Beranda Nasional

Musibah Banjir Bandang Sulsel, 9 Meninggal Dunia 7 Ribu Mengungsi

50
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Kondisi banjir di Sulsel tampak dari atas. Foto : Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, Syamsibar menyebut sudah 9 orang korban jiwa akibat cuaca ekstrem dan banjir bandang.

“Paling banyak di Kabupaten Gowa, sudah 7 orang,” kata Syamsibar kepada CNNIndonesia.com di Kabupaten Gowa, Sulsel, Rabu (23/1).

Korban jiwa lain di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) dan satu lagi di Jeneponto. Ia tidak menyebut informasi tiga korban jiwa lainnya di Kabupaten Maros yang juga dinyatakan meninggal dunia. “Laporan sementara baru 9 orang,” katanya.

Sementara jumlah pengungsi secara keseluruhan mencapai 7 ribu orang. Mereka tersebar di Kabupaten Jeneponto, Takalar, Gowa, Maros, Pangkep dan Kota Makassar. Khusus Makassar kata Syamsibar tidak ada korban jiwa, tapi tingkat keparahannya cukup tinggi.

Air yang tiba-tiba datang setelah Bendungan Bili-bili dibuka tidak memberi waktu warga untuk menyelamatkan barang berharga. Kondisi paling parah di Blok 10 Perumahan Antang Makassar di mana yang terlihat hanya atap rumah warga.

Kawasan ini memang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gowa dan aliran sungai Jeneberang melintas di tempat itu. Airnya menuju Kabupaten Maros sehingga berefek besar.

Akibat dibukanya Bendungan Bili-bili secara tiba-tiba, empat kabupaten/kota langsung terdampak parah. Kabupaten Gowa di sepanjang bantaran Sungai Jeneberang. Kabupaten Takalar yang juga bersisian di muara serta Kota Makassar yang dilalui aliran sungai dan Kabupaten Maros.

Sedangkan Jeneponto dan Pangkep kata Syamsibar terdampak murni karena curah hujan yang tinggi.

Hingga saat ini proses evakuasi masih terus dilakukan. TIM dari Kepolisian, TNI, Basarnas dan BPBD dilebur menjadi tim bersama.

Khusus untuk Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa yang sebelumnya terisolasi akibat dua jembatan putus sudah ditembus tim Basarnas. Beberapa warga dilaporkan hilang di tempat itu. Namun Syamsibar belum bisa memastikan berapa jumlah korban jiwa dan luka-luka.

Salah satu lokasi banjir di Dusun Tamalayu Desa Pallantikang, Kecamatan Pattalassang Kabupaten Gowa. Jalannya sempat terputus karena air yang tinggi. Tahir, salah seorang warga setempat mengatakan, baru kali ini ia melihat air tidak surut dalam dua hari.

“Dulu kalau hujan biasanya hanya genangan, sekarang airnya tinggi dan deras,” katanya.

Lantaran banyak kendaraan khususnya roda dua yang tidak bisa melintasi jalan itu. Sebagian warga membuka jasa penyeberangan. Mereka menggunakan truk untuk mengangkut motor melintasi jalan yang terendam air sepanjang 1 kilometer.

Hingga kini, hujan masih sering terjadi di Sulawesi Selatan. Air yang tertampung di Bendungan Bili-bili belum juga surut dan status waspada masih berlaku. Curah hujan yang tinggi di Pegunungan Bawakaraeng yang akhirnya berdampak ke sejumlah tempat.

Pada 26 Maret 2004, bencana besar juga sempat menerjang Kabupaten Gowa. Terjadi longsor besar di Pegunungan Bawakaraeng yang mengakibatkan 32 orang korban jiwa. Tapi saat itu, Bendungan Bili-bili masih mampu menahan curah air sehingga tak sampai melepaskan air dalam jumlah besar. (cnn)

Facebook Comments