Warga Teratas Kotaagung Manfaatkan Sungai untuk Listrik

86
  • 10
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    12
    Shares
https://www.kupastuntas.co/files/kota-bandar-lampung/2018-03/warga-teratas-kotaagung-manfaatkan-sungai-untuk-listrik-01.jpg
Seorang warga Teratas, Kota Agung, Kabupaten Tanggamus saat memeriksa kincir air pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Foto: Sayuti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus – Warga Pekon Teratas, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, beruntung memiliki Way Jelai. Inilah sungai berair deras yang membatasi kebun dan tanah marga dengan Hutan Lindung Register 30 Gunung Tanggamus.

Warga setempat memanfaatkan sungai yang tak pernah surut sepanjang tahun itu untuk membangun pembangkit listrik sendiri. Sehingga, warga miskin yang umumnya petani itu bisa juga bersahabat dengan listrik seperti orang-orang kota.

Saat ini di Tanggamus, ada puluhan pembangkit listrik tenaga kincir yang juga biasa disebut mikrohidro itu. Warga membangunnya secara mandiri, memanfaatkan sungai yang mengalir di kampung mereka. Kapasitas produksi listrik tenaga kincir milik rakyat itu berkisar 3.000 sampai 15.000 watt.

Salah satunya adalah pembangkit listrik yang dibangun Abah To’an dan anak-anaknya. “Mikrohidro ini beroperasi sejak tahun 2002. Tetapi dibangun bertahap, tidak langsung jadi. Maklum, sebagai petani miskin, saya tidak mungkin menyiapkan langsung dana pembangunannya yang mencapai total Rp7 juta,” ujar To’an, Kamis (22/03/2018).

Menurut To’an, mula-mula mereka membeli beberapa sak semen untuk membangun pondasi. Setelah ada uang terkumpul lagi, To’an dan anak-anaknya kembali membeli semen untuk membuat saluran air. Begitu seterusnya hingga selesailah pembangkit listrik sederhana ini dan bisa menghasilkan 3.000 watt setrum.

Tetapi To’an tidak memakai sendiri listrik dari pembangkit tenaga kincir yang dibuatnya. Dia juga mengalirkan setrum itu kepada lima tetangga yang rumahnya dibatasi kebun-kebun kakao dan durian.

“Warga tidak dipungut biaya berlangganan atas masuknya listrik ke rumah mereka. Melainkan berkewajiban merawat bersama pembangkit listrik tenaga kincir itu. Misalnya, ketika ada salah satu komponen pembangkit yang rusak, mereka iuran untuk membelinya kembali,” kata dia.

Dengan mikrohidro itu, perkampungan yang lebih mirip hutan ini terang pada malam hari. Warga bisa menonton televisi. Tetapi wajib melengkapinya dengan antene parabola karena siaran tidak bisa ditangkap dengan bantuan antene biasa.

Listrik memang sudah menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia, di manapun. Bukan cuma bagi kalangan masyarakat perkotaan, tetapi sudah merambah ke pelosok-pelosok desa. Sayangnya, kemampuan PLN menyebar jaringan setrumnya masih terbatas. Sehingga, banyak warga yang sebetulnya membutuhkan aliran listrik terpaksa tidak bisa dilayani.

Membangun pembangkit listrik sendiri, karena itu, menjadi jawaban atas kegagalan PLN memasok listrik. Mikrohidro ini pembangkit listrik tenaga air skala kecil. Peralatan yang dibutuhkan sederhana saja. Juga hanya membutuhkan lahan areal sempit untuk instalasi dan pengoperasiannya.

Ini merupakan salah satu keunggulan mikrohidro: tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Mikrohidro mendapatkan energi dari arus sungai. Tenaga tersebut dimanfaatkan untuk memutar turbin yang dihubungkan dengan generator listrik.

Akan tetapi, lagi-lagi, semuanya tergantung pasokan air. Kincir yang menggerakkan dinamo untuk menghasilkan listik hanya mungkin berputar jika sungai-sungai masih mengalirkan air dengan memadai. Maka dari itu, menjaga hutan agar tetap lestari adalah langkah yang harus terus ditempuh.

Menilik apa yang dilakukan warga Desa Teratas, Kotaagung Tanggamus, mereka tampak sudah menyadari itu. Betapa sungai memang sungguh banyak gunanya. Maka warga bersemangat menjaganya agar tetap berair deras. Tentunya dengan menjamin tidak ada penebangan dan perusakan hutan di kawasan hulu sungai.

Satu hal yang mereka lakukan adalah tidak berkebun tanaman semusim di hulu sungai. Warga memilih menanam banyak tanaman keras dari beragam jenis, seperti kakao, durian, dan pala. Sehingga, lahan di lereng Gunung Tanggamus itu menjadi kebun campuran. Warga biasa menyebutnya repong. Mirip hutan alam yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Hutan memang banyak gunanya. (Sayuti)

Tanggapan anda: