Revitalisasi Tambak Dipasena Dongkrak Ekonomi Lampung, Tapi Target 8 Persen Tak Bisa Bertumpu pada Satu Sektor
Akademisi Ekonomi Universitas Lampung (Unila) sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Dukungan Pemerintah Provinsi
Lampung terhadap revitalisasi tambak Dipasena di Kabupaten Tulang Bawang
dinilai sebagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali kejayaan sektor
perikanan budidaya di Lampung.
Akademisi Ekonomi Universitas Lampung (Unila) sekaligus Ketua
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin,
mengatakan, revitalisasi tambak Dipasena merupakan langkah maju untuk
mengembalikan posisi Lampung sebagai salah satu lumbung udang nasional.
Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak
signifikan terhadap perekonomian daerah, terutama dalam peningkatan pendapatan
dan kesejahteraan masyarakat.
“Revitalisasi tambak Dipasena adalah langkah maju untuk
mengembalikan kejayaan Lampung sebagai salah satu lumbung udang nasional.
Pemerintah dan seluruh stakeholder harus belajar dari permasalahan masa lalu
agar pengelolaannya ke depan lebih baik,” ujar Usep, Sabtu (14/2/2026).
Ia menegaskan, meski revitalisasi tambak akan mendorong
pertumbuhan ekonomi, namun capaian target pertumbuhan hingga 8 persen tidak
serta-merta bisa diraih hanya dengan mengandalkan sektor tersebut.
“Untuk pertumbuhan ekonomi 8 persen, menurut saya tidak
otomatis tercapai ketika tambak ini sudah beroperasi. Namun bahwa ini akan
mendorong pertumbuhan ekonomi, iya, pasti. Hanya saja besarannya tidak langsung
8 persen,” jelasnya.
Usep menilai, ada hal yang lebih penting daripada sekadar
angka pertumbuhan, yakni meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat
Lampung.
Revitalisasi tambak, kata dia, harus mampu menciptakan efek
berganda (multiplier effect) bagi ekonomi lokal, mulai dari penyerapan tenaga
kerja, peningkatan daya beli, hingga tumbuhnya sektor pendukung.
Untuk benar-benar mendekati target pertumbuhan 8 persen,
lanjutnya, diperlukan langkah lanjutan seperti pengembangan industri pengolahan
hasil perikanan, perluasan akses pasar, serta peningkatan kualitas sumber daya
manusia (SDM).
“Pengembangan industri hilir sangat penting agar nilai tambah
tidak berhenti di produksi udang mentah saja. Selain itu, akses pasar dan
peningkatan kualitas SDM juga menjadi kunci agar manfaat revitalisasi ini
maksimal,” pungkasnya. (*)
Berita Lainnya
-
RS Urip Sumoharjo Dampingi Perjuangan Pasien, Agustina Widiastuti Bagikan Testimoni Radioterapi
Sabtu, 14 Februari 2026 -
RS Urip Sumoharjo Perkuat Layanan MCU, Jadi Mitra Pemeriksaan Kesehatan Karyawan PT Natura Perisa Aroma
Sabtu, 14 Februari 2026 -
Golden Tulip Springhill Bandar Lampung Gelar 'Jakarta Iftar Night' dengan Konsep All You Can Eat
Jumat, 13 Februari 2026 -
Final Liga 4 Lampung Ricuh, Diwarnai 3 Kartu Merah dan Dugaan Pemukulan Wasit
Jumat, 13 Februari 2026









