Beranda Bandar Lampung

Kejati Lampung Telusuri Aset Alay Tripanca untuk Mengembalikan Uang Pengganti Rp106 miliar

111
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Sugiarto Wiharjo alias Alay sedang mengukur tinggi badan ketika berada di ruang registrasi Lapas Kelas 1A Rajabasa. Foto: Kardo/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandarlampung – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung mulai menelusuri aset-aset milik SugiartoWiharjo alias Alay Tripanca. Pelacakan aset dilakukan untuk mengembalikan uang pengganti terhadap negara.

Kepala Kejati Lampung, Susilo Yustinus melalui Asisten Pidana Khusus (Aspidsus), Andi Suharlis menjelaskan, hingga kini belum ada upaya terpidana Sugiarto Wiharjo untuk mengembalikan uang pengganti sebagaimana yang tercantum dalam putusan. Nominal uang pengganti yang diwajibkan untuk dibayarkan senilai Rp106 miliar.

“Nominal itu berdasarkan putusan Mahkamah Agung. Saat itu Alay dan Satono menggerogoti kas daerah sebanyak itu,” terangnya di Kantor Kejati Lampung, Senin (11/2/2019).

Dia menjelaskan, pengembalian uang kepada negara sebagai upaya pemulihan keuangan negara yang merupakan kewajiban bagi terpidana. Jika hal itu ditanggungjawabi, maka hak terpidana akan diberikan.

“Sebetulnya kalau aset dia cukup untuk mengganti kerugian itu, subsider penjara dia akan lunas. Jika dari aset-aset itu nilainya lebih dari Rp 106 miliar, maka akan kita pulangkan. Ini berkaitan dengan hak terpidana mengenai subsider yang ada di dalam putusan,” terangnya.

Mantan penyidik KPK ini menambahkan, akan mencari tahu rekam jejak keluarga serta orang-orang terdekat Sugiarto Wiharjo. Karena dikhawatirkan ada upaya penyembunyian harta kekayaan Alay, agar tidak disita oleh aparat penegak hukum.

“Apabila ada masyarakat atau pihak yang dulu dititipkan aset Sugiarto supaya bisa melaporkan ke kami. Karena itu tujuannya untuk memulihkan aset negara,” imbaunya.

Aset keluarga dan orang terdekat Alay akan ditelusuri, terutama mereka yang tiba-tiba memiliki sejumlah kekayaan tidak lazim. Menurutnya, hal itu bisa jadi acuan dan patut diduga ada kaitan kasus Alay.

“Kami akan men-trace aset baik atas nama terpidana maupun atas nama orang lain. Itu semua akan kita cari,” timpalnya. Ia membeberkan, penyitaan aset terpidana mengacu pada UU No 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Kalau tidak cukup uang pengganti berasal dari terpidana, maka akan dilanjutkan penyitaan aset kepada ahli warisnya dan seterusnya. Ini merupakan bukti dari semangat pemiskinan koruptur,” tandasnya. (Ricardo)

Facebook Comments