• Sabtu, 14 Februari 2026

Metro Dikepung Banjir dan Pohon Tumbang, Warga Desak Pemerintah Turun Tangan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 18.43 WIB
588

Kondisi banjir yang melanda kawasan lingkungan warga di Jalan Bambu Kuning, Kelurahan Hadimulyo Barat, Kecamatan Metro Pusat. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Metro - Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur Kota Metro, Sabtu (14/2/2026) sejak pukul 16.25 WIB hingga sekarang, kini menjelma menjadi bencana yang meluas. Air menggenangi permukiman, jalan protokol dan lingkungan, hingga lahan pertanian dengan ketinggian bervariasi mulai dari 20 centimeter hingga mencapai 1,5 meter di sejumlah titik terparah. 

Di saat bersamaan, pohon tumbang dilaporkan terjadi di beberapa ruas jalan protokol, memperparah situasi dan menghambat mobilitas warga. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber yang dihimpun Kupastuntas.co, genangan air maupun banjir tersebar hampir di seluruh Kelurahan dan Kecamatan di Metro. 

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai kesiapan infrastruktur dan respons pemerintah dalam menghadapi hujan dengan intensitas tinggi.

Di wilayah Metro Pusat, banjir terjadi di Kelurahan Hadimulyo Barat, Hadimulyo Timur, dan Yosomulyo. Air dengan cepat meluap ke badan jalan dan masuk ke dalam rumah warga. Beberapa keluarga terpaksa mengamankan barang-barang elektronik dan perabotan ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kerusakan.

"Sore ini merupakan yang terparah, air itu nyampe sini cepat sekali, masuk rumah dan ini dalam sampai pinggang. Tolonglah pemerintah turun kesini, Pak Walikota turun cek langsung ke sini jangan cuma dengar laporan aja," kata Amri warga Jalan Bambu Kuning, Kelurahan Hadimuyo Barat, Metro Pusat, Sabtu (14/2/2026). 

Di Metro Timur, banjir melanda Kelurahan Tejoagung, Iringmulyo, serta kawasan pertanian Tejosari. Selain merendam akses jalan, air juga menggenangi lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat. Para petani mengaku khawatir tanaman mereka rusak akibat terendam air dalam waktu lama.

Kecamatan Metro Selatan tak luput dari kepungan air. Di wilayah Margorejo, genangan cukup tinggi dilaporkan merendam jalan lingkungan. Bahkan di sejumlah ruas jalan utama, arus lalu lintas tersendat akibat tingginya air dan pohon tumbang.

Di Metro Barat, Kelurahan Ganjar Asri kembali menjadi langganan genangan. Warga menyebut, setiap hujan deras turun lebih dari satu jam, air hampir pasti meluap. Sementara itu, di Metro Utara, kawasan pertanian Purwoasri dan Banjarsari turut terendam, mengancam hasil panen dan stabilitas ekonomi warga.

"Habis semuanya kerendam, ini sampai ke jalan. Sudah jalannya jelek, drainase-nya mampet, hujannya deras seperti ini dan banjir di mana-mana, Kami cuma bisa berdoa. Semoga tuhan hadirkan pemimpin yang memang benar-benar peduli untuk kota ini," ucap Miswar, warga Jl. Pattimura, Kelurahan Banjarsari, Metro Utara. 

Tak hanya banjir, angin kencang juga menyebabkan pohon tumbang di sejumlah ruas jalan protokol. Di antaranya terjadi di Jalan Budi Utomo dan Jalan Letjend Soeprapto, Kecamatan Metro Selatan. Batang pohon yang melintang di badan jalan sempat menghambat arus kendaraan dan membahayakan pengguna jalan. Hingga beberapa jam setelah kejadian, warga terlihat berupaya membersihkan dahan secara swadaya sembari menunggu penanganan lebih lanjut.

Kondisi ini memicu kekecewaan warga yang merasa pemerintah belum menunjukkan kehadiran maksimal di lapangan. Sejumlah warga menilai penanganan masih lamban, padahal banjir telah meluas dan berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat.

Keluhan serupa datang dari warga Tejoagung yang menyebut sistem drainase di wilayahnya kerap tidak mampu menampung debit air saat hujan deras. Mereka menilai persoalan ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi permanen.

Banjir yang merata hampir di lima kecamatan menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam pengelolaan tata ruang dan sistem drainase. Pembangunan yang terus bertambah tanpa diimbangi kapasitas saluran air yang memadai diduga menjadi salah satu faktor utama.

Ketinggian air hingga 1,5 meter bukan lagi sekadar genangan biasa. Itu adalah sinyal bahwa sistem pengendalian banjir perlu dievaluasi secara menyeluruh, mulai dari normalisasi saluran, pengerukan sedimentasi, hingga perencanaan ruang terbuka hijau sebagai area resapan air.

Selain itu, kejadian pohon tumbang di jalan protokol juga menjadi sorotan. Perawatan dan pemangkasan pohon secara berkala seharusnya dapat meminimalisir risiko saat angin kencang melanda.

Peristiwa ini menjadi ujian nyata bagi pemerintah daerah dalam merespons situasi darurat secara cepat dan terkoordinasi. Warga tidak hanya menunggu pernyataan resmi, tetapi kehadiran langsung di lokasi terdampak serta langkah konkret untuk memastikan keselamatan dan meminimalisir kerugian.

Hingga berita ini diturunkan, hujan masih terjadi di sejumlah wilayah dan genangan belum sepenuhnya surut. Warga berharap pemerintah segera turun tangan, tidak hanya untuk menangani dampak hari ini, tetapi juga memastikan Metro tidak lagi menjadi kota yang lumpuh setiap kali hujan deras mengguyur. (*)