Beranda Bandar Lampung

Kenaikan Harga Beras Diperkirakan Hingga Februari 2019, Ini Alasannya

517
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Anggota komisi II DPRD Provinsi Lampung, I Nyoman Suryana. Foto: Erik/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung –┬áKenaikan harga beras pada musim panen gadu di Provinsi Lampung diperkirakan berlangsung hingga panen raya pada Februari 2019 mendatang. Demikian disampaikan anggota komisi II DPRD Provinsi Lampung, I Nyoman Suryana, kepada Kupas Tuntas, di ruang komisi II, Rabu (3/10).

Menurutnya, kenaikan harga beras merupakan hal yang wajar lantaran kondisi cuaca ekstrim yang menyebabkan produksi menurun, sementara kebutuhan pangan di masyarakat terus meningkat.

“Artinya stok ini terbatas tetapi animo pembeli itu tetap sehingga terjadilah kenaikan harga. Karena sekarang ini musim panen gadu, biasanya gadu ini menghasilkan produksi dengan baik sehingga dimungkinkan stabilitas harga itu bisa dijaga. Tetapi ketika hasil produksinya menurun sedangkan kebutuhan tetap, berarti jelas animo kebutuhan masyarakat akan selalu diikuti oleh perimbangan harga. Kalau hasil produksi stabil, maka harga akan stabil,” ujar Nyoman.

Dikatakannya, dalam masa panen gadu terdapat banyak gangguan seperti kekeringan, tanaman tak normal, dan serangan hama mengakibatkan hasil panen yang biasanya per hektar bisa mencapai minimal 4-5 ton, namun saat ini menurun hingga 2,5 ton per hektar atau maksimal 3 ton per hektar, sehingga dapat dikatakan potensi gagal panen sebesar 40-45 persen.

“Oktober 2018 masa tanam, Januari 2019 sudah masa panen raya dan di Februari-nya harga sudah stabil lagi. Tapi perbandingan harga sejauh ini tak terlalu jauh, untuk masyarakat Lampung belum terlalu menjerit terkait harga pangan karena kita wilayah produksi hortikultura,” katanya.

Faktor lainnya dari kenaikan harga beras, lanjut dia, bukan hanya disebabkan oleh kondisi seperti di atas, akan tetapi produksi yang dikirimkan ke luar daerah juga menyebabkan harga beras naik.

“Untuk konsumsi di Lampung cukup, tetapi pengusaha tidak melirik kebutuhan di wilayah saja, dengan alasan profit (keuntungan) dia memproduksi di Lampung diolah dan dikirim ke luar daerah seperti Bengkulu, Jambi, Pekanbaru, sampai Pulau Jawa, itu lah yang membuat harga naik juga,” tuturnya.

Menyikapi gejolak kenaikan harga beras di pasaran, Perum Bulog sebagai stabilisasi pangan akan mempenetrasi beras dari gudangnya ke pasaran. Maka beras yang berasal dari impor menjadi cadangan pangan nasional bagi Bulog untuk memenuhi kebutuhan primer.

“Maka Bulog gudangnya tidak boleh kosong. Kalau Bulog tak menyediakan stok beras maka akan menyengsarakan rakyat kelas bawah,” tutupnya.

Seperti diketahui, kenaikan harga beras sudah terjadi sejak dua pekan silam. Terpantau harga beras jenis IR-64 kualitas medium Rp11.500/kg, biasa Rp10.500/kg, jenis muncul Rp9.500/kg dan asalan Rp8.500/kg. (Erik)

Facebook Comments