• Kamis, 12 Desember 2019

Ketika Nila Jadi Primadona, Nasib Lele Bak Penggembira

Selasa, 30 Januari 2018 - 13.21 WIB - 0

Kupastuntas.co, Lampung Barat – Sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu rumah tangga di kabupaten lampung barat, setiap kali mereka belanja kebutuhan sehari-hari di pasar untuk tidak lupa membeli ikan sebagai lauk utama yang akan di sajikan kepada keluarga. Namun belakangan ini sejak meningkatnya produktifitas ikan nila di Lampung Barat, ikan nila selalu menjadi primadona dan di utamakan untuk dibeli.

Hal itu menyebabkan ikan jenis lain khususnya ikan lele kalah bersaing di pasaran. Meskinya harga ikan lele per kilo nya lebih murah, namun peternak ikan lele di Lambar selalu mendapat kesulitan dalam hal pemasaran.

Bahkan Dinas Perikanan Lambar mengakui jika pemasaran ikan lele di Lambar mengalami kesulitan karena kurangnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan berkumis tersebut.

Kepala Bidang Pemasaran dan Pengendalian Dinas Perikanan Lambar Religius Helman, kepada kupas tuntas mengungkapkan, pada tahun 2014 Dinas Perikanan memiliki program budidaya ikan dengan sistem Bioplok khusus untuk ikan lele. Meski budidaya ikan dengan Bioplok tidak bisa di nilai gagal, namun Budidaya dengan cara tersebut akhirnya ditinggalkan oleh masyarakat.

"Ada 25 paket bantuan Bioplok yang kita berikan kepada masyarakat pada tahun 2014 silam, dalam 1 paket kita bantu 1 unit kolam bioplock, obat-obatan, benih ikan, listrik dan peralatan lainnya," ungkap Religius, Selasa (30/1/2018).

Dikatakan, dalam satu kolam bioplok peternak butuh modal 5 juta rupiah untuk pemeliharaan 5 ribu ekor ikan lele selama 3 bulan. Dan setelah 3 bulan peternak bisa memanen ikan kurang lebih 3 kwintal dengan keuntungan 8 ratus ribu.

"Kalau hitung-hitungan ekonomi nya dengan waktu 3 bulan tersebut bisa di bilang enggak masuk. Bukan tidak berhasil, tapi secara teori seharusnya dalam satu kolam bioplok menghasilkan 7 kwintal ikan. Artinya bagi peternak ikan lele di lampung barat minimal memiliki 5 kolam baru hasilnya kelihatan," jelasnya.

Penyebab minimnya produktifitas ternak ikan lele di Lambar dibanding daerah lain adalah suhu yang terlalu dingin dan masalah listrik.

"Kendala dari ternak lele dengan sistem Bioplok di daerah kita adalah suhu yang terlalu dingin serta aliran listrik yang tidak stabil, ikan lele cukup rentan kematian jika suhu tidak stabil dan pasokan oksigen yang kurang karena sering mati lampu," ujarnya.

Ditambahkan Religius, selain kalah bersaing dengan ikan nila, pemasaran ikan lele juga masih sangat sulit. Jadi meski hasil panen melimpah namun tidak ada penampung yang siap membeli dalam jumlah yang besar.

"Panen 3 kwintal saja sudah susah untuk menjualnya, belum lagi harga yang cenderung murah hanya 15 sampai 18 ribu per kilo. Bandingkan dengan ikan nila, peternak ikan di kecamatan lumbok bisa menjual hingga 7 ton dalam sehari, itu hanya untuk provinsi sumatera selatan belum lagi ke daerah lain sperti cirebon, bandar lampung dan kabupaten tetangga," pungkasnya.

Salah satu warga Sumarno, yang juga memiliki kolam ikan nila sependapat jika ikan lele di lambar sepi peminat.

"Malah sekarang ikan lele dijadikan ikan pancingan untuk lomba di beberapa pemancingan. Ikan yang di pancing dalam lomba berukuran besar hingga 4 kilo, namun setelah di pancing dilepaskan lagi tidak untuk di konsumsi. Yang ukuran kecil aja kita kurang suka mengkonsumsinya apalagi yang besar, saya pernah coba ternak ikan lele namun ketika panen tidak ada yang mau beli apalagi banyak, jadi saya jual ke tetangga dan orang kampung itupun dengan harga yang murah dan sisanya saya bagikan dengan saudara. Karena di liwa ini memang belum ada penampung ikan lele, sementara di daerah lain peternak lele sudah banyak dengan hasil yang juga banyak," kata Sumarno. (Anton)

  • Editor : Mita Wijayanti