• Selasa, 27 Januari 2026

Pemkot Ungkap Tiga Titik Pembangunan Koperasi Merah Putih di Metro

Selasa, 27 Januari 2026 - 14.09 WIB
58

Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Metro Selatan, Selasa (27/1/2026). Foto: Arby/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Program nasional Koperasi Merah Putih (KMP) di Kota Metro mulai menunjukkan progres awal. Pemerintah pusat melalui kementerian terkait menargetkan pembangunan koperasi tersebut sebagai instrumen penggerak ekonomi kerakyatan hingga ke tingkat kelurahan.

Namun di lapangan, realisasinya masih bertahap dan menghadapi sejumlah kendala, terutama soal ketersediaan lahan. Hal itu diungkapkan Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Metro Selatan, Selasa (27/1/2026).

Di hadapan masyarakat, Rafieq menyampaikan bahwa hingga saat ini baru terdapat tiga titik lokasi KMP yang dipastikan akan dibangun di Kota Metro.

“Sekarang sudah ada tiga titik yang akan dibangun oleh kementerian. Capaiannya adalah 22 kelurahan, bangunan Koperasi Merah Putih itu harus bisa terbangun di Kota Metro supaya bisa mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat di seluruh kelurahan,” kata Rafieq.

Dari tiga lokasi tersebut, dua di antaranya sudah mulai memasuki tahap fisik awal. Rafieq menyebut, pembangunan di Kelurahan Purwoasri telah berjalan dengan ditandainya pengerjaan pondasi bangunan. Sementara itu, lokasi di Kelurahan Rejomulyo belum memulai pembangunan fisik, meski status lahan disebut telah siap.

“Tadi saya cek untuk Rejomulyo belum mulai, tapi untuk lahannya insyaallah sudah siap. Yang saya cek juga di Purwoasri sudah mulai bangun pondasi, dan yang di Yosomulyo nanti akan saya cek juga,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pelaksanaan program KMP di Metro masih berada pada tahap awal, meski pemerintah daerah menargetkan cakupan pembangunan yang cukup ambisius, yakni menyentuh seluruh 22 kelurahan.

Target ini sekaligus menempatkan KMP sebagai salah satu program strategis nasional yang diharapkan mampu memperkuat basis ekonomi masyarakat dari bawah.

Saat ditanya mengenai kemungkinan penyelesaian pembangunan KMP pada tahun 2026, Rafieq menyatakan optimisme. Ia menilai program ini masuk dalam kategori prioritas sehingga secara logika harus dikebut penyelesaiannya.

“Harusnya, sepertinya itu prioritas cepat selesai,” katanya.

Namun demikian, Rafieq tidak menampik adanya hambatan serius yang berpotensi memperlambat realisasi KMP di seluruh kelurahan. Kendala utama yang dihadapi, menurutnya, adalah ketersediaan lahan yang sesuai dengan kebutuhan teknis pembangunan.

“Kendalanya di kelurahan lain itu ada pada lahan. Kebutuhannya itu adalah seribu meter persegi kotak, sedangkan di kelurahan lain masih belum ketemu lahannya,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski program telah dicanangkan secara nasional, kesiapan daerah masih menjadi faktor penentu keberhasilan. Persyaratan luas lahan yang mencapai 1.000 meter persegi menjadi tantangan tersendiri, terutama di wilayah perkotaan dengan keterbatasan ruang.

Meski begitu, Pemerintah Kota Metro memastikan pencarian lahan akan terus dilakukan demi memenuhi target pembangunan KMP secara menyeluruh.

“Tapi akan terus dicari, karena memang targetnya harus terbangun semua,” tandas Rafieq.

Program Koperasi Merah Putih sendiri digadang-gadang sebagai motor baru ekonomi kerakyatan. Namun, publik kini menunggu sejauh mana komitmen dan kecepatan realisasi di lapangan mampu menjawab ekspektasi tersebut, khususnya di tengah kebutuhan masyarakat akan akses ekonomi yang nyata dan berkelanjutan. (*)