Beranda Politik

Dibawah Nakhoda Baru, Kemana Pemuda Muhammadiyah Berlabuh?

50
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah periode 2018-2022 Sunanto alias Cak Nanto. Dok. Istimewa

Kupastuntas.co, Jakarta – Ketukan palu pimpinan sidang menandakan Sunanto sah menjadi nakhoda baru Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dia mengantongi 590 suara. Sementara lima rivalnya tersingkir dalam pemilihan yang berlangsung Kamis dini hari, 29 November 2018.

Cak Nanto, begitu ia biasa disapa, berjanji tak akan menyeret organisasi ini masuk dalam politik praktis. Langkah itu sebagai wujud nyata untuk menjaga khittah dan marwah Persyarikatan Muhammadiyah.

Sikap Pemuda Muhammadiyah itu, menurut Pengamat Politik Adi Sucipto, sudah sesuai dengan pendirian induk organisasinya, Muhammadiyah. Dalam Pilpres 2019, lembaga yang dicetuskan Ahmad Dahlan itu menyatakan tak memihak kepada pasangan calon mana pun alias netral.

“Dia akan menjaga independensi Muhammadiyah sebagai organisasi umat. Tidak akan ikut tertarik dalam dunia politik apa pun,” kata Adi kepada Liputan6.com, Kamis (29/11/2018).

Dia meyakini Cak Nanto memiliki komitmen kuat dalam memegang sikap politiknya tersebut. Terlebih, alasan yang diungkapkan mengacu pada menjaga nama baik lembaga yang dipimpinnya.

“Dia bilang berkomitmen akan konsisten Pemuda Muhammadiyah adalah organisasi kepemudaan, yang tidak terlibat politik praktis, bukan partisan. Langkah itu demi menjaga marwah organisasi,” ujar Adi.

Karena tak memberikan fatsun politik kepada salah satu calon, suara pemuda Muhammadiyah dinilainya akan terbelah. Mereka ada yang melabuhkan pilihan ke Jokowi dan ada pula yang memihak Prabowo.

“Karena memang banyak juga kader-kader Muhammadiyah itu tidak ke PAN. Misalnya Sekjen Perindo Ahmad Rofiq, kan relatif muda itu, kemudian Yayan Sopyan dia caleg PDIP. Itu artinya sejak awal kader Muhammadiyah tidak bulat ke PAN atau ke partai-partai yang mendukung Prabowo,” jelas Adi.

Atas sikap netralnya itu, ruang kosong ini akan menjadi magnet bagi para pasangan calon untuk menggaet hati kader Pemuda Muhammadiyah pada Pilpres nanti. Namun kedua paslon juga dituntut memiliki jurus jitu dalam menggaet suara mereka.

“Dengan dibebaskannya aktivis pemuda Muhammadiyah ini, tergantung (para paslon) melakukan pendekatan saja. Intinya yang penting Pemuda Muhammadiyah tidak partisan, tidak mendukung salah satu calon, dan membebaskan (orangnya),” ujar Adi. (Lp6)

Facebook Comments