• Senin, 19 Januari 2026

400 Taksi Listrik Disiapkan di Lampung, Pakar Ingatkan Risiko Macet dan Minim SPKLU

Senin, 19 Januari 2026 - 17.10 WIB
47

Pakar Transportasi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Muhammad Abi Berkah Nadi. Foto: Ist

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung berencana menghadirkan layanan taksi berbasis kendaraan listrik untuk memperkuat transportasi ramah lingkungan di wilayah perkotaan. Sebanyak 400 unit taksi listrik disiapkan untuk beroperasi di Kota Bandar Lampung dan daerah sekitarnya.

Program ini dinilai berpotensi mendapat sambutan positif dari masyarakat, terutama karena pilihan transportasi publik di Lampung masih terbatas dan didominasi layanan berbasis aplikasi. Selain itu, penggunaan kendaraan listrik juga diharapkan dapat menekan polusi udara di kawasan perkotaan.

Pakar Transportasi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Muhammad Abi Berkah Nadi, menilai kehadiran taksi listrik bisa menjadi inovasi baru di sektor transportasi Lampung.

“Dari pandangan saya, kehadiran taksi listrik ini kemungkinan besar akan mendapat respons yang sangat baik, tidak hanya dari warga Kota Bandar Lampung, tetapi juga dari daerah lain di sekitarnya,” kata Abi, Senin (19/1/2026).

Ia menjelaskan, saat ini sistem transportasi di Lampung masih sangat bergantung pada angkutan berbasis aplikasi.

“Kalau dibandingkan dengan kota-kota besar lain, transportasi di Lampung memang masih didominasi angkutan online. Maka hadirnya taksi listrik bisa menjadi alternatif baru yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Menurut Abi, penggunaan kendaraan listrik berpotensi mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama polusi udara di perkotaan.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa kehadiran taksi listrik tidak boleh menggantikan peran angkutan umum massal seperti bus dan angkutan kota.

“Taksi listrik ini seharusnya menjadi pemantik, bukan pengganti. Harapannya, kehadiran taksi listrik bisa mendorong kembali aktifnya transportasi publik seperti bus dan angkot yang selama ini mulai ditinggalkan,” jelasnya.

Abi juga menyoroti kesiapan infrastruktur, khususnya keberadaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), sebagai tantangan utama yang harus dipastikan pemerintah daerah sebelum program dijalankan.

“Tantangan utamanya adalah bagaimana mengakomodir lokasi pengisian daya. Ini harus dipikirkan sejak awal, karena kendaraan listrik sangat bergantung pada charging, berbeda dengan kendaraan berbahan bakar minyak,” tegasnya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya regulasi yang jelas dan integrasi antarmoda agar kehadiran taksi listrik tidak menimbulkan persaingan tidak sehat dengan angkutan umum yang sudah ada.

“Skemanya harus jelas. Angkot dan bus diperkuat dulu, rutenya dihidupkan kembali, lalu taksi listrik hadir sebagai pendukung. Integrasi antarmoda ini penting supaya sistem transportasinya sinkron,” ujarnya.

Menurut Abi, penambahan ratusan armada baru juga berpotensi menambah kepadatan lalu lintas jika tidak diatur dengan baik, mengingat kondisi ruas jalan di Bandar Lampung yang relatif sempit, terutama di kawasan rawan macet seperti Kedaton, Antasari, dan Pahoman.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia menyarankan agar pemerintah menyiapkan pool dan titik pemberhentian khusus yang terintegrasi dengan SPKLU.

“Alangkah baiknya jika disiapkan halte atau pool yang terintegrasi dengan SPKLU, supaya kendaraan tidak berhenti sembarangan dan tidak menimbulkan konflik lalu lintas,” pungkasnya. (*)