Beranda Ekonomi

Harga Seledri Anjlok, Petani Lambar Merugi

3709
https://www.kupastuntas.co/files/kota-bandar-lampung/2018-03/harga-seledri-anjlok-petani-lambar-merugi-01.jpeg
Petani Seledri di Lampung Barat. Foto: Anton/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Lampung Barat – Petani sayur jenis Daun Seledri (Seledri) di Lampung Barat mengeluhkan turunnya harga jual seledri yang anjlok drastis. Sebelumnya harga seledri berkisar Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilo, kini hanya Rp1.000–Rp1.500 saja.

Mat Tua, petani seledri asal Pekon Kunyaian, Kecamatan Sukau, adalah salah satu dari sekian banyak petani sayur yang mengalami kerugian akibat turunnya harga daun seledri.

“Waktu saya mulai menanam bibit 3 bulan lalu harga daun seledri masih Rp10 ribu per kilo, itu pada bulan desember 2017 lalu. Giliran panen seperti sekarang harganya turun jauh hanya Rp1.000–Rp1.500,” ungkap Mat Tua kepada Kupastuntas.co, Selasa (20/3/2018).

Mat Tua dan petani sayur seledri lainnya di Lambar mengaku bingung harus berbuat apa. Hingga saat ini dirinya belum memanen seledri miliknya karena berharap ada kenaikan harga.

“Bingung saya mau bagaimana, di panen juga rugi di ongkos. Mulai dari upah panen, upah ikat dan ongkos ojeknya. Kalau harga tidak stabil terus, rencananya seledri milik saya akan saya pangkas sampai batang bagian bawah. Nanti kita harap tumbuh tunas yang baru untuk di panen 3 bulan kedepan, itupun harus kembali di rawat seperti sebelumnya dengan memberikan obat-obatan agar daun seledri nya tumbuh subur,” papar Mat Tua.

Masih kata Mat Tua, dirinya pernah menawarkan seledri miliknya kepada beberapa gudang sayur (bos sayur), namun hanya di tawar Rp1.000 rupiah.

“Kalau di tawar Rp1.500 masih mending, walaupun tidak balik modal tapi setidaknya hasil penjualan bisa membantu untuk membeli obat-obatan, upah buruh dan ongkos ojek,” katanya.

Menurut Mat Tua, lahan seledri miliknya seluas 1/4 hektar (dua rantai) dengan hasil panen hampir 6 ton lebih.

“Modal saya hingga masa panen sekarang sudah habis hampir Rp10 juta, jadi dengan hasil panen 6 ton kalau dijual dengan harga Rp1.000, modal saya hanya kembali Rp6 juta saja. Kalau waktu sudah pasti rugi, karena sejak di tanam hingga panen memakan waktu 3 bulan lebih. Jadi kalau ada yang mau beli dengan harga Rp1.500 saya sudah sangat bersyukur, artinya walau tidak untung, modal saya bisa kembali,” ujarnya. (Anton)

Facebook Comments