Warga Pekon Way Nipah Tanggamus Harus Ditandu Lewati Medan Terjal Demi Berobat
Potret perjuangan warga Dusun Sidodadi, Pekon Way Nipah, Kecamatan Pematangsawa, Kabupaten Tanggamus membawa salah satu warga yang sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan melewati medan terjal. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Tanggamus – Warga Dusun Sidodadi, Pekon Way
Nipah, Kecamatan Pematangsawa, Kabupaten Tanggamus, kembali menghadapi
perjalanan dramatis demi memperoleh pelayanan kesehatan.
Pada Senin (9/3/2026) sore sekitar pukul 17.30 WIB, seorang
warga bernama Bulloh (50) terpaksa ditandu menggunakan sarung yang dimasukkan
pada sebatang bambu menuju Puskesmas Way Nipah.
Tandu darurat itu digotong bergantian oleh warga yang
berjalan hati-hati menuruni jalur pegunungan. Tujuan mereka hanya satu: membawa
Bulloh agar segera mendapatkan pertolongan medis.
Perjalanan itu jauh dari kata mudah. Warga harus berjibaku
melewati jalan tanah yang berlumpur, cekungan berkubang, jalur menanjak dan
menurun di perbukitan, hingga menyeberangi aliran sungai kecil. Kondisi
infrastruktur di wilayah yang tergolong terisolasi itu membuat upaya
penyelamatan semakin berat.
Bagi masyarakat Sidodadi, kondisi tersebut bukan hal baru.
Jalan menuju pusat Pekon Way Nipah dan fasilitas kesehatan memang masih sangat
terbatas.
Untuk mencapai Puskesmas Way Nipah, warga harus menempuh
jarak sekitar 8 kilometer. Namun medan yang berat membuat perjalanan terasa
jauh. Dalam kondisi normal, perjalanan menggunakan sepeda motor dapat memakan
waktu sekitar 30 hingga 60 menit.
Jika berjalan kaki, warga bisa menghabiskan waktu lebih dari
dua jam.
Namun dalam kondisi darurat seperti yang dialami Bulloh,
perjalanan bahkan bisa memakan waktu sekitar tiga jam.
Warga harus melewati jalan berlumpur, jalur terjal dan curam,
serta sejumlah titik yang sulit dilalui.
Karena itu, ketika ada warga yang sakit dan tidak mampu
berjalan, masyarakat setempat kerap bergotong royong menandu pasien secara
bergantian menyusuri jalan setapak yang sempit dan licin demi mendapatkan
pengobatan di fasilitas kesehatan terdekat.
Kiki Meiliasari, warga setempat, mengatakan kondisi seperti
ini sudah lama dialami masyarakat Sidodadi dan sekitarnya. Menurutnya, buruknya
akses jalan kerap dikeluhkan, namun hingga kini belum juga mendapat penanganan.
Ia menuturkan, sekitar tiga minggu lalu warga juga harus
menandu seorang warga bernama Oban yang sakit menuju Puskesmas Way Nipah.
“Belum lama ini sekitar tiga minggu lalu juga ada warga
Sidodadi bernama Oban yang sakit dan harus ditandu darurat menuju Puskesmas Way
Nipah. Kami memang sering mengalami kondisi seperti ini ketika ada warga yang
sakit,” kata Kiki, Selasa (10/3/2026)
Kiki berharap pemerintah segera turun tangan membenahi
infrastruktur di wilayah yang selama ini dikenal terisolasi tersebut.
"IInilah suara kami, masyarakat kecil di pelosok yang
tertinggal. Kami berharap pemerintah memperhatikan keluh kesah masyarakat di
wilayah-wilayah terpencil,” ujarnya.
Endang, warga lainnya, mengatakan peristiwa yang dialami
Bulloh kembali menjadi gambaran nyata bagaimana warga Sidodadi harus berjuang
keras hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan.
“Hari ini kami kembali merasakan pahitnya perjuangan untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Pak Bulloh terpaksa kami gotong
menuju Puskesmas Way Nipah karena sakit yang dideritanya,” ujar Endang.
Menurut warga, kondisi jalan yang sulit dilalui tersebut
telah berlangsung puluhan tahun, bahkan sejak zaman nenek moyang mereka.
Berbagai usulan pembangunan melalui Musyawarah Rencana
Pembangunan (Musrenbang) sejak tahun 1990-an, disebut belum juga membuahkan
hasil nyata.
Sigit, salah seorang warga, menyampaikan kritik sekaligus
harapan kepada pemerintah pusat maupun daerah. Ia menilai selama hampir 81
tahun Indonesia merdeka, dusunnya belum merasakan perubahan berarti dalam hal
infrastruktur dasar.
“Mulai dari zaman nenek moyang itu sudah jalan kaki hingga
detik ini. Kalau ada warga sakit maupun angkut material ya harus jalan kaki,”
katanya dengan nada pilu.
Sigit berharap kisah evakuasi Bulloh dan pengalaman
sebelumnya saat warga bernama Oban harus ditandu bisa membuka mata para
pemangku kebijakan.
"Saya atas nama warga selatan Kecamatan Pematangsawa
menyampaikan, siapapun yang melihat kondisi seperti ini, kami mohon supaya
diperhatikan, supaya daerah kami bisa lebih maju,” ujarnya.
Warga juga berharap pemerintah segera membangun ruas jalan
tembus Way Nipah – Tampang Tua sepanjang sekitar 50 kilometer yang selama ini
baru dibuka secara swadaya oleh masyarakat hingga Pedukuhan Pedamaran.
Bagi warga Sidodadi, jalan bukan sekadar jalur penghubung.
Jalan adalah harapan agar suatu hari nanti, ketika sakit datang, mereka tidak
lagi harus bertaruh dengan medan berat demi mencapai pelayanan kesehatan. (*)
Berita Lainnya
-
Hilang Dua Hari, Petani di Ulu Belu Tanggamus Ditemukan Meninggal di Sungai Way Ilahan
Selasa, 10 Maret 2026 -
Petani Ulu Belu Hilang Misterius Saat ke Kebun, Motor Ditemukan Terparkir di Gubuk
Senin, 09 Maret 2026 -
Jembatan di Ulubelu Tanggamus Putus Diterjang Banjir, Polisi-TNI dan Warga Bangun Jembatan Darurat
Senin, 09 Maret 2026 -
Wajah Baru Warnai Birokrasi Tanggamus, Bupati Mohammad Saleh Asnawi Lantik 47 Pejabat
Jumat, 06 Maret 2026









