Menghidupkan Kembali Olahraga Tinju (1), Sasana A23BC Bandar Lampung

605
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Menghidupkan Kembali Olahraga Tinju (1), Sasana A23BC Bandar Lampung 1

Kupastuntas.co,Bandar Lampung – Minimnya kejuaraan dan kurangnya atlet tinju menjadikan olahraga ini sulit berkembang di Lampung. Melihat situasi itu, salah satu mantan atlet tinju asal Lampung berinisiatif membuka sasana tinju.

Ialah Piter Samuel Hari, yang merupakan mantan atlet tinju nasional. Kini, ia menjadi pelatih sekaligus pemilik Sasana A23BC. Ia mengungkapkan, tinju merupakan cabang olahraga yang cukup ekstrem dan jika anak-anak sudah menggeluti olahraga ini sejak kecil, penanaman karakter harus diperkuat agar tidak digunakan untuk hal-hal negatif.

Tidak hanya berlatih tinju, atlet juga diberikan pemahaman character building agar menjadi atlet yang cemerlang. Itulah yang diterapkan di Sasana A23BC Bandar Lampung.

“Di sini saya tanamkan untuk nurut dengan orangtua dan pelatih. Bagaimana di suatu momen itu, anak harus nurut kata orangtua dan pelatih. Dengan begitu, mereka akan disiplin dan mendengar nasihat orangtua,” ungkapnya.

Selain itu, Piter tidak lupa menumbuhkan character building pada atletnya. Dengan mengajarkan kebaikan dan juga kedisiplinan. “Saya asah terus yang namanya character building. Yang salah, saya kasih hukuman sit up, push up, dan squat jump, sehingga mereka jadi tahu mana yang salah dan mana yang benar,” jelasnya.

Tidak seperti sasana pada umumnya yang dibanjiri oleh atlet-atlet yang sudah dewasa, Sasana A23BC sengaja diperuntukkan bagi anak-anak usia dini. Hal ini diharapkan dapat mencetak atlet tinju berprestasi.

“Kalau dulu olahraga tinju identik dengan olahraga ekstrem dan keras. Di sini sengaja saya kemas menjadi fun, sehingga anak-anak maupun orangtua bisa benar-benar menerima olahraga ini. Pola latihannya fun dan saya aplikasikan dengan ilmu dan pengalaman yang saya dapat,” papar pria kelahiran 1981 itu.

Adapun beberapa metode latihan yang diberikan kepada anak didiknya, lebih menerapkan pola latihan fun games. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak tidak jenuh dan merasa senang berlatih tinju.

“Pada dasarnya, anak-anak suka bermain. Jadi di sini saya terapkan fun games, sehingga anak-anak mulai tertarik. Pokoknya lebih ke permainan dulu. Kemudian baru kita selingkan dengan latihan dasar-dasar tinju,” beber bapak dua anak itu.

Butuh Perjuangan

Berdirinya Sasana A23BC bisa dibilang tidak mudah. Awalnya, Piter harus melatih anak didiknya di lapangan beralaskan tanah merah. Lambat laun, berkat keteguhannya, sejumlah lembaga dan masyarakat mulai mengakui klub ini.

Menghidupkan Kembali Olahraga Tinju (1), Sasana A23BC Bandar Lampung 1

Dulunya, kata dia, lokasi sasana hanya berupa lahan kosong dengan peralatan seadanya. Kemudian ada bantuan dari Dispora berupa sarung tinju dan beberapa alat lainnya.

Dalam seminggu, Piter menyempatkan tiga hari untuk melatih atlet-atletnya, yakni pada hari Senin, Jumat dan Sabtu, pada pukul 16.30-18.30 WIB. Rentang waktu tersebut dibagi dua sesi, yakni anak-anak dan atlet dewasa.

Berbagai hambatan yang dihadapinya antara lain kurangnya anggaran dan kompetisi yang hampir tidak ada di Provinsi Lampung. Hal ini membuat kemampuan atlet sulit berkembang.

“Anggaran yang kurang, itu pasti. Kita rutin latihan tinju, tapi gak ada kompetisi, ini juga akan menjadi sulit. Mudah-mudahan ada kompetisi ke depan,” tutur peraih Juara 1 Nasional tahun 2006-2007 ini.

Hingga kini, atlet PON 2013 itu hanya mengandalkan tunjangan yang diberikan oleh Dispora, yakni sebesar Rp350 ribu/bulan. “Kita yang inisiatif membangun sasana ini sebelum dibantu pemerintah. Kalau dari Dispora, ada untuk pelatih per bulannya. Kalau untuk perusahaan, sepertinya belum. KONI juga belum tahu seutuhnya, karena saya belum terbuka dengan mereka,” paparnya.

Perjuangan membangun Sasana A23BC menurutnya masih panjang. Ia akan terus mengembangkannya dan akan terus berdedikasi untuk olahraga tinju. “Dedikasi saya memang untuk tinju. Saya ditawarkan kerja di bank gak mau. Hidup dan mati saya di tinju. Dari tahun 1988 sampai sekarang, hidup saya masih di tinju,” tutupnya. (*)

Tanggapan Anda:

Tanggapan anda: