Beranda Kesehatan

Waspada! ‘Menopause’ pada Pria Mulai Mengancam Pemuda

29
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
http://www.kupastuntas.co/files/d90bb445-2500-4406-929c-480a8c51cc40_169.jpg
Ilustrasi (PDPics/Hasmat Ali)

Kupastuntas.co, Bandar Lampung –¬†Masalah seksual yang umumnya terjadi pada pria berusia tua kini mulai mengancam para pemuda. Pria berusia muda mulai mengalami ‘menopause’ atau lebih dikenal dengan andropause.

Andropause merupakan kondisi yang biasanya dialami oleh pria paruh baya. Gejalanya mirip dengan menopause pada wanita. Salah satunya ditandai dengan penurunan kadar hormon testosteron.

Para ahli meyakini menopause yang biasa terjadi pada pria tua ini menyerang usia yang lebih muda lantaran pengaruh gaya hidup tidak sehat seperti obesitas, stres, dan kurang tidur.

Baca Juga: Daftar CPNS 2018, Tapi Lemot Minta Ampun? Ini Jawabannya

Ahli naturopati, Geovanni Espinosa menjelaskan, penurunan kadar hormon testosteron juga dapat terjadi karena suasana hati, tingkat energi, nutrisi genetika, kondisi kesehatan, obat-obatan, dan usia. Espinosa menjelaskan hal itu pada salah satu tulisan dalam buku anyar Integrative Sexual Health yang disunting oleh Andrew Weil.

Normalnya, penurunan kadar hormon testosteron biasanya terjadi secara bertahap pada pria yang memasuki usia tua. Penelitian menunjukkan pada usia 40 tahun, pria mengalami penuruan 3 persen testosteron setiap tahunnya. Pada usia 80 tahun, rata-rata pria memiliki testosteron 50 persen lebih sedikit dibandingkan saat dia masih muda.

Namun, kini banyak pria muda berusia 20 tahun hingga 40 tahun yang mulai mengalami menopause. Hal ini ditandai dengan munculnya beberapa masalah seperti penurunan libido, gangguan pada ereksi, insominia, kenaikan berat badan, penurunan kepadatan otot dan tulang, hingga agitasi dan depresi.

Untuk mengembalikan kadar testosteron, alih-alih mendapatkan pengobatan dari dokter, Espinosa, dalam bukunya menyarankan untuk melakukan pendekatan integratif. Pada pria muda, kadar testosteron yang normal berkisar antara 270 dan 1030 nanogram per desiliter.

Baca Juga: Besok, Semua Instansi Buka Pendaftaran CPNS

“Menurut pendapat saya, pemberian obat-obatan baru dapat diberikan setelah melalui serangkaian bukti yang dilihat dari tes darah. Saya merekomendasikan pendekatan integratif untuk kesehatan seksual,” kata Weil, seperti dikutip dari CNN.

Pendekatan integratif itu dapat dilakukan dengan latihan fisik atau berolahraga, nutrisi yang tepat, tidur, dan mengonsumsi suplemen.

  1. Olahraga

Kadar testosteron dapat ditingkatkan dengan aktivitas fisik tertentu. Mengangkat bebas menggunakan otot yang besar seperti di kaki dan punggung dapat meningkatkan testosteron.

“Deadlift dan squat merupakan olahraga yang sangat baik untuk tujuan ini,” kata Espinosa.

Di sisi lain, olahraga kardio dan maraton justru menurunkan kadar testosteron.

  1. Nutrisi

ntara itu, nutrisi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kadar testosteron adalah sejumlah karbohidrat. Selain itu, disarankan pula untuk mengonsumsi buah-buahan berserat tinggi, sayuran, biji-bijian, dan kacang polong.

Beberapa sumber lemak dari daging, minyak kelapa, dan kacang macadamia juga dapat memacu testosteron. Sedangkan makanan yang memicu obesitas dan resistensi insulin dapat menurunkan kadar testosteron.

  1. Tidur

Meningkatkan kualitas tidur dapat memengaruhi jumlah testosteron. Pasalnya, kebanyakan testosteron diproduksi pada pukul 5 hingga 7 pagi.

Selain itu, Espinosa juga menyarakan untuk mematikan gawai setelah pukul 21.00 karena cahaya yang dipancarkan dapat mengganggu tidur.

  1. Suplemen

Laki-laki yang sudah didiagnosis memiliki testosteron rendah sebaiknya berdiskusi dengan dokter untuk mengonsumsi suplemen. Espinosa menyebut, vitamin D dan zinc memainkan peranan penting dalam produksi testosteron. Beberapa herbal seperti ashwagandha dan rhodiola juga dapat menjadi pilihan. (cnnindonesia)

Facebook Comments