• Rabu, 24 Juni 2026

Pedagang Daging Mogok Jualan, DPRD Lampung Minta Pemerintah Usut Kenaikan Harga Sapi

Rabu, 24 Juni 2026 - 14.50 WIB
33

Anggota Komisi II DPRD Lampung, Mikdar Ilyas. Foto: Dok./kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Aksi mogok berjualan yang dilakukan pedagang daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kota Bandar Lampung mendapat sorotan dari Komisi II DPRD Provinsi Lampung. Pemerintah diminta segera menelusuri penyebab kenaikan harga sapi hidup yang memicu terhentinya aktivitas jual beli dan menyebabkan kelangkaan daging sapi di pasaran.

Anggota Komisi II DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, menilai kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi mengganggu ketersediaan salah satu kebutuhan pangan masyarakat.

"Kami sangat menyayangkan tidak adanya daging sapi di pasaran. Namun di sisi lain, kita juga tidak bisa langsung menyalahkan pedagang. Jika memang harga sapi naik, harus dicari tahu apa penyebabnya," kata Mikdar, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, pemerintah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait perlu melakukan penelusuran menyeluruh terhadap faktor-faktor yang menyebabkan harga sapi hidup terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Ia menegaskan masyarakat berhak mengetahui penyebab lonjakan harga tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi maupun keresahan di tengah terganggunya pasokan daging sapi.

"Kita ingin mengetahui penyebab sebenarnya. Jangan sampai ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Komisi II DPRD Lampung berencana berkoordinasi dengan dinas terkait dan mengundang perusahaan peternakan sapi yang beroperasi di Lampung untuk mencari akar persoalan serta merumuskan solusi.

"Kami akan mempelajari persoalan ini dan meminta dinas terkait segera menindaklanjutinya. Jangan sampai stok daging sapi di pasar kosong dalam waktu lama," tegasnya.

Sementara itu, aksi mogok pedagang daging sapi masih berlangsung hingga hari kedua. Pantauan di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Tamin, Pasar Tugu, dan Pasar Kangkung, menunjukkan lapak-lapak pedagang daging sapi masih tutup dan tidak melayani pembeli.

Akibat kondisi tersebut, sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan daging sapi sejak aksi mogok dimulai pada Senin (22/6/2026).

Ketua Persatuan Pedagang Daging (PPD) Bandar Lampung, Tampan Sujarwadi, sebelumnya menjelaskan bahwa harga sapi hidup dari feedlot maupun peternak terus mengalami kenaikan.

Menurutnya, sejak Desember 2025 hingga Juni 2026, harga sapi hidup meningkat sekitar Rp10 ribu per kilogram atau setara Rp5 juta hingga Rp6 juta per ekor.

Di sisi lain, pedagang mengaku tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual daging karena khawatir daya beli masyarakat menurun dan produk tidak terserap pasar.

Kondisi tersebut membuat ratusan pedagang daging sapi di Bandar Lampung memilih menghentikan sementara aktivitas berjualan sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga sapi hidup yang dinilai semakin memberatkan usaha mereka.

DPRD berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan pasokan dan harga sapi, sehingga aktivitas perdagangan dapat kembali normal dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. (*)

Editor : Erik Handoko