makanan.

‎“Kita lihat saja tindakannya, sekolah mau berbenah atau tidak. Kalau sudah ada perbaikan, baru nanti kita pikirkan lagi,” tandasnya. (*)