Beranda Politik

Berbeda dari Tahun Sebelumnya, Perhitungan Suara Caleg Pemilu 2019 Pakai Metode Sainte Lague

3649
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares
https://www.kupastuntas.co/files/16-8.jpg
Ilustrasi/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandarlampung – Jika pada Pemilu 2014 menggunakan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) untuk perhitungan suara caleg, pada Pemilu 2019 akan menggunakan metode baru, yaitu Metode Sainte Lague. Perbedaan tersebut terdapat pada cara penghitungan perolehan suara atau perolehan kursi di DPRD II, DPRD I, dan DPR RI.

Dengan metode perhitungan ini, peraih kursi akan ditentukan dengan penghitungan suara partai yang akan dibagi dengan pecahan 1,3,5,7 dan seterusnya (metode bilangan ganjil). Sehingga jumlah dapil atau kursi per dapilnya itu dapat ditentukan dengan pembagian penghitungan suara sah tiap caleg.

Demikian disampaikan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung Ahmad Faudzan Pertama, Rabu (18/7/2018).

“Penghitungan ini menjadi lebih adil dan tidak ada suara yang terbuang. Jadi tidak ada istilah curang ataupun pihak yang dirugikan,” kata dia.

Berikut penerangan Fauzan mengenai metode Sainte Lague. Apabila dalam satu dapil ada alokasi 7 kursi misalnya, pada dapil tersebut: Partai A total meraih 28.000 suara, Partai B meraih 15.000, Partai C meraih 10.000, Partai D meraih 6.000 suara dan Partai E 3000 suara. Maka kursi pertama didapat dengan pembagian 1. (Jika dibagi 1, maka tentu jumlah suaranya masih sama). Jadi kursi pertama adalah milik partai A dengan 28.000 suara.

Untuk kursi ke 2, dikarenakan A tadi sudah menang di pembagian 1, maka berikutnya A akan dibagi 3, Perhitungan kursi ke-2 adalah: Partai A 28.000/3 = 9.333, Partai B 15.000/3 = 5.000, Partai C 10.000/3 = 3.333, Partai D 6.000/3 = 2.000 dan Partai E 3.000/3= 1.000.

Maka kursi ke 2 dapat dilihat antara jumlah suara 28.000 sampai 9.333. Partai B dengan perolehan suara 15.000 dan partai C dengan 10.000.

Baca Juga: Pileg 2019, Wartawan Hingga Akademisi Memperebutkan Kursi DPRD Provinsi Lampung

“Begitu seterusnya sampai pada habis kursi yang tersedia, dengan membagi setiap suara yang dibagi dengan bilangan ganjil,” ungkap Fauzan.

Faudzan juga menerangkan suara terbanyak kemungkinan besar akan mendapatkan kursi terbanyak. Karena sebelum pembagian dengan metode tersebut, akan dihimpun terlebih suara-suara yang berada dalam setiap dapil.

“Intinya kita akan melihat suara baik itu suara untuk partai maupun suara untuk paslon, karena proses penghitungan nanti kita menggunakan penghitungan suara secara keseluruhan baik suara paslon maupun suara partai,” kata dia. (Sule/Ant)

 

Facebook Comments