Beranda Bandar Lampung

Rektor UBL Ciptakan Kampus Bersih Narkoba Pertama di Lampung

66
Rektor UBL, Dr. Ir. M. Yusuf Sulfarano Barusman, MBA. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandarlampung – Perguruan tinggi memiliki tiga misi besar yang terkandung dalam Tri Dharma, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Perguruan tinggi juga mendidik dan mengembangkan manusia sehingga memiliki daya saing dan kualitas yang baik.

Untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap bersaing, tak hanya mengasah kemampuan akademiknya, tetapi juga membentuk mentalnya. Manusia jika ingin mentalnya sehat, tentunya harus bebas dari bahaya narkoba.

Mencegah bahaya narkoba masuk ke lingkungan kampus dan mahasiswa menjadi salah satu konsen dari Universitas Bandar Lampung (UBL) selain peningkatan kualitas akademik.

Rektor UBL, Dr. Ir. M. Yusuf Sulfarano Barusman, MBA mengatakan, perlu disadari keberadaan perguruan tinggi tak hanya mendidik manusia tetapi juga memiliki tanggungjawab mengawal para mahasiswa sampai lulus hingga sampai berada di tengah masyarakat. Maka tanggungjawab itu bukanlah hal yang mudah.

Salah satu yang menjadi perhatian pihak UBL adalah terkait dinamika eksternal (di luar kampus), yaitu peredaran narkotika. Sebab bukan rahasia lagi, bahwa sudah banyak mahasiswa yang terpapar narkoba. Padahal sebagai generasi penerus yang kelak jadi pemimpin bangsa, para mahasiswa seharusnya bersih dari penyalahgunaan barang haram tersebut.

“Musuh terbesar kita adalah narkoba. Karena narkoba ini baik secara sistematis maupun tidak sistematis ini adalah ideologi besar yang sedang berjalan. Banyak negara di dunia, seperti di Amerika, Afika, hingga Asia ini korban dari penyalahgunaan narkotika. Efeknya sangat dahsyat karena bukan cuma merusak kesehatan tetapi perilaku. Itu kan menjadi beban negara, oleh karena itu kita harus seriusi,” kata Yusuf Barusman.

Maka sejak 7 tahun lalu, UBL mendirikan Pusat Studi Kajian Narkoba (PSKN). Di dalam pusat studi ini, para peneliti dan dosen melakukan studi dampak dari penggunaan narkoba, cara terapi, dinamika hukum hingga pola-pola peredaran narkoba yang terjadi hingga saat ini.

Hal inilah yang menjadi tolok ukur tim Kupas Tuntas untuk memberikannya penghargaan pada Kupas Tuntas Awards 2018 yang telah diselenggarakan, pada Senin (3/12/2018) bertepatan dengan HUT ke-12 Kupas Tuntas. Rektor UBL, Dr. Ir. M. Yusuf Sulfarano Barusman dinobatkan sebagai akademisi berprestasi dengan Nominasi: Kampus Bersih Narkoba Pertama di Lampung

Universitas Bandar Lampung. Foto: Ist

Dari hasil kajian dan sumber dari Badan Narkotika Nasional, kata Barusman, Lampung saat ini menjadi salah satu daerah tertinggi penyalahgunaan narkoba di Sumatera. Diperkirakan konsumsi narkoba mencapai 7 ton per tahun dengan jumlah pengguna narkoba sebanyak 178 ribu orang.

Melihat bahaya yang ada di depan mata, ia pun selalu menekankan agar para dosen di Kampus UBL tak hanya mengajarkan mahasiswa keterampilan, teori, dan sebagainya. Tetapi harus mengembangkan kualitas manusia seperti kita mendidik anak kandung sendiri. Sebab peredaran narkoba ini pun menyasar ke semua lapisan masyarakat, lapisan ekonomi, sosial, dan pendidikan.

“Jadi tidak bisa kita buat hipotesis bahwa yang terkena dampak narkoba itu hanya orang kaya saja, sebab orang miskin juga banyak, atau orang bodoh saja karena banyak pejabat kena juga. Maka kita coba intensifkan kajian narkoba tadi dengan bekerjasama dengan pusat rehabilitasi narkoba, kita lakukan riset-riset. Itu yang kita mulai,” jelas dia.

Langkah upaya mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba di lingkungan kampus, UBL membentuk satu organisasi bernama Organisasi Mahasiswa Anti Narkoba (OMAN) pada 24 Mei 2016 lalu untuk angkatan pertama. Pada Selasa, 24 April 2018, Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko melantik pengurus baru OMAN UBL. Pelantikan ini menjadi ajang untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja OMAN. Sebab tantangan OMAN seputar pencegahan secara preventif menjadi semakin kompleks.

Barusman menjelaskan, OMAN inilah yang mengawal dan melakukan deteksi dini terkait aktivitas yang mengarah kepada penyalahgunaan narkoba. Jika ada rekan mereka sesama mahasiswa yang terpapar narkoba, maka segera dilaporkan ke pihak rektorat. Kemudian pihak rektorat yang akan melakukan konsultasi kepada keluarga agar dilakukan pengobatan atau rehabilitasi.

Rektor UBL, Dr. Ir. M. Yusuf Sulfarano Barusman, MBA. Foto: Ist

“Jadi kalau ada yang terkena penyalahgunaan narkoba jangan dimusuhi karena dia korban, perlu diobati. Kita tidak anggap dia musuh, namanya anak tetap sebagai anak tetapi kita harus membentengi mereka dari bandar narkoba di luar sana,” ungkap ketua ICMI Lampung ini.

Aturan kampus yang sudah ditetapkan juga mendukung pentingnya kampus bersih dari narkoba. Salah satunya larangan merokok di dalam lingkungan kampus.

Selanjutnya, UBL juga membentuk Gugus Tugas Narkoba Radikalisme Terorisme (NRT). Menurut Barusman, selain narkoba, radikalisme dan terorisme perlu diperangi secara serentak karena ini juga musuh bersama.

Agar kerja dari Gugus Tugas NRT ini tersistematis, UBL menugaskan di semua lini, mulai dari fakultas, prodi hingga ke organisasi mahasiswa. Tugasnya juga untuk mendeteksi dini bahaya dari ketiga ancaman tersebut.

Menurutnya, untuk memerangi narkoba memang butuh partisipasi semua pihak. Ia pun membagikan nomor HP-nya kepada semua warga UBL agar kalau ada masalah atau indikasi penyalahgunaan narkoba yang masuk ke dalam kampus, untuk segera dilaporkan kepadanya.

Barusman menjelaskan, kerja keras UBL dalam memerangi narkoba, kampus ini mendapat apresiasi dari BNNP Lampung dan juga BBN Puat. Sehingga UBL dinobatkan sebagai Kampus Bersih Narkoba. Bahkan Kepala BNN Heru Winarko juga memberikan apresiasi saat berkunjung ke Kampus ini pada April 2018 lalu.

“Kepala BNN, Pak Heru mengatakan tugas yang kita lakukan ini sangat berani, karena kita berhadapan dengan musuh besar (Bandar narkoba) di luar, mereka tidak tinggal diam. Tapi saya yakinkan benteng terakhir adalah kita sendiri. Kalau kita ada niatan dan strategi, Insha Allah kita bisa cegah. Dan Alhamdulilah UBL clear, dari dosen, karyawan, hingga mahasiswa,” ucapnya.

Peran aktif OMAN dan PSKN UBL dalam memberikan pemahaman akan bahaya narkoba tak hanya berhenti di kalangan mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas. OMAN dan PSKN bekerjasama dengan BNN Provinsi Lampung turun ke jalan mengkampanyekan anti narkoba dengan membagikan souvenir dan stiker bahaya narkoba kepada masyarakat. Kampanye antinarkoba ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan memperingati Hari Antinarkoba International (HANI) 2018.

Bersama BNNP, OMAN dan PSKN UBL juga terlibat dalam pelatihan anti narkoba di lingkungan pendidikan di Provinsi Lampung untuk menekan penyalahgunaan narkoba di kalangan pemuda termasuk mensosialisasikan perumusan kebijakan teknis pencegahan, pemberdayaan masyarakat, pemberantasan, rehabilitasi, hukum dan kerjasama antar stakeholder (termasuk perguruan tinggi).

Dana Beasiswa Lebih Rp10 M/Tahun

Rektor UBL, Dr. Ir. M. Yusuf Sulfarano Barusman, MBA. Foto: Ist

Universitas Bandar Lampung (UBL) konsisten memberikan bantuan kepada para mahasiswa yang kurang mampu untuk berkuliah di kampus tersebut. Lebih dari Rp10 miliar dikucurkan pihak UBL untuk membantu sekitar 1.000 hingga 1.800 mahasiswa setiap tahunnya.

Rektor UBL, Muhammad Yusuf Sulfarano Barusman mengatakan sejak awal UBL menjadi Perguruan Tinggi, punya misi sosial yang kuat untuk mendidik manusia Indonesia khususnya di Lampung.

Lampung secara khusus, Angka Partisipasi Kasar (APK)perguruan tinggi di era 2000-an masih sangat rendah. Bukan hanya karena minat belajar yang  rendah, tetapi karena masalah ekonomi sehingga tak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Maka sejak tahun 2001, pihaknya sudah me-launching beasiswa bagi yang mahasiswa kurang mampu.

“Artinya beasiswa ini sudah jalan 17 tahun. Mereka (penerima beasiswa) benar-benar kuliah tidak berbayar. Jadi program beasiswa kita jauh lebih dulu dari beasiswa Bidik Misi punya pemerintah,” kata Yusuf Barusman.

Program beasiswa ini pun terus dikembangkan, tak hanya untuk anak-anak Lampung, tetapi terbuka ke semua daerah. Yusuf mengatakan, ia ingin ada interaksi budaya di UBL. Sehingga anak-anak dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua pun bisa menimba ilmu secara gratis di UBL.

Namun seiring berkembangnya kampus UBL, peminat beasiswa pun semakin banyak. Maka program beasiswa itu dilebarkan, ada beasiswa prestasi ada pula sosial. Pembagiannya juga semakin disesuaikan. Ada mahasiswa yang tetap mendapat 100 persen, ada juga yang tidak full 100 persen bagi mereka yang masih terbilang mampu.

Alhamdulilah sekarang ini sudah lebih Rp10 miliar per tahun untuk lebih 1.000 sampai 1.800 anak. Saya selalu menekankan jangan sampai ada satupun mahasiswa UBL yang terhambat kuliahnya karena masalah finansial. Semuanya harus kita carikan solusi untuk itu,” jelas dia.

Ke depan, pihaknya tetap berupaya untuk meningkatkan jumlah penerima beasiswa, sehingga semakin banyak yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Barusman mengatakan, hingga saat ini Angka Partisipasi Murni (APM) pendidikan tinggi di Lampung masih rendah yaitu sekitar 22 persen. Artinya, kata dia, baru 22 dari 100 orang (usia 19 -24 tahun) yang melanjutkan pendidikan tinggi.

“Ini sudah ada peningkatan. Awal kita deteksi sekitar tahun 2004-2005 lalu itu nggak sampai 10 persen, paling hanya 8 persen. Ternyata bukan cuma karena kemampuan akademisnya yang rendah, tapi juga kemampuan ekonomisnya. Makanya kita upayakan membantu sehingga indeks pendidikan Lampung terus meningkat,” tandasnya.

Kolaborasi ke Berbagai Negara

Rektor UBL, Dr. Ir. M. Yusuf Sulfarano Barusman, MBA. Foto: Ist

Kampus UBL juga dikenal sebagai salah satu kampus dengan akreditasi tertinggi di Lampung untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Yusuf Barusman mengatakan, saat ini sudah ada 4 program studi di UBL yang meraih Akreditasi A. di tahun 2019 mendatang ditargetkan akan tambah 4 prodi lagi sehingga totalnya 8 prodi dari 16 prodi yang ada. Dengan demikian, diharapkan pada tahun 2020 akreditasi institusi juga akan menjadi A.

Menurut Barusman, satu-satunya acuan kualitas perguruan tinggi adalah akreditasi. Dengan adanya akreditasi A di beberapa prodi UBL, maka sejatinya sudah mensejajarkan UBL dengan beberapa perguruan tinggi papan atas di Indonesia.

“Kita sudah mentok dari sisi kualitas sudah paling tinggi. Saya selalu sampaikan kuliah di UBL itu sama dengan kuliah di PTN papan atas, kenapa? karena sebagian prodi kita sudah akreditasi A. Misalnya ada yang kuliah di Teknik Sipil ITB yang Akreditasinya A, di UBL dengan prodi yang sama juga A. Berarti sama,” kata dia.

Barusman menyebutkan, pihaknya tetap komitmen untuk meningkatkan kualtias akademik. Maka ia mengimbau agar mahasiswa UBL tidak perlu ragu, dan harus lebih confident bersaing di level nasional dan internasional. Sebab, jika melihat alumni UBL sudah sangat banyak yang diterima di berbagai lapangan usaha yang sangat menjanjikan. Seperti OJK, Bank Indonesia, berbagai perusahaan papan atas nasional. Selain itu banyak juga yang memilih menjadi pengusaha dan politisi. Bagi Yusuf Barusman, semua profesi bagus asal ditekuni sesuai bidangnya.

Namun bukan hal yang mudah untuk meningkatkan kualitas akademik. Untuk mencapai itu, UBL harus melalui banyak proses. Mulai dari pembenahan pembelajaran, kurikulum, dosen, hingga membuat berbagai pusat studi. Saat ini UBL memiliki sekitar 20 pusat studi untuk pengembangan keilmuan.

Rektor UBL, Dr. Ir. M. Yusuf Sulfarano Barusman, MBA. Foto: Ist

Dan yang tak kalah penting, adalah kolaborasi akademik dengan perguruan tinggi internasional. Di antaranya perguruan tinggi di China, Amerika, Jepang, dan berbagai negara lainnya. Kolaborasi ini kaitannya untuk meng-upgrade kualitas akademik sehingga nantinya bukan hanya diakui nasional tetapi juga secara global. “Tentu turunan dari dosen yang kualitas global, maka mahasiswa yang lulus kualitas global juga. Jadi apa yang diajarkan di China, Amerika sama dengan yang diajarkan di sini,” kata dia.

Berbagi upaya yang dilakukan ini pun membuahkan hasil. UBL mendapat pengakuan dari masyarakat dan negara dalam bentuk prestasi, akreditasi, hibah dan sebagainya. Saat ini, lebih dari 50 persen dosen UBL sudah bergelar doktor. Sementara ada lebih 8.000 mahasiswa yang menimba ilmu di kampus ini.

“Namun masyarakat masih perlu diedukasi. Karena yang dikenal hanya perbedaan PTN dan PTS. Padahal bisa saja dia masuk PTN tapi akreditasi prodinya masih C, padahal kita A. Nanti kalau dia lulus dan cari kerja kan yang dilihat akreditasi sebagai prasyarat kemudian hasil tes. Kalau dia sekolah asal-asalan, tentu keluarnya juga asal-asalan sekalipun itu PTN,” tandasnya. ****

Facebook Comments