Di Antara Denting Tembaga dan Mimpi Anak Desa
Sanggar musik di Desa Sripendowo, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur. Foto: Agus/kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Lampung Timur - Irama gamelan mengalun pelan, lalu menguat, berpadu dari tabuhan kendang, kenong, dan gong yang bersahut-sahutan. Denting logam dari bilah-bilah tembaga itu menggema di ruang sederhana Sanggar milik Suyoto, Desa Sripendowo, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur.
Siang itu, bukan para maestro tua yang memainkan nada, melainkan anak-anak belasan tahun yang masih duduk di bangku SMP.
Dengan wajah serius dan mata yang fokus, jemari-jemari muda itu menari di atas alat musik tradisional. Setiap pukulan terdengar mantap, seolah membawa pulang suasana ke masa silam ke zaman ketika gamelan menjadi denyut utama setiap perhelatan kampung.
Di sanggar itu, semangat tampak menyala. Anak-anak SMP PGRI Sripendowo, mayoritas kelas 1 dan 2, tekun mengikuti setiap arahan pelatih. Sudah dua tahun kegiatan ini berjalan, tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Pemilik sanggar, Suyoto, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Sripendowo mengatakan, latihan rutin digelar dua kali dalam sepekan.
"Latihan gamelan satu minggu dua kali, hari Selasa dan Sabtu. Setiap latihan tiga jam, mulai pukul 14.00 sampai 17.00 WIB,” kata Suyoto saat ditemui di sanggarnya. Kamis (12/2/2026).
Di sudut ruangan, pria sepuh, Surono setia mendampingi. pria itu tak sekadar mengajarkan teknik, tetapi juga merawat rasa.
Mata mereka jeli mengamati setiap gerakan tangan saat memukul kendang, kenong, dan gong. Jika ada nada yang meleset, teguran lembut segera terdengar, mengembalikan irama pada harmoni.
Suyoto berharap, kelak anak-anak didiknya mampu memainkan gamelan secara profesional dan tampil dalam berbagai acara lokal desa, mulai dari peringatan ulang tahun desa, hajatan masyarakat, hingga pentas hiburan lain yang berkaitan dengan seni tradisi.
“Ini juga bagian dari edukasi. Di tengah zaman digital sekarang, gamelan adalah alat musik lokal yang bisa saja hilang kalau tidak ada generasi penerus,” ujarnya.
Salah satu penabuh kendang yang paling menonjol adalah Andrian, siswa kelas 1 SMP. Sejak kelas 1 SD, ia sudah akrab dengan tabuhan kendang. Kini, di usianya yang beranjak remaja, telapak tangannya semakin lincah memukul kendang berbahan kulit sapi.
Benturan antara telapak tangan dan permukaan kendang yang keras seolah tak lagi terasa sakit. Baginya, rasa perih telah menyatu dengan hobi.
Di wajahnya tergambar kenikmatan saat irama mengalun.
Andrian mengaku menekuni kendang bukan karena faktor keturunan. Ia hanya jatuh cinta pada bunyi kendang yang kerap terdengar dalam setiap hiburan jaran kepang di kampungnya.
"Saya memang senang dengar suara kendang. Jadi ingin bisa main sendiri,” ujarnya.
Ia pun menyimpan mimpi sederhana namun teguh: suatu hari menjadi penabuh kendang profesional, menghidupkan panggung-panggung desa dengan tabuhan yang ia cintai.
Di tengah derasnya arus gawai dan gim daring, denting gamelan di Sanggar Suyoto menjadi penanda bahwa tradisi belum sepenuhnya redup. Di tangan anak-anak desa itu, nada-nada lama menemukan nafas baru yang mengalun, menjaga warisan agar tetap hidup di bumi Sripendowo. (*)
Berita Lainnya
-
Sopir Mobil MBG Tewas Usai 'Adu Banteng' dengan Truk di Lampung Timur
Kamis, 12 Februari 2026 -
Bobol Toko Pakaian di Labuhan Ratu Lampung Timur, Dua Pemuda Dibekuk Polisi
Kamis, 12 Februari 2026 -
Tiga Pemburu Rusa Ditangkap di Taman Nasional Way Kambas, Bawa Senpira dan 40 Kg Daging
Rabu, 11 Februari 2026 -
Puluhan Tahun Mangkrak, Jembatan Sungai Batanghari Lamtim Akhirnya Masuk Anggaran Pusat
Kamis, 05 Februari 2026









