PDI Perjuangan Lampung Tolak Pilkada Lewat DPRD, Yanuar: Demokrasi di Tangan Rakyat
Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan Lampung, Yanuar Irawan. Foto: Sandika/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Wacana pemilihan kepala daerah
(Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kian menguat dan
menjadi perbincangan publik.
Di tingkat nasional, sedikitnya enam partai parlemen di DPR RI
menyatakan dukungan terhadap skema tersebut, yakni Gerindra, Golkar, Demokrat,
NasDem, dan PAN. Sementara itu, PDI Perjuangan secara tegas menyatakan
penolakan, sedangkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masih dalam tahap
pengkajian.
Partai-partai pendukung wacana Pilkada melalui DPRD beralasan
mekanisme tersebut dinilai lebih efisien serta diklaim dapat memperbaiki
kualitas demokrasi. Namun, pandangan berbeda disampaikan PDI Perjuangan yang
menilai kebijakan tersebut justru berpotensi menjadi kemunduran demokrasi.
Di tingkat daerah, PDI Perjuangan Lampung menyatakan sikap tegas
menolak wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Partai berlambang banteng
moncong putih itu menilai, sistem tersebut akan menggeser kedaulatan rakyat
dalam menentukan pemimpinnya.
Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan
Lampung, Yanuar Irawan, mengatakan pemilihan kepala daerah melalui DPRD akan
membawa demokrasi kembali ke titik awal.
“Menurut pandangan kami, jika pemilihan kepala daerah dilakukan
melalui DPRD, demokrasi kita justru kembali ke awal. Demokrasi itu
kedaulatannya berada di tangan rakyat,” ujar Yanuar saat dikonfirmasi, Senin
(12/01/2026).
Meski DPRD merupakan representasi rakyat, lanjut Yanuar,
pemilihan langsung tetap memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk
menentukan pemimpin sesuai dengan karakter dan kebutuhan daerahnya.
“Dengan dipilih langsung oleh rakyat, kepala daerah bisa
benar-benar sesuai dengan keinginan masyarakat dan karakter wilayahnya. Itu
salah satu pertimbangan penting,” jelasnya.
Yanuar juga menyinggung alasan tingginya biaya politik yang
kerap dijadikan dasar untuk mengubah sistem Pilkada. Menurutnya, jika demokrasi
saat ini dinilai bermasalah, maka yang perlu dibenahi adalah akar persoalannya,
bukan sistem pemilihannya.
“Kalau demokrasi kita sekarang bermasalah, maka masalahnya yang
harus diselesaikan. Ibarat ada tikus di lumbung padi, yang diusir itu tikusnya,
bukan lumbung padinya yang dibakar,” tegasnya.
Terkait biaya politik, Yanuar menilai partai politik memiliki
tanggung jawab besar untuk menekan ongkos politik, mengingat seluruh proses
politik bermuara pada partai.
“Kalau alasannya biaya besar, ya bagaimana cara menekan biaya
itu. Partai politik juga punya peran besar karena semuanya bermuara di partai,”
katanya.
Ia menegaskan bahwa PDI Perjuangan sebagai partai kader tidak
semata-mata berorientasi pada menang atau kalah dalam kontestasi politik,
melainkan pada kualitas kepemimpinan dan kesejahteraan rakyat.
“Ketua Umum kami, Ibu Megawati Soekarnoputri, bukan bicara soal
kalah atau menang, tetapi bagaimana kepala daerah yang diusung benar-benar
mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujar Yanuar.
Menurutnya, jika tujuan politik hanya sekadar kemenangan, maka
cukup mencari kandidat dengan modal besar. Namun, hal tersebut bukan prinsip
yang dipegang PDI Perjuangan.
“Kalau sekadar mencari menang, cari saja yang banyak uangnya.
Tapi itu bukan esensi demokrasi,” pungkasnya.
Sementara itu, Anggota Fraksi PKS DPRD Lampung, Syukron Muhtar,
menyampaikan bahwa hingga kini PKS belum mengambil sikap final terkait wacana
Pilkada melalui DPRD. Menurutnya, persoalan tersebut sangat strategis sehingga
tidak perlu diputuskan secara tergesa-gesa.
“PKS memandang tidak perlu tergesa-gesa memutuskan apakah
Pilkada dilakukan melalui DPRD atau tetap langsung. Ini isu yang sangat
strategis dan perlu dikaji secara mendalam, baik dari sisi ekonomi, sosial,
maupun dampak lainnya,” ujar Syukron, Senin (12/01/2026).
Selain itu, Syukron juga menilai tidak etis jika elit politik
terlalu fokus membahas wacana perubahan sistem Pilkada di tengah kondisi bangsa
yang sedang menghadapi bencana alam di sejumlah daerah.
“Di tengah penanggulangan bencana di Sumatera Barat, Sumatera
Utara, dan Aceh, menurut kami tidak etis jika elit bangsa justru sibuk membahas
sistem Pilkada. Seharusnya fokus utama saat ini adalah penyelesaian dan
penanganan bencana,” tegasnya.
Ia menambahkan, PKS Lampung memandang bahwa kewenangan terkait
perubahan sistem Pilkada memang berada di pemerintah pusat, namun aspirasi dan
dampaknya di daerah tetap perlu menjadi pertimbangan serius. (*)
Berita Lainnya
-
Usai Konferda, PDI Perjuangan Lampung Perkuat Konsolidasi hingga ke Akar Rumput
Kamis, 11 Desember 2025 -
Surya Paloh Dukung NasDem Lampung Pasang Target Tiga Besar di Pemilu 2029
Sabtu, 25 Oktober 2025 -
Hanan Umumkan Susunan Pengurus Golkar Lampung, Berikut Ini Daftarnya
Senin, 20 Oktober 2025 -
Lima Nama Rampung Fit and Proper Test Ketua DPD PDI Perjuangan Lampung, Winarti: Dukungan Penuh untuk Sudin
Senin, 29 September 2025









