Beranda Bandar Lampung

Cuaca Tidak Menentu, Pengelola Ikan Teri di Bandarlampung Menjerit

198
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Pengelola Ikan Teri di Pulau Pasaran masih mengandalkan sinar matahari untuk pengeringan, Kamis (8/11/2018). Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandarlampung – Akibat kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa hari terakhir, mengakibatkan pengelola ikan teri di Pulau Pasaran, Bandar Lampung, menjerit. Pasalnya, selama ini pengeringan ikan teri hanya mengandalkan cahaya matahari.

Selama ini, pengolahan ikan teri di Pulau Pasaran masih mengandalkan kondisi alam. Saat musim kemarau, para pengelola ikan teri akan mendapatkan untung besar karena ikan cepat kering. Sebaliknya, saat memasuki musim hujan, ikan teri sulit kering sehingga pendapatan menurun.

“Faktor cuaca menjadi kendala bagi kami sebagai pengelola ikan teri. Karena selama ini kami menjemur ikan hanya menggunakan sinar matahari langsung bukan oven,” kata Yadi, salah satu pengelola ikan teri di Pulau Pasaran, Kamis (8/11/2018).

Baca Juga: Banyaknya Peserta Tidak Lulus SKD,  Panselnas Tes CPNS akan Lakukan Evaluasi

Akibat kata Yadi, saat faktor alam tidak mendukung seperti terjadinya hujan maka banyak pengelola ikan teri yang tidak melakukan penjemuran. Sehingga tidak ada pemasukan dari hasil menjual  ikan teri.

“Seperti sekarang ini, seharian kami bisa tidak ada ikan teri kering. Bahkan, ikan bisa saja rusak karena jika sehari saja tidak dijemur maka ikan akan berubah warna menjadi kuning,” ungkapnya.

Meskipun dalam keadaan berubah warna, menurutnya ikan tetap layak dimakan dan dijual di pasaran. Hanya saja, harga dari ikan yang telah berubah warna akan turun drastis dari ikan yang benar-benar segar. Untuk ikan yang telah berubah warna dijual seharga Rp15 ribu dari harga normal sebesar Rp40 ribu.

“Jadi faktor alam saat ini benar-benar mempengaruhi harga jual. Karena jika seperti sekarang matahari jarang terlihat, kami merugi karena ikan berubah warna dan juga kurangya peminat. Tapi kalau kondisi panas, ikan teri yang kami jemur cepat kering dan harganya tinggi,” terangnya.

Hal senada dikatakan pengelola ikan teri lainnya Agus. Ia mengaku, telah dua hari tidak menjemur ikan teri di pelataran rumahnya disebabkan sering turunnya hujan.

“Kalau tidak ada ikan teri yang dijemur ya kami tidak ada aktivitas. Kami bukan nelayan, kami hanya membeli ikan teri dari nelayan melalui bagan yang berada di tengah laut,” ujarnya. (Ant)

Facebook Comments