Beranda Bandar Lampung

Diduga Difteri, Balita Asal Lamteng Dirawat di Ruang Isolasi RSUD Abdul Moeloek

67
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Petugas saat menunjukkan NA yang sedang dirawat di ruang isolasi flu burung RSUDAM dari layar monitor CCTV. Foto: Farhan/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandarlampung – Penyebaran penyakit difteri sangat perlu diwaspadai masyarakat. Pasalnya, seorang balita berusia tiga tahun, NA, asal Terbanggi Ilir, Bandar Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, telah dirawat sejak Sabtu (9/2/2019) lalu di ruang isolasi flu burung RSUD Abdul Moeloek, lantaran diduga mengidap penyakti difteri.

Ibunda NA, Maryatun (52), mengatakan, sejak seminggu yang lalu anaknya mengalami demam, badan lesu, pusing, dan tak mau makan.

“Awalnya dikira demam biasa, jadi nggak terlalu diperhatikan. Senin dan Selasa kemarin belum dibawa berobat karena memang masih repot juga. Hari Rabu, karena masih belum sehat, baru dibawa ke dokter, sudah dikasih obat dan sebagainya,” kata Maryatun kepada Kupastuntas.co, Senin (11/2/2019).

Ia menjelaskan, pada Jumat (8/2/2019) sore sekitar pukul 17.00 WIB, ketika bangun tidur, anaknya mengalami sesak nafas. Ia pun panik, tetapi pada Jumat malam itu sedang hujan deras, sehingga baru pada Sabtu pagi anaknya dibawa ke Medical Center.

“Di sana langsung masuk UGD langsung dikasih oksigen, tapi masih nggak ada perbedaan. Begitu setelah dikasih obat, baru kelihatan di mulutnya putih-putih gitu, sebelumnya cuma kelihatan merah aja. Dokternya juga kaget, katanya difteri, langsung disuruh bawa ke Bandar Lampung,” ujarnya.

Sebelum dibawa ke RSUDAM, lanjut Maryatun, anaknya sempat dibawa ke RS Urip Sumoharjo, namun kembali disarankan agar membawa ke RSUDAM yang memiliki fasilitas ruang isolasi.

“Alhamdulillah di sini (RSUDAM) ditangani dengan baik, sekarang sudah mendingan, sudah bisa nangis, kemarin anaknya lemas banget, sampai disuntik pasang infus segala itu udah nggak nangis lagi,” terangnya.

Diketahui, difteri adalah infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium. Gejalanya berupa sakit tenggorokan, demam, dan terbentuknya lapisan di amandel dan tenggorokan. Dalam kasus yang parah, infeksi bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf.

Beberapa pasien juga mengalami infeksi kulit. Bakteri penyebab penyakit ini menghasilkan racun yang berbahaya jika menyebar ke bagian tubuh lain.

Pengawas ruang isolasi RSUDAM, Ali Hanani, menyebutkan bahwa pihaknya menempatkan pasien di ruang isolasi karena dikhawatirkan bakteri penyebab difteri akan menular ke pasien lain.

“Sudah kita beri tindakan medis. Sampel selaput di mulutnya sudah kita ambil dan sudah dikirim ke Jakarta untuk uji lab. Yang menentukan positif atau negatif difteri, nantinya dari sana. Mungkin seminggu lagi hasilnya keluar,” kata dia. (Farhan)

Facebook Comments