• Kamis, 08 Januari 2026

Produksi Kopi Lampung Barat Diprediksi Turun 2026, Perubahan Iklim Jadi Penyebab

Rabu, 07 Januari 2026 - 11.31 WIB
31

Kabid Perkebunan pada Disbunnak Lampung Barat, Salaffudin. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Produksi kopi robusta di Lampung Barat diprediksi mengalami penurunan pada tahun 2026. Perubahan iklim yang semakin tidak menentu menjadi faktor utama yang memengaruhi produktivitas perkebunan kopi.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Lampung Barat, Salaffudin, mengatakan kondisi iklim saat ini berbeda jauh dibandingkan saat sebagian besar tanaman kopi mulai ditanam puluhan tahun lalu.

Menurutnya, banyak tanaman kopi di Lampung Barat merupakan tanaman lama yang ditanam pada era 1980-an hingga 1990-an, sehingga daya tahannya tidak lagi optimal menghadapi perubahan iklim dan serangan penyakit.

"Jenis bibit yang ditanam dulu tentu berbeda dengan kondisi sekarang. Iklim berubah, penyakit juga berubah, sehingga tanaman lama lebih rentan,” ujar Salaffudin, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (7/1/2026).

Ia menjelaskan, perubahan pola hujan dan suhu berdampak langsung pada fase pembungaan dan pembuahan kopi, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap jumlah dan kualitas panen para petani di Bumi Beguai Jejama Sai Betik.

Kondisi tersebut diperparah dengan usia tanaman yang sudah melewati masa produktif ideal, sehingga hasil panen cenderung menurun dari tahun ke tahun.

Untuk mengantisipasi hal itu, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat mendorong program peremajaan tanaman kopi sebagai langkah strategis menjaga keberlanjutan produksi.

Salaffudin menyebut, pada tahun 2025 Lampung Barat mendapatkan dukungan pemerintah pusat berupa bantuan sekitar 200 ribu batang bibit kopi untuk program peremajaan kopi, bantuan tersebut berasal dari Kementerian.

Bantuan tersebut dialokasikan dengan ketentuan sekitar 1.000 batang per hektare dan disalurkan langsung kepada kelompok tani sesuai regulasi Kementerian Pertanian.

Berdasarkan hasil verifikasi pemerintah pusat, terdapat sekitar 22 kelompok tani di Lampung Barat yang dinyatakan memenuhi syarat untuk menerima bantuan bibit tersebut.

Selain peremajaan, Disbunnak Lampung Barat juga fokus memberikan edukasi kepada petani agar pola budidaya kopi disesuaikan dengan perkembangan iklim saat ini.

Menurut Salaffudin, peningkatan produktivitas kopi tidak hanya ditentukan oleh bantuan bibit, tetapi juga oleh kesadaran dan ketekunan petani dalam merawat kebun.

"Petani harus punya rasa senang dan kepedulian terhadap kebunnya. Kalau itu sudah ada, pemeliharaan seperti pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian hama akan dilakukan dengan maksimal,” katanya.

Ia menambahkan, perawatan yang konsisten menjadi kunci agar tanaman kopi tetap produktif meski dihadapkan pada tantangan iklim. Terkait produksi, Salaffudin menyebutkan produksi kopi Lampung Barat pada tahun 2025 diperkirakan masih relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Produksi kopi pada 2024 dan 2025 berada di kisaran 62 ribu ton, namun tanpa upaya peremajaan dan perbaikan budidaya secara berkelanjutan, produksi pada tahun 2026 diprediksi akan mengalami penurunan. (*)