• Jumat, 17 April 2026

Menyusuri Jejak Hilangnya Sugiyo di Way Semuong Tanggamus

Kamis, 16 April 2026 - 09.45 WIB
33

Menyusuri Jejak Hilangnya Sugiyo di Way Semuong Tanggamus. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Tanggamus - Hujan yang turun sejak siang itu belum benar-benar pergi dari ingatan warga di tepian Sungai Way Semuong, Kecamatan Bandar Negeri Semuong, Kabupaten Tanggamus. Air sungai yang biasanya mengalir tenang berubah keruh dan deras, membawa ranting, lumpur, dan kecemasan yang tak mudah reda.

Di sanalah, Sugiyo (60) terakhir kali terlihat.

Senin, 13 April 2026, sekitar pukul 14.30 WIB, Sugiyo berpamitan kepada anaknya, Agung Widianto. Tujuannya sederhana: memancing. Aktivitas yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Tak ada yang aneh, tak ada yang terasa berbeda.

Namun sore itu, langit berubah cepat.

Hujan turun deras, mengguyur kawasan Bandar Negeri Semuong hingga petang. Debit Sungai Way Semuong meningkat, arusnya menguat. Waktu berlalu, tetapi Sugiyo tak kunjung pulang.

Agung mencoba mencari sendiri. Ia menyusuri jalur yang biasa dilewati ayahnya. Di tengah tanah basah dan semak yang lebat, ia menemukan sesuatu yang membuat harap dan takut bertemu di satu titik, jejak tapak kaki, sekitar tiga kilometer dari rumah.

Dua warga, Bibit (55) dan Ardi (30), menguatkan dugaan tersebut. Mereka mengaku melihat Sugiyo memancing di sekitar lokasi itu, tak lama sebelum hujan turun deras.

Sejak saat itu, sungai bukan lagi sekadar aliran air. Ia berubah menjadi ruang pencarian.

Hari berikutnya, Selasa, 14 April 2026, tim gabungan mulai bergerak. Personel Polsek Wonosobo, Pos SAR Tanggamus, dan warga setempat turun bersama. Mereka menyusuri aliran sungai, langkah demi langkah, menembus medan yang tak ramah.

Bebatuan licin, tebing curam, dan jalur sempit menjadi bagian dari perjalanan. Di beberapa titik, arus sungai terdengar menggelegar, menutup suara percakapan. Di titik lain, hanya suara langkah dan napas yang terdengar.

Kapolsek Wonosobo Iptu Tjasudin memimpin langsung pencarian. Baginya, setiap lekuk sungai adalah kemungkinan. Setiap pusaran air adalah tanda yang harus dibaca dengan hati-hati.

Pencarian tak berhenti di lokasi awal. Hingga hari kedua, Rabu, 15 April 2026, tim memperluas penyisiran hingga ke muara Sungai Way Semaka, di kawasan Pantai Sawmil, Pekon Karang Anyar, Kecamatan Wonosobo.

Di sepanjang aliran sungai, warga ikut terlibat. Ada yang membantu menyisir, ada yang berdiri di tepian, memandang arus yang terus bergerak tanpa henti. Sebagian lainnya memilih berjaga, berharap jika ada tanda yang muncul, sekecil apa pun, mereka tidak terlambat mengetahuinya.

"Kami terus berkoordinasi dengan masyarakat di sepanjang sungai,” ujar Tjasudin, Kamis, 16 April 2026.

Hari-hari terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap kabar dari arah sungai selalu diikuti harapan yang sama: ayahnya ditemukan. Dalam diam, ia mungkin mengingat kembali pamitan singkat itu, yang kini menjadi momen terakhir yang ia genggam.

Way Semuong terus mengalir. Arusnya tak pernah benar-benar diam, seperti waktu yang terus berjalan.

Namun di tepian sungai itu, pencarian belum selesai. Dan harapan, meski semakin tipis, belum sepenuhnya hanyut. (*)