Beranda Politik

Caleg PDIP Wajib Pasang APK Bergambar Megawati dan Jokowi

66
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
https://www.kupastuntas.co/files/7-1.jpeg
PDIP. Foto : Ist

Kupastuntas.co, Jakarta – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) meminta para calon legislatif (caleg) untuk memasang Alat Peraga Kampanye (APK) yang memuat gambar Jokowi-Ma’ruf Amin. Selain itu, juga ada gambar proklamator Bung Karno serta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Hal ini disampaikan dalam acara workshop fraksi DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Workshop tersebut bertema ‘Peran Fraksi PDI Perjuangan Dalam Memenangkan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden’.

“Tugas kita harus menjadikan pemilu legislatif dan pemilu presiden sebagai satu tarikan napas perjuangan. Karenanya, bagi setiap caleg di dalam masang APK, wajib untuk memasang gambar Pak Jokowi dan Ma’ruf. Wajib untuk memasang gambar Bung Karno dan Ibu Megawati Soekarnoputri,” ucap Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat memberikan arahan di Hotel Grand Paragon, Jakarta, Jumat (23/11/2018).

Selain itu, dia menyebut, DPP PDIP juga akan mengeluarkan instruksi. Caleg yang suaranya lebih tinggi daripada suara pilpres di daerah masing-masing, maka tak akan dilantik.

“Bahkan, mengingat pemilu legislatif dan pemilu presiden adalah satu tarikan napas, DPP akan mengeluarkan instruksi bagi caleg yang nanti perolehan suaranya melampaui perolehan suara Presiden dan Wapres, kami usulkan untuk tidak dapat dilakukan pelantikan,” ungkap Hasto.

Hasto menyatakan, workshop ini menyatukan perjuangan bersama. Sehingga, tidak mengenal kata menyerah untuk memenangkan PDIP dan Jokowi.

Dia juga mengingatkan pentingnya generasi milenial dalam meraih kemenangan. Serta, pentingnya gerakan kaum perempuan Indonesia.

“Ibu Megawati Soekarnoputri mengingatkan kita punya kekuatan cadangan strategis, yaitu kaum perempuan PDI Perjuangan. Gerakan mereka. Karena mereka jalan peradaban Indonesia raya. Perempuan kita terbanyak baik yang menjabat sebagai legislatif dan menjabat sebagai kepala daerah. Karena itu, mengapa mereka mencoba menggunakan emak-emak,” pungkas Hasto. (Lp6)

Facebook Comments