• Selasa, 10 Maret 2026

Warga Pekon Way Nipah Tanggamus Harus Ditandu Lewati Medan Terjal Demi Berobat

Selasa, 10 Maret 2026 - 11.14 WIB
40

Potret perjuangan warga Dusun Sidodadi, Pekon Way Nipah, Kecamatan Pematangsawa, Kabupaten Tanggamus membawa salah satu warga yang sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan melewati medan terjal. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Tanggamus – Warga Dusun Sidodadi, Pekon Way Nipah, Kecamatan Pematangsawa, Kabupaten Tanggamus, kembali menghadapi perjalanan dramatis demi memperoleh pelayanan kesehatan.

Pada Senin (9/3/2026) sore sekitar pukul 17.30 WIB, seorang warga bernama Bulloh (50) terpaksa ditandu menggunakan sarung yang dimasukkan pada sebatang bambu menuju Puskesmas Way Nipah.

Tandu darurat itu digotong bergantian oleh warga yang berjalan hati-hati menuruni jalur pegunungan. Tujuan mereka hanya satu: membawa Bulloh agar segera mendapatkan pertolongan medis.

Perjalanan itu jauh dari kata mudah. Warga harus berjibaku melewati jalan tanah yang berlumpur, cekungan berkubang, jalur menanjak dan menurun di perbukitan, hingga menyeberangi aliran sungai kecil. Kondisi infrastruktur di wilayah yang tergolong terisolasi itu membuat upaya penyelamatan semakin berat.

Bagi masyarakat Sidodadi, kondisi tersebut bukan hal baru. Jalan menuju pusat Pekon Way Nipah dan fasilitas kesehatan memang masih sangat terbatas.

Untuk mencapai Puskesmas Way Nipah, warga harus menempuh jarak sekitar 8 kilometer. Namun medan yang berat membuat perjalanan terasa jauh. Dalam kondisi normal, perjalanan menggunakan sepeda motor dapat memakan waktu sekitar 30 hingga 60 menit.

Jika berjalan kaki, warga bisa menghabiskan waktu lebih dari dua jam.

Namun dalam kondisi darurat seperti yang dialami Bulloh, perjalanan bahkan bisa memakan waktu sekitar tiga jam.

Warga harus melewati jalan berlumpur, jalur terjal dan curam, serta sejumlah titik yang sulit dilalui.

Karena itu, ketika ada warga yang sakit dan tidak mampu berjalan, masyarakat setempat kerap bergotong royong menandu pasien secara bergantian menyusuri jalan setapak yang sempit dan licin demi mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan terdekat.

Kiki Meiliasari, warga setempat, mengatakan kondisi seperti ini sudah lama dialami masyarakat Sidodadi dan sekitarnya. Menurutnya, buruknya akses jalan kerap dikeluhkan, namun hingga kini belum juga mendapat penanganan.

Ia menuturkan, sekitar tiga minggu lalu warga juga harus menandu seorang warga bernama Oban yang sakit menuju Puskesmas Way Nipah.

“Belum lama ini sekitar tiga minggu lalu juga ada warga Sidodadi bernama Oban yang sakit dan harus ditandu darurat menuju Puskesmas Way Nipah. Kami memang sering mengalami kondisi seperti ini ketika ada warga yang sakit,” kata Kiki, Selasa (10/3/2026)

Kiki berharap pemerintah segera turun tangan membenahi infrastruktur di wilayah yang selama ini dikenal terisolasi tersebut.

"IInilah suara kami, masyarakat kecil di pelosok yang tertinggal. Kami berharap pemerintah memperhatikan keluh kesah masyarakat di wilayah-wilayah terpencil,” ujarnya.

Endang, warga lainnya, mengatakan peristiwa yang dialami Bulloh kembali menjadi gambaran nyata bagaimana warga Sidodadi harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan.

“Hari ini kami kembali merasakan pahitnya perjuangan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Pak Bulloh terpaksa kami gotong menuju Puskesmas Way Nipah karena sakit yang dideritanya,” ujar Endang.

Menurut warga, kondisi jalan yang sulit dilalui tersebut telah berlangsung puluhan tahun, bahkan sejak zaman nenek moyang mereka.

Berbagai usulan pembangunan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) sejak tahun 1990-an, disebut belum juga membuahkan hasil nyata.

Sigit, salah seorang warga, menyampaikan kritik sekaligus harapan kepada pemerintah pusat maupun daerah. Ia menilai selama hampir 81 tahun Indonesia merdeka, dusunnya belum merasakan perubahan berarti dalam hal infrastruktur dasar.

“Mulai dari zaman nenek moyang itu sudah jalan kaki hingga detik ini. Kalau ada warga sakit maupun angkut material ya harus jalan kaki,” katanya dengan nada pilu.

Sigit berharap kisah evakuasi Bulloh dan pengalaman sebelumnya saat warga bernama Oban harus ditandu bisa membuka mata para pemangku kebijakan.

"Saya atas nama warga selatan Kecamatan Pematangsawa menyampaikan, siapapun yang melihat kondisi seperti ini, kami mohon supaya diperhatikan, supaya daerah kami bisa lebih maju,” ujarnya.

Warga juga berharap pemerintah segera membangun ruas jalan tembus Way Nipah – Tampang Tua sepanjang sekitar 50 kilometer yang selama ini baru dibuka secara swadaya oleh masyarakat hingga Pedukuhan Pedamaran.

Bagi warga Sidodadi, jalan bukan sekadar jalur penghubung. Jalan adalah harapan agar suatu hari nanti, ketika sakit datang, mereka tidak lagi harus bertaruh dengan medan berat demi mencapai pelayanan kesehatan. (*)