Beranda Nasional

Industri Olahan Kedelai Mengalami Tekanan Karena 2 Faktor Ini

56
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
https://www.kupastuntas.co/files/kota-bandar-lampung/2018-03/inilah-4-manfaat-utama-mengonsumsi-susu-kedelai-01.jpg
IST

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Para pelaku bisnis olahan kedelai, mengaku tertekan dengan sejumlah sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syariffuddin mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah dan kebijakan terbaru Kementerian Perhubungan mengenai over dimensi dan overload (ODOL) telah mengerek ongkos produksi para pengusaha tahu dan tempe. Hal itu membuat mereka berancang-ancang untuk menaikkan harga jual produknya.

“Memang masih dalam kajian [kenaikan harga produk], tetapi jika kondisi yang ada saat ini terus menekan kami para pengusaha, bukan tidak mungkin kami menaikkan harga supaya margin keuntungan kami tidak terus tergerus,” katanya, Jumat (03/08/2018).

BACA: Gubernur: BPKP Lampung Awasi Penggunaan Anggaran dan Penyimpangan

BACA: 158.373 Anak Tanggamus Menjadi Target Imunisasi Measles Rubella

Dia menyebutkan, nilai tukar rupiah sangat berpengaruh terhadap produsen tahu dan tempe serta olahan kedelai lainnya. Pasalnya, lebih dari 80% bahan baku kedelai didapatkan oleh para pengusaha dari impor.

Kini, lanjutnya, akibat penguatan nilai tukar greenback terhadap rupiah yang menembus Rp14.400 per dolar AS, harga kedelai ditingkat importir mencapai Rp7.000 per kilogram (kg). Harga itu, naik dari tahun lalu yang mencapai Rp6.700, ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih di kisaran Rp12.000.

Seperti diketahui, berdasarkan data Gakoptindo, kebutuhan kedelai nasional dari luar negeri mencapai 3 juta ton pada tahun ini. Dia menyebutkan, 80% dari impor tersebut diserap oleh produsen tahu dan tempe, sementara sisanya yang berupa kedelai hitam dan kedelai non-genetically modified organism (GMO) diserap oleh produsen kecap dan minuman ringan.

BACA: Tercatat Sementara, DPSHP 2019 Lampung Utara Sebanyak 439.900

BACA: Disdikbud Lampura Mendapatkan Bantuan DAK 14,2 Miliar

Sementara itu, terkait kebijakan terbaru Kementerian Perhubungan mengenai penindakan truk over dimensi dan overload (ODOL) juga turut mengerek ongkos produksi pengusaha tahu tempe. Dia mencontohkan, proses pengangkutan kedelai dari gudang Cigading menuju Ciamis yang selama ini mampu mengangkut 30 ton per harinya, semenjak diberlakukan aturan ODOL, hanya boleh mengangkut 18 ton per harinya.

“Ketika dibatasi menjadi 18 ton, otomatis armada yang dibutuhkan meningkat. Dampaknya, ke ongkos angkutan dari sebelumnya Rp150 per kg kedelai, sekarang naik jadi Rp300 per kg kedelainya,” katanya.

Tekanan tersebut, menurutnya, berpeluang mengganggu pertumbuhan industri tahu dan tempe yang pada tahun ini. Adaun, Gakoptindo menargetkan produksinya tahu dan tempe nasional akan mengalami kenaikan tipis 2%-5% dari tahun lalu. (Bisnis.com)

Facebook Comments