Bawaslu Harus Jadi Benteng Moral Demokrasi Elektoral
Anggota Bawaslu RI, Herwyn JH Malonda,. Foto: Ist.
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Anggota Bawaslu RI, Herwyn JH Malonda, menyebut Bawaslu tidak hanya hadir sebagai pelengkap administratif, melainkan sebagai penjaga sistem demokrasi dari ancaman yang kian kompleks.
Menurut Herwyn, demokrasi tanpa pengawasan yang kuat adalah demokrasi yang rapuh.
“Kita harus memastikan Bawaslu menjadi benteng moral demokrasi elektoral. Transformasi kelembagaan sangat diperlukan agar kita mampu membaca gejala sosial-politik secara dini,” ujar Herwyn dilansir dari website Bawaslu RI, Senin (19/1/2026).
Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Diklat, dan Organisasi Bawaslu RI ini menambahkan, dinamika politik saat ini menuntut Bawaslu untuk lebih sigap.
Ia mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang mereduksi kualitas pemilu, di antaranya penyebaran hoaks dan disinformasi yang mengaburkan fakta.
“Selain itu terdapat persoalan politik uang, intimidasi, dan netralitas aparatur pemerintahan,” terangnya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Herwyn merumuskan arah transformasi Bawaslu yang bertumpu pada empat pilar utama guna menciptakan lembaga yang kuat secara hukum, kredibel secara moral, adaptif secara teknologi, dan dipercaya publik.
Pertama, kata Herwyn, reformasi regulasi untuk menyempurnakan aturan main agar tidak ada celah bagi pelanggaran. Kedua, penguatan kapasitas dan independensi untuk memastikan jajaran pengawas memiliki integritas yang tidak dapat diintervensi.
“Selanjutnya ada partisipasi publik, membangun kolaborasi multipihak agar masyarakat aktif mengawasi. Lalu digitalisasi pengawasan dengan memanfaatkan teknologi dan literasi data untuk efektivitas kerja,” ungkapnya.
Menurut Herwyn, Bawaslu masa depan adalah learning institution atau lembaga pembelajar. Lembaga ini tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi terus berkembang melalui riset dan data.
“Kami ingin Bawaslu menjadi institusi yang membuka ruang partisipasi publik secara bermakna. Digitalisasi bukan sekadar tren, tapi alat untuk memperkuat legitimasi publik,” tambahnya. (*)
Berita Lainnya
-
Mahasiswi Universitas Teknokrat Indonesia Raih Juara 1 Miss Lampung Ambassador 2026
Senin, 19 Januari 2026 -
Menteri Kesehatan Sebut 28 Juta Warga Indonesia Alami Masalah Mental
Senin, 19 Januari 2026 -
PLN UID Lampung Kirim Relawan Batch 4 ke Aceh, Pastikan Layanan Tetap Berjalan Normal
Senin, 19 Januari 2026 -
Calon Pengurus PAC PDI Perjuangan se-Lampung Selatan Jalani Fit and Proper Test
Senin, 19 Januari 2026









