Warga Ngaku Program Biling Pemkot Bandarlampung Tak Tepat Sasaran

999
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
https://www.kupastuntas.co/files/20-2.jpg
Pengumuman masuk sekolah jalur Biling di SMP Negeri 6 Bandar Lampung, Senin (09/07/2018). Foto: Wanda/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Program Bina Lingkungan (Biling) yang diterapkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung untuk warga tidak mampu pada praktiknya banyak tak tepat sasaran.

Seperti Syahrudin (36), salah satu warga Teluk Betung Selatan (TBS) mengaku anaknya tidak diterima di SMP Negeri 6 Bandar Lampung melalui jalur program Biling.

BACA : Pansus Pelanggaran Pilkada Lampung Agendakan Temu Para Ahli

BACA : KPUD Tanggamus: H-5 Tutup Pendaftaran, Belum Ada Caleg yang Daftar

Ia mengungkapkan, bahwa penerapan program Biling tidak tepat sasaran, karena ia melihat tetangganya yang ikut dalam program Biling tersebut diterima, sedangkan apabila dilihat dari rumah tetangganya tersebut dapat dikatakan mampu.

“Saya enggak tahu dek kenapa anak saya enggak diterima, padahal saya ini cuma kerja jadi tukang dibengkel mebel orang, rumah masih numpang sama mertua. Sedangkan tetangga saya yang punya rumah sendiri, lantai keramik tapi anaknya diterima,” ungkapnya usai melihat pengumuman masuk sekolah jalur Biling di SMP Negeri 6 Bandar Lampung, Senin (09/07/2018).

Hal serupa juga disampaikan oleh Sarmanah, warga kelurahan Gedung Pakuon, kecamatan TBS, mengaku kecewa dengan hasil pengumuman penerimaan sekolah anaknya yang tidak diterima melewati jalur Biling.

Padahal Sarmanah sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci, dan rumah juga masih mengontrak. “Enggak tahu mas, aneh masa tetangga saya orang mampu diterima sedangkan saya orang susah enggak diterima,” kata dia.

BACA : Pelaku Pembunuhan ‘Mayat Ditemukan Membusuk di Lampura’ Terungkap!

BACA : Biling Tak Tepat Sasaran, Herman HN: Silahkan Laporkan Langsung ke Saya!

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP N 6 Bandar Lampung, Khaironi menerangkan, peneriman program Biling memiliki tahapan-tahapan diharapkan terutama yang benar-benar tidak mampu atau miskin, dan tidak ada batasannya dalam penerimaannya.

“Jadi jangan ngaku-ngaku miskin tapi ketika disurvei rumahnya bagus dan termasuk golongan orang kaya,” ujarnya. (Sule/Wanda)

Tanggapan Anda: