• Kamis, 25 Juni 2026

Bahlil Siapkan Pengganti LPG 3 Kg, Produksi CNG Ditargetkan Mulai Juli

Kamis, 25 Juni 2026 - 17.42 WIB
19

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG subsidi yang selama ini digunakan masyarakat.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang masih sangat tinggi, sekaligus memaksimalkan pemanfaatan cadangan gas bumi nasional yang melimpah.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, konsumsi LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun. Sementara kemampuan produksi dalam negeri hanya berkisar 1,8 hingga 1,9 juta ton per tahun, sehingga sebagian besar kebutuhan masih dipenuhi melalui impor.

“Sekitar 75 sampai 80 persen kebutuhan LPG nasional masih bergantung pada impor. Ini menjadi tantangan yang harus kita selesaikan,” kata Bahlil dalam CNBC Energy Forum 2026 di Jakarta, Kamis (25/6/2026) dikutip dari Detik.com.

Menurutnya, keterbatasan produksi LPG dalam negeri terjadi karena bahan baku LPG berasal dari gas jenis C3 dan C4 yang jumlahnya relatif terbatas. Sebaliknya, Indonesia memiliki cadangan gas bumi jenis C1 dan C2 dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku CNG.

Karena itu, pemerintah mulai mengarahkan pemanfaatan gas bumi domestik untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga melalui pengembangan CNG.

Bahlil mencontohkan temuan cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur yang diperkirakan mencapai 5 triliun kaki kubik (TCF). Ditambah cadangan lainnya sekitar 2 TCF dan potensi kondensat setara 200 ribu barel minyak, produksi gas dari kawasan tersebut diproyeksikan mulai berjalan pada 2028-2029.

“Potensi produksinya bisa mencapai 3.000 MM. Sementara kebutuhan untuk menggantikan konsumsi LPG nasional tidak sampai 800 MM. Artinya pasokannya sangat mencukupi,” ujarnya.

Saat ini, penggunaan CNG sebenarnya sudah diterapkan di sejumlah sektor industri, termasuk hotel, restoran, dan kafe, melalui tabung berkapasitas 12 kilogram dan 50 kilogram.

Namun pemerintah kini tengah mengembangkan teknologi CNG dalam tabung 3 kilogram agar dapat digunakan masyarakat penerima subsidi energi.

Menurut Bahlil, pengembangan tersebut telah memasuki tahap uji coba ketiga bersama PT Pertamina (Persero). Salah satu fokus pengujian adalah memastikan aspek keamanan penggunaan tabung bertekanan tinggi yang mencapai 200 hingga 250 bar.

“Teknologinya menggunakan valve khusus sehingga kompor yang ada tidak perlu diganti. Sistem ini juga dirancang untuk meminimalkan risiko kebakaran maupun ledakan,” jelasnya.

Pemerintah menargetkan proses pengujian dapat segera rampung. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, produksi CNG tabung 3 kilogram ditargetkan mulai dilakukan pada Juli 2026.

Kehadiran CNG untuk rumah tangga diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan beban impor LPG yang selama ini menguras devisa negara. (*)