Pendemo Gruduk Masuk Ruang Sidang Paripurna DPRD Metro, Cuma Empat Anggota Dewan Temui Mahasiswa
Ratusan mahasiswa aksi saat menduduki ruang sidang paripurna DPRD Kota Metro. Foto: Arby/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co,
Metro - Gelombang aksi demonstrasi mahasiswa di Kota Metro memanas. Ratusan
massa aksi yang sebelumnya berorasi di halaman gedung DPRD Kota Metro akhirnya
merangsek masuk hingga ke ruang sidang paripurna, Selasa (10/3/2026), setelah
merasa tuntutan mereka tidak mendapat respons serius dari para wakil rakyat.
Situasi
sempat berlangsung tegang ketika mahasiswa dan sejumlah anggota DPRD yang hadir
terlibat perdebatan terbuka di dalam ruang sidang. Massa aksi mempertanyakan
ketidakhadiran mayoritas anggota dewan yang dinilai tidak menunjukkan
keberpihakan terhadap aspirasi masyarakat.
Berdasarkan
pantauan Kupastuntas.co, dari total 25 anggota DPRD Kota Metro, hanya empat
orang yang hadir menemui massa aksi. Keempat legislator tersebut yakni
Abdullhak, Efril Hadi, Ansori dari Partai NasDem serta Roma Doni Yunanto dari
Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Kehadiran
yang minim itu langsung memantik kekecewaan mahasiswa. Mereka menilai sikap
sebagian besar anggota DPRD yang tidak muncul di tengah situasi tersebut sebagai
bentuk ketidakseriusan dalam menjalankan fungsi representasi rakyat.
Di dalam
ruang paripurna, para mahasiswa tetap bertahan sambil menunggu kehadiran Wali
Kota Metro dan Wakil Wali Kota Metro yang mereka minta untuk datang langsung ke
gedung DPRD guna berdialog terbuka. Namun hingga aksi berlangsung, kedua
pimpinan daerah tersebut belum juga terlihat hadir.
Pemerintah Kota Metro hanya mengutus Asisten I Setda Kota Metro, Helmy Zain, untuk menemui massa aksi di ruang sidang paripurna. Dalam keterangannya di hadapan mahasiswa, Helmy mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan terkait tuntutan yang disampaikan para demonstran.
BACA JUGA: Demonstrasi
di DPRD Metro, Ratusan Mahasiswa Bakar Ban dan Desak Wali Kota Hadir
“Saya
hanya diperintah ke sini untuk hadir, tapi tidak bisa memutuskan dan saya
sadari itu. Tapi saya bisa mendengarkan, dan saya sudah menghubungi melalui Pak
Sekda. Hanya itu saja yang bisa saya sampaikan,” ujar Helmy di hadapan massa
aksi.
Pernyataan
tersebut justru memicu pertanyaan lanjutan dari mahasiswa yang menilai
pemerintah daerah tidak menunjukkan keseriusan dalam merespons kritik publik.
Salah seorang peserta aksi bernama Heri secara terbuka mempertanyakan kemampuan
DPRD sebagai lembaga politik daerah untuk menghadirkan kepala daerah dalam
forum dialog tersebut.
Menurutnya,
kehadiran Wali Kota dan Wakil Wali Kota menjadi penting karena aksi yang
digelar mahasiswa bertujuan untuk mengingatkan jalannya pemerintahan yang
dinilai menyimpan banyak persoalan.
“Wali
Kota dan Wakil Wali Kota adalah pemimpin Kota Metro. Kami hanya ingin
mengingatkan agar kesalahan dan kebobrokan yang terjadi, baik oleh pemerintah
maupun DPRD, bisa diperbaiki. Jangan sengaja untuk lalai,” tegas Heri di
hadapan anggota dewan yang hadir.
Ia juga
menyoroti minimnya kehadiran anggota DPRD dalam situasi yang menurutnya krusial
bagi hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
“Anggota
DPRD Kota Metro ini ada 25 orang. Kenapa yang menemui kita hanya empat orang.
Ke mana yang lainnya," lanjutnya.
Pertanyaan
itu menggema di dalam ruang sidang paripurna yang biasanya digunakan untuk
agenda resmi pemerintahan daerah. Kali ini ruangan tersebut berubah menjadi
arena dialog panas antara mahasiswa dan wakil rakyat.
Menanggapi
tuntutan mahasiswa agar kepala daerah dihadirkan, salah satu anggota DPRD Kota
Metro yang hadir, Efril Hadi, menyatakan bahwa pihaknya untuk saat ini belum
dapat memenuhi permintaan tersebut.
“Untuk
saat ini, kita tidak bisa menghadirkan Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Jadi
sekali lagi kita menghargai niat untuk kebaikan semuanya,” ujar Efril.
Meski
demikian, pernyataan tersebut belum mampu meredakan ketegangan. Massa aksi
tetap bertahan di dalam gedung DPRD sambil terus menyuarakan tuntutan mereka.
Selain menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah, mahasiswa juga
menuntut transparansi, akuntabilitas, dan keberanian pejabat publik untuk
berdialog langsung dengan rakyat.
Hingga
berita ini diturunkan, massa aksi masih bertahan di area gedung DPRD Kota Metro
sambil menunggu kepastian apakah Wali Kota dan Wakil Wali Kota bersedia hadir
untuk berdialog langsung dengan mahasiswa. (*)
Berita Lainnya
-
Demonstrasi di DPRD Metro, Ratusan Mahasiswa Bakar Ban dan Desak Wali Kota Hadir
Selasa, 10 Maret 2026 -
Kusbani Dilantik Jadi Penjabat Sekda Metro
Senin, 09 Maret 2026 -
Kunker ke Metro, Sudin Serap Aspirasi Warga hingga Bagikan Ratusan Paket Sembako
Senin, 09 Maret 2026 -
Geger, Istri Wakil Wali Kota Dicoret dari Struktur PKK Metro
Senin, 09 Maret 2026









