Melihat Pengelolaan Drainase di Negara Maju, Kalian Bakal WOW

182
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Permasalahan banjir di Indonesia tak terkecuali Lampung, seperti tak akan pernah selesai, bila pemerintah tidak benar-benar membahas dan memikirkan secara serius untuk mengatasinya.

Berikut ini Kupastuntas.co merangkum dua negara yang mampu mengelola banjir dengan baik dengan sistem drainase yang begitu WOW, terbaik dan terbesar didunia.

1. BELANDA

Nampaknya kita perlu belajar dari Belanda. Belanda memiliki sistem pengelolaan air terbaik di dunia. Salah satu kota yang drainase-nya dikelola oleh Belanda pada masa kolonial adalah Yogyakarta, tepatnya di daerah Kotabaru yang dulunya dikenal dengan nama Nieuwe Wijk.

Nieuwe Wijk merupakan daerah pemukiman Belanda yang memiliki desain pola radial yang sangat rapi serta infrastruktur yang terencana. Dibangun saluran bawah tanah untuk mengelola limbah rumah tangga guna mencegah pencemaran lingkungan serta mengalirkan air hujan ke selokan kecil yang kemudian bermuara pada pembuangan akhir. Nieuwe Wijk tidak pernah banjir.

Waterway di Belanda

Belanda menerapkan sistem polder yang kompleks untuk mempertahankan wilayah Belanda dari ancaman banjir dan air pasang. Sistem ini dimulai di Belanda pada abad ke-11 yang kemudian disempurnakan dengan adanya penggunaan kincir angina pada abad ke-13.

Polder adalah dataran rendah yang membentuk daerah yang dikelilingi oleh tanggul. Pada daerah ini air buangan seperti air kotor dan air hujan dikumpulkan di suatu badan air (sungai, kanal) lalu dipompakan ke badan air yang lebih tinggi posisinya, hingga pada akhirnya dipompakan ke sungai atau kanal yang bermuara ke laut.

Polder River Expansion

Sistem polder banyak diterapkan pada reklamasi laut atau muara sungai, juga pada manajemen air buangan (air kotor dan drainase hujan) di daerah yang lebih rendah dari permukaan laut dan sungai. Air dalam sistem dikendalikan sedemikian rupa sehingga jika terdapat kelebihan air yang dapat menyebabkan banjir, maka kelebihan air itu dipompa keluar sistem polder.

Sistem Polder di Kinderdijk, Belanda.
Sketsa Sistem Polder.

Penerapan sistem polder dapat memecahkan masalah banjir perkotaan. Suatu subsistem-subsistem pengelolaan tata air tersebut sangat demokratis dan mandiri sehingga dapat dikembangkan dan dioperasikan oleh dan untuk masyarakat dalam hal pengendalian banjir kawasan permukiman mereka.

Proyek Delta (Delta Works/Deltawerken)

Belanda berjuang melawan banjir yang hampir satu milenium menimpa. Salah satu bencana banjir yang paling banyak memakan korban jiwa adalah yang terjadi pada tahun 1953. Pada akhirnya Pemerintah Belanda membuat Proyek Delta (Delta Works/ Deltawerken), yakni pembangunan infrastruktur polder strategis untuk menguatkan pertahanan terhadap bencana banjir.

Secara konsep, Proyek Delta ini akan mengurangi resiko banjir di South Holland dan Zeeland untuk sekali per 10.000 tahun. Belanda memang negri yang tidak berhenti untuk berinovasi. Meskipun begitu, Belanda terus menerus menyempurnakan sistem poldernya, hal ini adalah perjuangan yang dilakukan Belanda untuk terus berada di “atas air”.

2. TOKYO

Tokyo, dengan populasi 12,4 juta adalah salah satu kota terbesar di dunia dan masih terus berkembang. Proyek G-Cans (Shutoken Gaikaku Housui Ro, atau Channel area Discharge Outer Metropolitan Underground) adalah jalur air bawah tanah dan air besar area penyimpanan yang dibangun oleh pemerintah Jepang untuk melindungi Tokyo dari banjir selama musim hujan.

Untuk menyerap air hujan, kompleks tersebut dilengkapi dengan 59 turbo pump dan total kapasitas lebih dari 14 ribu tenaga kuda. Tampaknya ini jelas mungkin dirancang untuk banjir paling intens.

Oleh karena itu, marjin fasilitas keselamatan ditempatkan besar. Membiarkan semua laut akan bangkit dalam awan dan jatuh hujan. Desainer harus mempertimbangkan satu set penyimpanan bawah tanah yang sangat besar untuk ribuan ton air ke atas curah hujan tinggi daerah bukanlah untuk penyelaman.

Sejak pembukaannya, G-Cans telah mencegah banjir masuk metropolis, tapi “sayangnya” tidak bisa mencegah banyak orang, termasuk selebriti dan pembuat film dari tempat banjir. Hal ini karena proyek G-Cans ini juga dimaksudkan untuk menjadi daya tarik wisata, dan dapat dikunjungi secara gratis dua kali sehari, dari Selasa sampai Jumat.

Bagaimana, WOW banget ya? Semoga Indonesia juga bisa memiliki sitem drainase terbaik yang tersebar diseluruh daerah. Sehingga kecemasan masyarakat akan datangnya hujan lebat yang berakibat banjir tidak pernah lagi menjadi mimpi yang selalu menghantui. Kita patut belajar dari sang ahli. (*)

Sumber: * *

Tanggapan anda: