Marak Penipuan, Kenali Akun Penipu di Dunia Maya

200
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
https://www.kupastuntas.co/files/berita-teknologi/internet/2018-03/kenali-motif-dan-akun-penip-di-dunia-maya-01.jpg
Media sosial. Ilustrasi/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Perkembangan teknologi digital tidak hanya bermanfaat terhadap kehidupan manusia, tapi juga memiliki efek negatif. Salah satunya, adalah aksi penipuan yang semakin beragam di dunia maya.

Transaksi jual beli melalui digital dan media sosial menguntungkan penipu untuk bisa langsung kabur membawa serta uang yang sudah diterimanya tanpa bertemu dengan lawan transaksinya.

Seperti dilansir dari Tempo.co, Jumat (02/03/2018), selebgram Angela Charlie atau yang akrab disapa Angela Lee harus mendekam di tahanan Polres Sleman, Yogyakarta akibat kasus penipuan dan pencucian uang. Dia dibekuk bersama sang suami, David Hardian Sugito, setelah dilaporkan oleh Santoso Tandyo yang merasa ditipu dan mengalami kerugian sebesar Rp12 miliar.

Pengamat komunikasi digital marketing Chrisma Wibowo mengatakan siapapun dalam dunia digital dapat menjadi korban kriminalisasi. Kriminalisasi tidak hanya berupa penipuan, tapi juga kejahatan seperti penculikan anak atau perempuan.

“Untuk itu sebagai orang tua, lindungilah anak-anak kita. Berhati-hati dalam menaruh foto di media sosial. Jangan terlalu menampilkan wajah seutuhnya. Untuk wanita juga, disarankan tidak menampilkan wajah seutuhnya,” paparnya.

Menurut Chrisma, ada beberapa karakteristik yang terindikasi sebagai penipu di media sosial. Salah satunya adalah foto profil dalam akun media sosial yang selalu berubah-ubah.

“Foto profilnya berubah-ubah dan berbeda. Akun (penipu) juga punya teman yang sedikit. Selain itu, tidak pernah menampilkan tulisan sendiri,” sebutnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah follower terlampau banyak, tapi isi unggahan hanya sedikit. Konten yang diunggah pun tidak orisinil dan lebih banyak mengambil gambar dari sumber lain yang kemudian dibuat untuk komersil.

Modus penipuan melalui media digital tidak hanya terjadi di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Modelnya pun hampir seragam.

Pada Facebook, misalnya para penipu suka memancing para pengguna media sosial untuk mengunjungi profil Facebook mereka yang isinya menampilkan iklan-iklan berpotensi viral. Ketika situs atau profil sosial media banyak dikunjungi, lanjut Chrisma, risiko penipuan meningkat.

“Untuk itulah, perbanyak baca dan jangan asal klik pada tautan yang muncul,” tambahnya.

Pengguna juga jangan mudah terpancing serta larut dalam polemik hoaks. Pastikan untuk mencari sumber yang jelas dalam setiap konten yang ada. (*)

Sumber: tempo.co

Tanggapan Anda:

Tanggapan anda: