Diterjang Hujan Angin, Dua Sekolah di Metro Pusat Rusak
Potret pagar bangunan SDN 8 Yosomulyo yang roboh. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Metro - Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Metro dalam beberapa jam terakhir tak hanya menyebabkan banjir dan pohon tumbang, tetapi juga merusak fasilitas pendidikan, Sabtu (14/2/2026).
Dua sekolah di Kecamatan Metro Pusat dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah, memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur pendidikan di tengah cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Dari informasi yang dihimpun Kupastuntas.co, kerusakan pertama terjadi di SD Negeri 8 Yosomulyo, Metro Pusat. Pagar sekolah sepanjang kurang lebih belasan meter dilaporkan roboh setelah diduga tidak mampu menahan tekanan air yang meningkat akibat hujan deras. Runtuhnya pagar tersebut meninggalkan puing-puing material di sekitar lingkungan sekolah dan membuka akses area sekolah tanpa pembatas.
Peristiwa ini memicu pertanyaan serius terkait kekuatan konstruksi dan kesiapan fasilitas pendidikan dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Pagar sekolah bukan hanya elemen estetika, tetapi juga bagian penting dari sistem keamanan lingkungan belajar.
Kerusakan lebih parah terjadi di TK Negeri 1 Metro Pusat. Berdasarkan informasi masyarakat sekitar, plafon atap bangunan sekolah ambruk dan menimpa sejumlah peralatan kantor yang berada di bawahnya, termasuk komputer dan printer yang digunakan untuk operasional administrasi sekolah.
Tak hanya itu, teras spandek yang berada di belakang ruang kelas juga dilaporkan rubuh sepanjang kurang lebih 20 meter. Runtuhnya struktur tersebut memperlihatkan kerusakan signifikan pada bagian bangunan yang selama ini digunakan untuk menunjang aktivitas belajar dan bermain anak-anak.
Seorang warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut menyebut kerusakan terjadi saat hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan tersebut.
“Anginnya sangat kencang, lalu terdengar suara keras dari arah sekolah. Setelah dilihat, plafon sudah ambruk dan bagian belakang bangunan juga roboh,” ujar salah seorang warga yang enggan menyebutkan identitasnya.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius, terutama mengingat bangunan tersebut merupakan fasilitas pendidikan anak usia dini. Jika peristiwa serupa terjadi saat kegiatan belajar berlangsung, dampaknya berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Kerusakan dua sekolah dalam satu kecamatan yang sama menjadi alarm keras terhadap kondisi fisik bangunan pendidikan. Cuaca ekstrem memang menjadi faktor pemicu, namun kualitas konstruksi, perawatan bangunan, serta pengawasan berkala menjadi faktor penentu apakah sebuah bangunan mampu bertahan atau justru runtuh saat diterpa cuaca buruk.
Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya audit kelayakan bangunan sekolah secara berkala. Sekolah sebagai ruang publik yang digunakan setiap hari oleh anak-anak seharusnya menjadi prioritas utama dalam hal keamanan dan ketahanan struktur.
Selain kerugian material berupa kerusakan bangunan dan peralatan elektronik, kejadian ini juga berpotensi mengganggu aktivitas belajar mengajar. Jika kerusakan tidak segera ditangani, proses pendidikan dapat terganggu, dan siswa terpaksa menghadapi ketidakpastian.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah maupun instansi terkait, termasuk Dinas Pendidikan setempat, belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kerusakan, tingkat kerugian, maupun langkah penanganan yang akan dilakukan.
Ketiadaan respons cepat dari otoritas terkait memperkuat kekhawatiran publik terhadap kesiapan pemerintah dalam memastikan keamanan fasilitas pendidikan, terutama di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketahanan infrastruktur pendidikan bukan sekadar soal pembangunan, tetapi juga tentang perawatan, pengawasan, dan tanggung jawab untuk memastikan setiap ruang belajar benar-benar aman bagi generasi masa depan. (*)
Berita Lainnya
-
Metro Dikepung Banjir dan Pohon Tumbang, Warga Desak Pemerintah Turun Tangan
Sabtu, 14 Februari 2026 -
Terkait Polemik Penonaktifan PBI-JKN, Dinsos Metro Klaim Telah Lakukan Sosialisasi
Jumat, 13 Februari 2026 -
2.703 PBI-JK Warga Metro Sudah Nonaktif, DPRD Minta Pemkot Segera Klarifikasi dan Siapkan Solusi
Kamis, 12 Februari 2026 -
Polisi Tangkap Empat Remaja Lakukan Pemerasan di Metro, Dua Lainnya Buron
Kamis, 12 Februari 2026









