• Senin, 23 Februari 2026

333 Warga Bandar Lampung Terjangkit HIV

Senin, 23 Februari 2026 - 08.12 WIB
44

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung. Foto: Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung mencatat sebanyak 333 kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditemukan sepanjang Januari hingga Desember 2025.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, mengatakan temuan tersebut diperoleh dari hasil skrining kesehatan terhadap masyarakat yang masuk dalam kategori sasaran Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Sepanjang tahun 2025, Dinkes Bandar Lampung melakukan skrining terhadap 35.698 orang. Jumlah tersebut melampaui target yang ditetapkan Kementerian Kesehatan sebanyak 30.108 orang.

“Target skrining dari Kementerian Kesehatan sebanyak 30.108 orang, namun realisasinya mencapai 35.698 orang atau sekitar 115 persen. Artinya, kita sudah melampaui target,” ujar Muhtadi, Sabtu (21/2/2026).

Dari total warga yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 0,9 persen atau 333 orang dinyatakan positif HIV. Pemeriksaan dilakukan terhadap kelompok yang termasuk kategori SPM, di antaranya ibu hamil, penderita tuberkulosis (TBC), penderita infeksi menular seksual (IMS), wanita pekerja seks, lelaki seks dengan lelaki (LSL), waria, pengguna narkoba, serta warga binaan di lembaga pemasyarakatan.

Muhtadi menjelaskan, kelompok ibu hamil menjadi sasaran skrining terbanyak sebagai upaya mencegah penularan HIV dari ibu kepada anak sejak masa kehamilan.

Bagi pasien yang dinyatakan positif, Dinkes Bandar Lampung langsung memberikan terapi antiretroviral (ARV). Terapi tersebut tidak menyembuhkan HIV, tetapi berfungsi menekan perkembangan virus sehingga kualitas hidup pasien tetap baik dan risiko penularan dapat diminimalkan.

“ARV bukan untuk menyembuhkan, tetapi melemahkan virus sehingga pasien tetap bisa hidup produktif dan penularan dapat ditekan,” jelasnya.

Saat ini layanan pengobatan HIV telah tersedia di 31 puskesmas yang tersebar di Kota Bandar Lampung. Dinkes juga menggandeng berbagai komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS untuk memperkuat edukasi, penyuluhan, serta pendampingan kepada kelompok berisiko.

Kerja sama tersebut mencakup edukasi di masyarakat, termasuk di lingkungan tempat hiburan malam dan wilayah yang memiliki potensi penularan lebih tinggi.

Muhtadi menegaskan, upaya pengendalian HIV/AIDS tidak dapat dilakukan pemerintah saja, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, terutama dalam meningkatkan kesadaran pemeriksaan kesehatan secara rutin.

“Kami terus melakukan edukasi dan pendekatan kolaboratif agar penularan HIV dapat ditekan dan masyarakat tidak takut melakukan tes,” tandasnya.

Untuk diketahui, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4, sehingga kemampuan tubuh melawan infeksi menurun. Jika tidak ditangani, HIV dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang menyebabkan kerusakan berat pada sistem imun.

Penularan HIV terjadi melalui kontak cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, dan air susu ibu (ASI). Penularan umumnya terjadi melalui hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.

Gejala awal HIV sering menyerupai flu, seperti demam, nyeri tenggorokan, dan ruam kulit, bahkan dapat tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun. Hingga kini belum terdapat obat yang dapat menyembuhkan HIV, namun terapi ARV mampu mengendalikan virus, mencegah perkembangan menjadi AIDS, serta meningkatkan harapan hidup penderita.

Pencegahan HIV dapat dilakukan melalui perilaku seksual aman, tidak berbagi jarum suntik, serta melakukan skrining atau tes HIV secara rutin. (*)

Berita ini telah terbit di SKH Kupas Tuntas edisi Senin 23 Februari 2026 dengan judul “333 Warga Bandar Lampung Terjangkit HIV”